KPK Geledah 4 Lokasi di Jawa Tengah Buntut OTT Mahkamah Agung

ADVERTISEMENT

KPK Geledah 4 Lokasi di Jawa Tengah Buntut OTT Mahkamah Agung

Muhammad Hanafi Aryan - detikNews
Rabu, 28 Sep 2022 17:38 WIB
Film dokumenter KPK Endgame ditonton oleh pegawai tak lolow TWK.
Gedung KPK (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

KPK menggeledah empat lokasi di Jawa Tengah. Penggeledahan itu terkait kasus korupsi pengurusan perkara di Mahkamah Agung (MA) yang menjerat Hakim Agung Sudrajad Dimyati.

Kabag Pemberitaan KPK Ali Fikri menyebut penggeledahan itu dilakukan pada Selasa (27/9). Adapun penggeledahan itu menyisir sejumlah tempat di kota Semarang, Salatiga, dan Yogyakarta.

"Tim penyidik KPK telah selesai melakukan penggeledahan di empat lokasi berbeda di Semarang, Salatiga, dan Yogyakarta," kata Kabag Pemberitaan KPK Ali Fikri kepada wartawan, Rabu (28/9/2022).

Ali menyebut upaya penggeledahan itu dilakukan di sejumlah tempat, seperti rumah dan kantor, para tersangka. Dia mengatakan tempat tersebut diduga berkaitan dengan tindak perkara yang tengah diusut KPK.

"Tempat yang dilakukan penggeledahan dimaksud antara lain rumah dan kantor tersangka dan pihak terkait perkara," tutur Ali.

Adapun dalam penggeledahan itu, lanjut Ali, penyidik KPK menemukan sejumlah data dan dokumen yang diduga berkaitan dengan pengurusan perkara di MA. Ali menyebut salah satu dokumen itu berisi transaksi uang.

"Dari hasil penggeledahan dimaksud tim penyidik KPK menemukan data dan dokumen pengeluaran uang, dokumen terkait perkara, dan barang bukti elektronik," jelasnya.

Ali menyebut KPK bakal melakukan penyitaan terhadap barang temuan tersebut. Nantinya alat bukti itu bakal dianalisis guna dijadikan sebagai barang bukti.

"Tim penyidik segera analisis dan melakukan penyitaan hasil penggeledahan sebagai barang bukti dalam perkara dimaksud," pungkas Ali.

Sebelumnya, Ketua KPK Firli Bahuri melakukan OTT di Mahkamah Agung dan di Semarang. Dari OTT tersebut, KPK kemudian menetapkan 10 orang menjadi tersangka dalam kasus dugaan suap terkait pengurusan perkara. Salah satu tersangka ialah Hakim Agung Sudrajad Dimyati.

"Terkait sumber dana yang diberikan YP dan ES kepada majelis hakim berasal dari HT dan IDKS. Jumlah uang yang kemudian diserahkan secara tunai oleh YP dan ES pada DY sekitar SGD 202 ribu (ekuivalen Rp 2,2 miliar) yang kemudian oleh DY dibagi lagi dengan pembagian DY menerima sekitar sejumlah Rp 250 juta, MH menerima sekitar sejumlah Rp 850 juta, ETP menerima sekitar sejumlah Rp 100 juta dan SD menerima sekitar sejumlah Rp 800 juta yang penerimaannya melalui ETP," kata Firli.

Setidaknya ada 10 tersangka dalam kasus ini, baik dari internal maupun eksternal Mahkamah Agung. Berikut daftar 10 tersangka kasus ini:

Sebagai Penerima:

- Sudrajad Dimyati, hakim agung pada Mahkamah Agung
- Elly Tri Pangestu, hakim yustisial/panitera pengganti Mahkamah Agung
- Desy Yustria, PNS pada kepaniteraan Mahkamah Agung
- Muhajir Habibie, PNS pada kepaniteraan Mahkamah Agung
- Nurmanto Akmal, PNS Mahkamah Agung (Catatan: KPK awalnya menyebut tersangka berinisial RD, namun belakangan KPK menyampaikan klarifikasi)
- Albasri, PNS Mahkamah Agung

Sebagai Pemberi:

- Yosep Parera, pengacara
- Eko Suparno, pengacara
- Heryanto Tanaka, swasta/debitur Koperasi Simpan Pinjam ID (Intidana)
- Ivan Dwi Kusuma Sujanto, swasta/debitur Koperasi Simpan Pinjam ID (Intidana)

(mae/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT