ADVERTISEMENT

Kolom Hikmah

Seimbang

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 23 Sep 2022 08:03 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Umar bin Khattab berkata, " Jika aku tidur di siang hari, pasti aku mengabaikan rakyatku. Jika aku tidur di malam hari, aku telah mengabaikan diriku sendiri. Bagaimana aku bisa tidur dengan kondisi demikian wahai Mu'awiyah?"

Hal yang mendasar dalam diri seseorang adalah perasaan yang ada dalam hati. Perasaan ini bisa bergejolak dalam kebimbangan, namun semua itu bisa dikembalikan pada ketenangan dengan keseimbangan. Bagaimana kita bisa mengendalikan akal dan emosi dalam keseimbangan yang menuju kehidupan yang tenang. Penulis akan mengupas tentang akal. Ajaran Islam menghargai akal manusia dan meletakkan pada tempat terhormat dan menjadikan salah satu alat untuk mengetahui Tuhan.

Firman Allah Swt. pada surah an-Nahl ayat 12 tentang akal yang berbunyi, " Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal."

Akal ini merupakan karunia-Nya bagi kehidupan manusia, namun akal hendaklah dalam bimbingan Al-Qur'an dan sunah Rasulullah Saw. Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, "Akal tidaklah bisa berdiri sendiri, akal baru bisa berfungsi jika dia memiliki naluri dan kekuatan sebagaimana mata bisa berfungsi jika ada cahaya. Apabila akal mendapatkan cahaya iman dan Al-Qur'an barulah akal bisa seperti mata yang mendapatkan cahaya matahari. Jika tanpa cahaya tersebut, akal tidak akan bisa melihat atau mengetahui sesuatu."

Akal merupakan sarana untuk memahami kebenaran. Tidak sedikit ayat-ayat dalam Al-Quran yang menegaskan bahwa akal merupakan sarana untuk memahami kebenaran mutlak dari Allah Swt. Umumnya kalimat yang digunakan adalah afala ta'qilun (tidakkah kamu berpikir/tidakkah kamu memikirkannya). Salah satu ayat yang dimaksud adalah surat Al-Baqarah ayat 44 yang artinya," Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?"

Sedang langkah-langkah untuk memperkaya akal sebagai berikut :

1. Memperluas wawasan dengan bacaan dan kajian. Membaca adalah kunci utama dalam membuka jendela ilmu pengetahuan dan teknologi. Bacalah juga merupakan perintah yang pertama turun pada utusan-Nya. Jadi para generasi muda muslim tidak ada alasan untuk tidak banyak membaca dan mengikuti kajian yang bermanfaat.

2. Selalu ingatlah target-target yang ditetapkan. Langkah menjadikan seseorang akan fokus pada targetnya.

3. Rengkuhlah ketrampilan-ketrampilan kreatif. Dengan kreatif seseorang telah berusaha untuk meningkatkan nilai tambah. Masih terhitung miskin para inovator negeri ini menciptakan nilai tambah. Kondisi yg merangsang para inovator wajib diadakan oleh Pemimpin negeri dengan tidak mudahnya mengimpor yang dibutuhkan.

Adapun emosi diperlukan dalam kehidupan yaitu emosi yang menjadikan seseorang merasakan arti pentingnya keberadaan orang lain. Untuk pengembangan emosi bisa dilakukan :

1. Toleransi dan saling memberi. Disini kekuatan ajaran Islam yang telah dicontohkan Rasulullah Saw. tatkala memperoleh kemenangan, dimana warga masyarakat taklukan diberikan kesempatan beribadah pada keyakinannya, dan bagi yang kekurangan akan dibantu oleh negara. Keindahan ini yang jarang diungkapkan sehingga timbul persepsi yang kurang akurat.

2. Menjalin hubungan yang erat dengan semua individu. Inilah yang dicontohkan para pemimpin sebelumnya untuk meningkatkan ukhuwah. Kekuatan ukhuwah akan membawa persatuan yang nantinya menghasilkan kekuatan ekonomi yang baru. Kekuatan yang tidak bergantung pada pihak lain, tidak terintimidasi dalam memenuhi kebutuhannya dan bisa menolong pihak lain yang membutuhkan.

3. Bersabar itu bisa mengendalikan emosi. Sikap ini merupakan tiang seorang beriman yang bisa menampakkan jiwa besar.

Maka keseimbangan pada pengembangan akal dan keseimbangan dalam kesabaran, in syaa Allah akan menghasilkan generasi muslim yang unggul apalagi sebagai pemimpin. Keseimbangan merupakan keadaan yang bisa menghadirkan keindahan dan ketenangan. Oleh karena itu jadikanlah keseimbangan sebagai pedoman hidup, apakah sebagai politisi, pengusaha maupun profesi lainnya. Penulis menutup dengan senandung syair :

Janganlah berangkat terlalu dini atau terlambat.

Jika meminta, janganlah melewati batas berlebihan dan kurang dari batas kekurangan.

Menjadi insan utuh dan seimbang, adalah dambaan.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT