ADVERTISEMENT

Terima Kunjungan Parlemen Rusia, Ketua MPR Harap Konflik Berakhir

Sukma Nur Fitriana - detikNews
Kamis, 06 Okt 2022 17:09 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soeatyo bertemu dengan Ketua Dewan Federasi Majelis Federal  Federasi Rusia Valentina Matviyenko di Gedung MPR, Kamis (6/10/2022).
Foto: dok. MPR RI
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengapresiasi langkah Rusia yang bersedia membuka dialog perundingan dengan Ukraina. Menurutnya ini hal yang baik, sehingga konflik segera bisa dihentikan dan membawa kebaikan untuk warga Rusia, Ukraina, bahkan seluruh dunia.

Ia juga menegaskan sebagai pihak yang memegang prinsip luar negeri Bebas dan Aktif, Pemerintah Indonesia tidak pernah memihak kepada pihak yang sedang bertikai, melainkan berpihak pada perdamaian. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia selalu menyerukan agar kedua negara sahabat tersebut bisa segera berdamai.

"Sebagaimana disampaikan Ketua Dewan Federasi Majelis Federal Federasi Rusia Valentina Matviyenko, posisi Indonesia bagi Rusia sangat penting. Indonesia dinilai sebagai mitra kunci bagi Rusia di kawasan Asia Pasifik. Rusia juga menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Sebagai sahabat, Indonesia berharap agar konflik militer Rusia-Ukraina bisa segera berakhir, dan dunia bisa kembali pulih," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Kamis (6/10/2022).

Hal tersebut ia sampaikan seusai menerima kunjungan Ketua Dewan Federasi Majelis Federal Federasi Rusia Valentina Matviyenko di Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta.

Bamsoet menjelaskan kedekatan Indonesia dengan Rusia sudah terjalin sejak tahun 1956. Di mana pada saat itu Rusia yang masih menjadi Uni Soviet mendukung gagasan Presiden Soekarno dalam konferensi CONEFO (Conference of the New Emerging Forces). Diketahui pada saat itu, Gedung Nusantara di Komplek MPR/DPR/DPD RI juga dibangun atas gagasan Presiden Soekarno untuk menyelenggarakan konferensi tersebut.

"Keberadaan komplek Stadion Gelora Bung Karno (GBK) juga tidak lepas dari peran Presiden Uni Soviet Nikita Khrushchev yang mengirimkan para insinyur dan teknisi dari Uni Soviet untuk membantu merancang dan membangun Stadion GBK. Tidak heran jika di Rusia juga terdapat stadion yang menyerupai GBK, yakni Stadion Stadion Luzhniki yang terletak di Luzhniki, Moskwa," jelas Bamsoet.

"Karena itu, sebagai sahabat baik, Indonesia selalu berharap Rusia bisa segera menyelesaikan konflik militer dengan Ukraina secepat mungkin. Sehingga kita bisa bersama-sama membantu pemulihan dunia yang masih menghadapi resesi pasca pandemi COVID-19," imbuhnya.

Ia juga mengatakan Rusia telah menawarkan kepada Indonesia untuk membeli minyak mentah dari pihaknya dengan harga yang jauh lebih murah dibanding harga pasar. Namun sebagaimana telah disampaikan Presiden Joko Widodo, Indonesia selalu memantau berbagai opsi yang ada.

"Bagi Indonesia, Rusia merupakan pasar potensial sekaligus mitra dagang utama. Indonesia dan Rusia telah menargetkan agar nilai perdagangan kedua negara bisa mencapai USD 5 miliar dengan peningkatan Status Kemitraan Strategis. Beberapa komoditas Indonesia yang potensial untuk diekspor ke Rusia antara lain kopi, teh, rempah rempah, dan buah-buahan tropis," jelas Bamsoet.

"Komoditas minyak sawit (CPO) mendominasi struktur ekspor Indonesia ke Rusia sebesar 33 persen dalam 5 tahun terakhir. Market share kelapa sawit Indonesia di Rusia mencapai 93 persen dari total impor sawit Rusia pada tahun 2020 atau 863 ribu ton dengan nilai USD 656 juta," pungkas Bamsoet.

Sebagai informasi turut hadir pada pertemuan tersebut yaitu, para pimpinan MPR RI, Ahmad Basarah, Ahmad Muzani, dan Fadel Muhammad. Hadir pula Wakil Ketua Dewan Federasi Majelis Federal Federasi Rusia H.E. Mr. Konstantin Kosachev, Wakil Ketua Duma Negara Majelis Federal Federasi Rusia Petr Tolstoy, Senator Lilia Gumerova, dan Senator Vladimir Dzhabarov.

(prf/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT