Indikator: Responden Nilai Subsidi BBM Tak Tepat Sasaran tapi Tetap Mau

ADVERTISEMENT

Indikator: Responden Nilai Subsidi BBM Tak Tepat Sasaran tapi Tetap Mau

Yulida Medistiara - detikNews
Kamis, 06 Okt 2022 17:40 WIB
Burhanuddin Muhtadi
Burhanuddin Muhtadi (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Sebanyak 66,6 persen responden survei lembaga survei Indikator Politik Indonesia menilai subsidi BBM tidak tepat sasaran. Namun Indikator politik menilai adanya inkonsistensi karena responden yang menyatakan BBM tidak tepat sasaran tetap menginginkan mendapat subsidi.

Survei tersebut dilakukan pada 13-20 September 2022 dengan mewawancarai 1.220 responden secara tatap muka. Metode penarikan sampel menggunakan metode multistage random sampling. Sampel disebut berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional. Dengan asumsi metode simple random sampling, margin of error (MoE) survei sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Responden diberi pertanyaan yang berbunyi: 'Ada yang berpendapat bahwa subsidi BBM tidak tepat sasaran karena lebih banyak dinikmati oleh orang mampu, yang mampu membeli kendaraan bermotor. Seberapa setuju Ibu/Bapak dengan pendapat tersebut?... (%)'. Sebanyak 66,6 persen responden menilai setuju subsidi BBM tidak tepat sasaran dan sebanyak 27,8 persen responden menilai tidak setuju dengan pendapat tersebut.

Hasil surveinya:
1. Sangat setuju 9,5%
2. Setuju: 57,1%
3. Kurang setuju: 19,7%
4. Tidak setuju sama sekali: 8,1%
5. Tidak jawab/tidak tahu: 5,6%

"Ini pernyataan yang menyatakan setuju atau tidak setuju subsidi BBM selama ini tidak tepat sasaran karena lebih banyak dinikmati oleh orang mampu. Nah, masyarakat ini tidak konsisten mereka setuju dengan pendapat ini, tetapi mereka tetap mau dapat subsidi," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi di YouTubenya, Kamis (6/10/2022).

Sementara itu, kelompok yang menilai subsidi tidak tepat sasaran di semua status pekerjaan kepemilikan NPWP yaitu kelompok karyawan, usaha sendiri atau wiraswasta, karyawan dan usaha sendiri, hingga yang belum bekerja. Tetapi persetujuan bahwa subsidi tidak tepat sasaran terjadi di semua kelompok kecuali pemilik NPWP yang tidak membayar pajak.

Sementara itu, responden juga diberi pertanyaan: 'di antara dua cara pemberian subsidi kepada masyarakat berikut, mana yang lebih sesuai dengan pendapat Ibu/Bapak sendiri?... (%). Hasilnya, 60,4 persen responden memilih subsidi dalam bentuk harga barang, sehingga lebih terjangkau dan bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat.

Sedangkan 34,9 persen responden memilih subsidi tunai langsung yang diberikan hanya kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan. Sementara itu, 4,7 persen responden menjawab tidak tahu atau tidak jawab.

Lebih lanjut, responden juga diberi pertanyaan: 'seberapa setuju Ibu/Bapak dengan kebijakan pemerintah tersebut (kenaikan harga BBM bersubsidi)?... (%)'.

Hasilnya:
1. Sangat setuju 1,2%
2. Setuju: 10,5%
3. Kurang setuju: 32%
4. Tidak setuju sama sekali: 55,6%
5. Tidak jawab/tidak tahu: 0,7%

Sementara itu, 31,2 persen responden berpendapat, karena harga bahan bakar dunia mengalami peningkatan, untuk mengurangi beban APBN, sebaiknya harga bahan bakar juga dinaikkan.

Sementara itu, 58 persen responden memilih, meski harga bahan bakar dunia saat ini mengalami peningkatan, pemerintah harus berupaya agar harga bahan bakar tidak dinaikkan, termasuk jika harus menambah utang.

(yld/gbr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT