Penggantian Ketua FPD Bertentangan dengan AD/ART
Jumat, 07 Jul 2006 20:28 WIB
Jakarta -
Pergantian Ketua Fraksi Partai Demokrat Soekartono Hadiwarsito di DPR cukup mengejutkan. Soekartono menilai pergantian tersebut bertentangan dengan AD/ART dan tata tertib anggota DPR."Kalau di aturan rumah tangga hasil Kongres Bali disebutkan pasal 55 ayat 2 menyebutkan, bahwa pimpinan fraksi dipilih oleh dan dari anggota fraksi, kemudian disahkan oleh dewan pimpinan sesuai tingkatannya. Demikian di tatib DPR RI juga ada yang mengatur mengenai fraksi ini, di pasal 16 tatib, itu di ayat 4," jelas Soekartono dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (7/7/2006).Karenanya dia meminta DPP PD meninjau kembali pengangkatan Syarif Hasan sebagai penggantinya. Pria asal Yogyakarta ini juga mengaku haknya dirampas."Beberapa kawan di fraksi juga merasa haknya dirampas, padahal kita berusaha mengedepankan demokrasi. Ada sekitar 20-an orang di fraksi yang merasa hanya dirampas," imbuh dia.Soekartono juga mengaku tidak pernah diajak berbicara oleh DPP. Bahkan selama ini kinerjanya tidak pernah di persoalkan. Dirinya baru mendapatkan kepastian saat Sekretaris Fraksi Sutan Bathoegana dan Syarif Hasan mendatanginya 2 hari lalu."Mereka (DPP) rapat Januari lalu. Saya tidak pernah diajak bicara. Malah dalam kurun waktu beberapa bulan lalu ketua umum masih tetapkan saya sebagai ketua fraksi. 2 Hari lalu Syarif Hasan dan Sutan mendatangi saya. Saya bilang ini menyalahi aturan, baik susduk dan aturan di demokrat," ungkap dia.Mengenai ketidakhadirannya pada acara serah terima jabatan pada hari ini, Soekartono mengaku sedang mengikuti rapat dengan Pansus RUU Pemerintahan Aceh (PA). Dan ketika SK pengangkatan dan pemberhentian dirinya dikeluarkan, dirinya sedang tidak berada di Indonesia. "Saya sedang berada di Rusia bersama Ketua DPR," tandas dia.Meski demikian, dia berharap DPP segera memberikan klarifikasi mengenai persoalan ini kepada dirinya. Soekartono juga tidak berharap menduduki kembali jabatan tersebut. "Apalah artinya sebuah jabatan. Buat saya itu amanah. Saya akan hadapi ini dengan proporsional dan tanpa emosi," demikian Soekartono.
(fjr/)










































