Sampaikan Duka, Syarief Hasan Minta Tragedi Kanjuruhan Diusut Tuntas

ADVERTISEMENT

Sampaikan Duka, Syarief Hasan Minta Tragedi Kanjuruhan Diusut Tuntas

Yudistira Imandiar - detikNews
Senin, 03 Okt 2022 21:52 WIB
Syarief Hasan
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Syarief Hasan menyampaikan duka mendalam atas tragedi Kanjuruhan. Syarief menyebut tragedi yang merenggut ratusan nyawa itu menjadi peristiwa perkabungan nasional.

"Saya menyampaikan belasungkawa mendalam atas tragedi ini. Tidak ada pertandingan yang seharga nyawa. Sejatinya olahraga adalah sarana untuk mempersatukan bangsa, bukan justru menjadi arena yang memakan korban jiwa. Semua duka dan empati ditujukan untuk korban dan keluarganya. Semoga ini menjadi peristiwa yang terakhir, tidak akan pernah lagi olahraga yang merenggut nyawa," kata Syarief dalam keterangannya, Senin (3/10/2022).

Menteri Koperasi dan UKM di era Presiden SBY ini menegaskan perlu evaluasi menyeluruh untuk mengetahui penyebab terjadinya kisah pilu yang merenggut banyak nyawa. Ia menyatakan harus ada pihak yang bertanggung jawab mengapa akhir pertandingan Arema versus Persebaya itu menjadi begitu tragis.

"Mitigasi risiko, terutama penggunaan gas air mata dan waktu pelaksanaan pertandingan harus diurai dan diinvestigasi secara tuntas. Apakah penggunaan gas air mata ini telah sesuai dengan regulasi olahraga yang diakui secara internasional? Apakah penanganan kejadian oleh aparat telah memperhitungkan dampak lanjutan yang ternyata mematikan? Apakah juga panitia pelaksana dan otoritas sepakbola nasional telah menjalankan tugasnya dengan baik? Inilah sederet pertanyaan yang perlu dijelaskan dengan lugas dan terang," papar Syarief.

Syarief mengulas sepengetahuannya penggunaan gas air mata adalah untuk membubarkan kerumunan massa di tempat yang lapang dan ruang udara yang tersirkulasi dengan baik. Hal ini lazim dilakukan oleh aparat ketika membubarkan demonstrasi atau kerusuhan sosial di tempat terbuka. Ia mempertanyakan penggunaan gas air mata untuk kerumunan massa di stadion dengan ruang yang sempit dan berdesakan.

"Saya sebenarnya sangatlah heran dengan langkah mitigasi yang menggunakan gas air mata ini. Kita sejatinya memahami bahwa langkah ini sangatlah berlebihan dan berisiko. Namun demikian, tentu kita menunggu jawaban yang lugas, terang, dan masuk akal atas penggunaan langkah ini. Jika ternyata pengambil kebijakan tidak mampu menjelaskannya, maka harus ada yang bertanggung jawab. Siapa yang memberi perintah dan melakukan tindakan berisiko ini haruslah mendapatkan sanksi dan hukuman yang setimpal," ujar Syarief.

(akd/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT