Kongres Advokat Indonesia Harap Polri Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan

ADVERTISEMENT

Kongres Advokat Indonesia Harap Polri Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan

Fajar Pratama - detikNews
Selasa, 04 Okt 2022 16:08 WIB
Pengacara Bripka Ricky Rizal, Erman Umar (Fajar Pratama/detikcom)
Presiden Kongres Advokat Indonesia, Erman Umar (Fajar Pratama/detikcom)
Jakarta -

Presiden Kongres Advokat Indonesia (KAI) Erman Umar mengatakan Polri harus mengusut tuntas tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 125 orang. Erman menyebut setiap penyelenggara pertandingan sepakbola di Indonesia harus patuh terhadap aturan yang berlaku.

"Bukan saja tunduk terhadap statuta FIFA sebagai induk organisasi sepakbola dunia, tetapi juga harus seiring dengan mematuhi standar keamanan, ketertiban dan penegakan hukumnya," kata Erman Umar kepada wartawan, Selasa (4/10/2022).

Erman menilai saat ini bukan waktunya saling menyalahkan. Dia menilai semua pihak harus bersabar dan menunggu proses pengusutan tragedi ini. Dia juga berharap pihak yang bersalah segera dijatuhi hukuman.

"Hal ini untuk memberi pelajaran agar semua pihak ke depan lebih berhati-hati dan bekerja lebih profesional," ujarnya.

Erman mengatakan DPP KAI siap menyediakan advokat untuk membantu penyelesaian maupun penegakan hukum jika ada para pihak dalam kasus tragedi di Stadion Kanjuruhan yang membutuhkannya.

"Sebagai organisasi advokat yang peduli terhadap masyarakatnya, KAI dalam hal ini memberikan bantuan dan pikiran hukum yang dibutuhkan masyarakat," ujarnya.

Dia juga meminta polisi mengusut dugaan penonton melebihi kapasitas. Dia menyebut ada dugaan kapasitas stadion tersebut 38.000 orang, tapi penjualan tiket lebih dari jumlah itu.

"Tindak tegas jika pihak Kepolisian sudah mengantongi para suporter.yang di duga sebagai perusuh dan provokator. Jangan sampai masalahnya berlarut-larut. Belajar dari kasus di Kanjuruhan Malang, DPP KAI berharap di masa depan kasus serupa tidak pernah akan terulang lagi sehingga masyarakat dapat menikmati pertandingan sepakbola dengan nyaman dan kondusif," tuturnya.

Tragedi Kanjuruhan ini terjadi usai laga Arema FC vs Persebaya di Malang, Sabtu (1/10) malam. Sejumlah suporter yang diduga kecewa karena Arema kalah masuk ke lapangan.

Jumlah penonton yang masuk ke lapangan terus bertambah. Kericuhan kemudian pecah. Polisi dan TNI yang bertugas melakukan pengamanan memukul mundur massa.

Polisi juga melepaskan gas air mata untuk membubarkan massa. Setelah itu, para penonton berlarian dan diduga kekurangan oksigen akibat berdesakan.

Simak Video 'TGIPF Bakal Usut Jaringan Bisnis di Tragedi Kanjuruhan':

[Gambas:Video 20detik]



(haf/fjp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT