ADVERTISEMENT

Pro Kontra Panggilan 'Yang Mulia' Usai Hakim Agung Jadi Tersangka

Tim detikcom - detikNews
Senin, 26 Sep 2022 20:05 WIB
Ilustrasi Palu Hakim
Ilustrasi (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Penetapan tersangka suap kepada Hakim Agung Sudrajat Dimyati berbuntut panjang. Kini, panggilan 'Yang Mulia' bagi Hakim Agung pun disorot dan menuai pro-kontra.

Sorotan atas panggilan 'Yang Mulia' untuk para hakim di Mahkamah Agung awalnya datang dari mantan Ketua Mahkamah Agung (MA) Harifin Tumpa. Dia mengaku prihatin atas kasus yang menjerat Hakim Agung Sudrajad Dimyati.

Berkaca dari kasus tersebut, dia pun meminta masyarakat berhenti memanggil para hakim agung 'Yang Mulia'.

"Betul (setop panggilan yang mulia). Dari dulu saya memang tidak setuju panggilan itu," kata Harifin Tumpa saat berbincang dengan detikcom, Senin (26/9/2022).

Harifin Tumpa sudah mengingatkan agar panggilan yang mulia itu disetop sejak Juni 2020. Ada kegelisahan yang mendalam mengapa Harifin Tumpa menolak hakim dipanggil yang mulia.

Dia pun menolaknya. Namun belakangan panggilan yang mulia kerap digunakan, bahkan dibuat aturan tertulis agar siapa pun memanggil yang mulia. Bahkan, di luar sidang pun dipanggil yang mulia.

"Hakim itu hanya manusia biasa. Hanya ia diberi amanah," ucap Harifin Tumpa, yang menjabat sebagai Ketua MA 2009-2012.

Kegelisahan itu pun terbukti dengan ditahannya Hakim Agung Sudrajad Dimyati oleh KPK atas dugaan korupsi suap. Hakim agung yang menjadi penjaga final keadilan harus berurusan dengan lembaga antikorupsi itu. Padahal putusan hakim agung final dan mengikat serta tidak bisa diubah lagi.

"Kami semua korps hakim turut merasa tercemar dengan ulah segelintir manusia yang masuk korps hakim agung. Mudah-mudahan ini yang pertama dan terakhir," kata Harifin Tumpa.

Alasan Panggilan 'Yang Mulia' Harus Dihentikan

Mantan Ketua Mahkamah Agung (MA) Harifin Tumpa dan para mantan hakim agung lainnya pun membeberkan alasannya. Permintaan ini ditulis dalam sepucuk surat oleh Kerukunan Keluarga Purnabakti Hakim Agung (KKPHA) dan Persatuan Hakim Indonesia (Perpahi). Surat itu telah dikirim kepada Ketua MA Syarifuddin.

"Kami memohon maaf bahwa usulan atau kesimpulan kami ini tidak bersifat mutlak. Hanya sebagai keprihatinan kami sebagai para pensiunan atas adanya pendapat masyarakat yang bersifat sindiran yang dikaitkan dengan sebutan/sapaan 'Yang Mulia' kepada para hakim, tetapi di dalam kenyataannya masih banyak hakim yang dalam memeriksa dan memutus perkara belum mencerminkan sikap 'Yang Mulia," ujar Harifin kepada wartawan, Kamis (25/6/2020).

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Simak juga Video: Suap Penanganan Perkara di MA Bikin Sudrajat Dimyati Berompi Oranye

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT