ADVERTISEMENT

Biro Chusus, Badan Intelijen Militer PKI Perencana G30S

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Jumat, 30 Sep 2022 08:32 WIB
Zentralbild Ulmer 12.7.1958. V. Parteitag der SED vom 10. bis 16.7.1958 in der Werner-Seelenbinder-Halle, Berlin, 3. Tag: UBz: Eine beeindruckende Solidarittsbekundung des Parteitages fr die konsequent- und erfolgreich fr die volle Gewhrleistung der Unabhngigkeit ihres Landes kmpfenden Kommunisten Indonesien erlebte die Werner-Seelenbinder-Halle whrend der Grussansprache des Generalsekretrs der KP Indonesiens, D. N. Aidit.
Foto: DN Aidit tahun 1958 (Bundesarchiv/Ulmer, Rudi via Wikimedia Commons)
Jakarta -

Gerakan 30 September 1965 terjadi tak terlepas dari kerja-kerja intelijen dari lembaga Biro Chusus PKI. Biro Chusus juga sempat menyelamatkan DN Aidit dari tudingan rencana kudeta.

Dikutip 'Sjam Lelaki dengan Lima Alias' yang ditulis oleh Tim Majalah Tempo pada Desember 1964, Wakil Perdana Menteri III Chairul Saleh bertikai hebat dengan Menteri Negara Dipa Nusantara Aidit dalam sebuah rapat kabinet. Saat itu, Chairul, tokoh Partai Murba yang antikomunis, menyodorkan segepok dokumen dan menuding Ketua Partai Komunis Indonesia diam-diam merencanakan kudeta.

Aidit membantah. Bisa terjadi baku pukul andai Presiden Soekarno tak melerai.

"Semua yang dibicarakan di sini tak boleh sampai keluar," kata Soekarno keras. Sebuah tim investigasi militer lalu diberi mandat memeriksa kesahihan tudingan Chairul.

Tak banyak yang tahu bahwa lolosnya Aidit dari tudingan Chairul menjelang peralihan kekuasaan 1965 itu berkat campur tangan sebuah lembaga klandestin bentukan PKI bernama Biro Chusus.

Cikal-bakal Biro Chusus adalah badan militer dari Departemen Organisasi PKI. John Roosa, sejarawan dari Universitas British Colombia, Kanada, menjelaskan bahwa sayap militer partai ini sudah berfungsi sejak 1950-an.

"Bagian militer ini tumbuh secara alamiah," katanya.

Menurut Roosa, pada tahun-tahun pertama Republik Indonesia, banyak pemuda anggota laskar pejuang yang diterima menjadi tentara reguler. Beberapa di antara mereka bersimpati pada gerakan kiri.

"Ketika perang berakhir, PKI tidak mau kehilangan kontak dengan para simpatisan ini," kata Roosa, mengutip sumbernya, seorang tokoh sentral PKI 1960-an. Untuk menjaga jaringan partai di militer itulah Aidit lalu membentuk badan khusus ini. Pemimpin pertamanya adalah Karto alias Hadi Bengkring, anggota senior PKI.

"Biro Chusus bertugas mengurusi, memelihara, dan merekrut anggota partai di tubuh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia secara ilegal," kata Iskandar Subekti, panitera Politbiro PKI, dalam catatannya atas peristiwa 30 September 1965.

Pada masa itu, apa yang dilakukan PKI bukanlah sesuatu yang aneh. Sejumlah partai lain juga punya organ khusus untuk memelihara kontak mereka dengan tentara. Partai Sosialis Indonesia salah satunya.

Pada 1964, setelah kematian Karto, Aidit menunjuk sahabatnya, Sjam Kamaruzaman, menjadi kepala unit ini. Sejak itulah sejumlah perubahan besar terjadi. Penetrasi PKI ke dalam tubuh militer dilakukan secara lebih sistematis. Kerahasiaan unit ini pun dijaga makin ketat.

Nantinya, Sjam menjadi sosok sentral yang merencanakan penculikan terhadap para jenderal TNI AD. Biro Chusus menjadi lembaga yang menghubungkan militer dan PKI dalam operasi gerakan 30 September 1965.

Simak juga 'Lukas Tumiso, Eks Tapol Penyintas Pulau Buru':

[Gambas:Video 20detik]



(rdp/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT