WNA Jepang yang Dideportasi Ternyata Juga Pakai Alamat Fiktif

ADVERTISEMENT

WNA Jepang yang Dideportasi Ternyata Juga Pakai Alamat Fiktif

Jih - detikNews
Jumat, 07 Okt 2022 14:16 WIB
Ilustrasi Bandara
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Seorang warga negara (WN) Jepang bernama Naoki Sato dipulangkan ke negara asalnya. Ia dideportasi dari Indonesia karena terbukti melakukan pelanggaran aturan.

Selain itu, Naoki, yang menjabat President Director PT Pasifik Utama Line (PUL), juga berbohong dengan memalsukan alamat tempat tinggal.

Diketahui, sebelumnya Naoki berbohong menggunakan alamat fiktif tinggal di Jakarta Selatan. Namun ternyata ia berbohong lagi dengan menggunakan alamat fiktif di Jakarta Utara.

Hal tersebut diketahui dari pernyataan Gilbert Raymond selaku ketua RT yang jadi tempat alamat fiktif Naoki Sato di Jakarta Utara.

"Saya tidak pernah mengeluarkan surat pengantar untuk pembuatan surat keterangan domisili (SKD) atas nama Naoki Sato," kata Gilbert Raymond dalam keterangan tertulis.

Raymond menerangkan pihaknya hanya mengeluarkan surat pengantar untuk pembuatan surat keterangan usaha atas nama Naoki Sato, bukan surat pengantar pembuatan izin tinggal.

"Jadi kami memang tidak mengeluarkan surat pengantar untuk pembuatan kartu izin tinggal terbatas (Kitas) kepada Naoki Sato," terangnya.

Menurut Raymond, orang yang mengajukan permohonan Kitas seharusnya memiliki dokumen berupa kartu keluarga (KK).

"Atau paling tidak, dia tinggal selama 3 tahun berturut-turut di tempat yang sama atau dia menikahi secara sah dengan warga negara Indonesia (WNI)," paparnya.

Selain itu, Raymond mengaku tidak pernah melihat Naoki Sato berada di wilayah RT yang dipimpinnya. "Kalau dia berdomisili di sini, seharusnya dia tampak ada seputar sini. Ini yang menjadi bukti kuat kalau dia memang tidak berdomisili disini, " tegasnya.

Di sisi lain, ternyata berkas Kitas Naoki Sato tidak ditemukan di kantor Imigrasi Kelas I Jakarta Utara.

"Setelah kami cek, tidak ada nama Naoki Sato," tegas seorang petugas yang enggan disebutkan namanya.

Selanjutnya, dicek juga berkas Kitas Naoki Sato di kantor Imigrasi Kelas I yang berlokasi di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sayangnya, petugas Imigrasi Tanjung Priok menolak memberikan data personal dengan alasan demi menjaga privasi.

"Kita hanya bisa memberikan data global, misalnya, mengenai jumlah seluruh WNA yang keluar-masuk Indonesia atau jumlah seluruh WNA yang telah mengurus Kitas," kata Wawan, petugas Imigrasi Tanjung Priok.

Sebelumnya dikabarkan Naoki Sato, yang merupakan warga negara Jepang, telah dipulangkan ke negara asal karena melakukan pelanggaran. Pertama, dia mengajukan permohonan Kitas ke pihak Imigrasi dengan memakai alamat fiktif. Kedua, Naoki Sato melakukan pelanggaran dengan rangkap jabatan, yaitu jabatan sebagai general manager di PT Anugerah Samudera Madanindo, dan jabatan President Director PT Pasifik Utama Line. Padahal, sesuai undang-undang yang berlaku, tidak dibenarkan seorang WNA merangkap jabatan.

Naoki Sato juga bekerja di PT Anugerah Samudera Madanindo dengan direktur utamanya Faris Muhammad Abdurrahim dan komisarisnya Arlin bin Rianto. Perusahaan tersebut beberapa waktu yang lalu bermasalah karena lalai terkait dengan keselamatan, sehingga mengakibatkan kapal KM Keyla 1 tenggelam di perairan Batang, Jawa Tengah.

Sosok Arlin bin Rianto, yang merupakan Komisaris PT Anugerah Samudera Madanindo, juga sempat bermasalah. Pada 2019, ia melakukan 'aksi koboi' dengan membuang-buang tembakan di depan umum di Grand Pesona Resto & Night Clubs, Malang, Jawa Timur. Dugaan awal masalahnya adalah ia memaksa ingin berkencan dengan pemandu lagu, tapi pemandu lagu menolak. Sampai saat ini belum jelas apakah senjata api miliknya disita atau tidak oleh pihak kepolisian.

(ads/ads)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT