Arkeolog Beberkan Gambaran Rumah di Zaman Majapahit

ADVERTISEMENT

Arkeolog Beberkan Gambaran Rumah di Zaman Majapahit

Enggran Eko Budianto - detikNews
Rabu, 28 Sep 2022 16:35 WIB
situs watesumpak
Situs Watesumpak dipercaya merupakan permukiman pada zaman Majapahit (Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Mojokerto -

Menurut beberapa ahli, Trowulan di Kabupaten Mojokerto merupakan sebuah kota besar pada zaman Majapahit. Permukiman penduduknya kala itu mempunyai ciri khas. Hunian rakyat biasa dan para pertapa tentu saja mempunyai corak yang berbeda dengan kaum bangsawan.

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim Vidi Susanto mengatakan permukiman zaman Majapahit mempunyai beberapa ciri khas. Salah satunya atap hunian menggunakan genting. Sudut-sudut atapnya berhiaskan ukel.

Oleh sebab itu, banyak temuan pecahan genting dan ukel di situs-situs permukiman peninggalan Majapahit. Seperti di Situs Watesumpak, permukiman Segaran, dan Grogol yang ditemukan di Kabupaten Mojokerto. Selain itu, gerabah yang digunakan mempunyai ciri khas.

Arkeolog Universitas Indonesia Profesor Agus Aris Munandar menjabarkan lebih rinci tentang ciri khas permukiman Majapahit melalui kajiannya berjudul 'Pakuwon pada Masa Majapahit: Kearifan Bangunan Hunian yang Beradaptasi dengan Lingkungan'. Menurutnya, Majapahit sebagai kota besar di Jatim eksis sampai pertengahan abad ke-16.

Kerajaan yang didirikan Raden Wijaya pada 1293 itu kemudian dikuasai kesultanan Demak pada 1419, yaitu berdasarkan laporan musafir Portugis Antonio Pigafetta tahun 1522, yang menyebutkan eksistensi Majapahit sebagai kota besar di Jawa bagian timur. Ditambah lagi dengan data dari Prasasti Pabanolan Pari yang dibuat di Majapahit pada 1541.

"Maka Majapahit sebagai permukiman besar bertahan sampai pertengahan abad 16. Tidak diketahui pasti penyebab ditinggalkan penduduknya hingga menjadi desa sepi, hutan, dan area pertanian yang sekarang dinamakan Trowulan," jelas Profesor Agus seperti dikutip detikJatim.

Untuk mengkaji permukiman zaman Majapahit, Profesor Agus menggunakan banyak sumber. Salah satunya relief-relief candi peninggalan Majapahit di Pusat Informasi Majapahit (PIM) di Trowulan, serta relief-relief di Candi Minakjinggo, Candi Surawana di Kediri, Candi Penataran di Blitar, dan Candi Jawi di Pasuruan.

"Konsep hunian Majapahit beda dengan masa setelahnya. Majapahit memakai dasar keagamaan Hindu dan Buddha. Masa setelahnya menggunakan konsepsi baru gabungan Hindu, Buddha, Islam, dan aturan tradisi," ujarnya.

Berdasarkan relief-relief candi tersebut, rumah kaum berkasta tinggi pada zaman Majapahit menggunakan konsep pakuwuan atau pakuwon. Yaitu berupa sekumpulan bangunan terbuka, setengah terbuka, dan bangunan berbilik yang dikelilingi pagar tembok. Pada salah satu sisi pagar terdapat pintu gerbang berupa gapura candi bentar atau gapura kembar seperti Candi Wringinlawang di Desa Jatipasar, Trowulan.

Baca selengkapnya di sini

Lihat juga video 'Arkeolog China Temukan Relik Langka di Situs Sanxingdui':

[Gambas:Video 20detik]



(idh/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT