Bawaslu Desak KPU Bikin Aturan Terkait Kampanye di Media Sosial

ADVERTISEMENT

Bawaslu Desak KPU Bikin Aturan Terkait Kampanye di Media Sosial

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Selasa, 20 Sep 2022 01:08 WIB
Anggota Bawaslu, Rahmat Bagja
Foto: Ketua Bawaslu, Rahmat Bagja. (Lisye-detikcom)
Jakarta -

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mendesak Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk membuat Peraturan KPU (PKPU) terkait kampanye di media sosial pada Pemilu 2024 mendatang. Hal itu dilakukan agar tidak ada saling serang pribadi maupun keyakinan agama.

"Seharusnya ada batasan. Kita mendorong PKPU membatasi ruang gerak media sosial untuk dijadikan ajang untuk menyerang pribadi, menyerang keyakinan beragama dan lain-lain. Kita sudah menghadapi era 2024 melewati COVID-19 kok tidak masih bisa bersaudara kembali. Itu masa-masa sulit kan. Bikin PKPU tentang kampanye di media sosial," kata Ketua Bawaslu Rahmat Bagja di Hotel Mercure Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (19/9/2022).

Rahmat menerangkan kampanye di media sosial sejatinya tidak dilarang. Akan tetapi, kata Rahmat, kampanye di media sosial harus dibatasi agar tidak melampaui batas.

"Kampanye di media sosial pasti pengaturannya, kita harus melihat baik buruknya masalah penyerangan terhadap orang lain. Di media sosial boleh tidak kampanye? Boleh, tapi batasannya itu apa, kapan. Kan media sosial ini tidak seperti kampanye di media elektronik. Kalau kampanye di iklan, televisi kan ada waktu 21 hari, kalau di media sosial kan boleh sampai kapan saja," kata Rahmat.

Takedown Akun yang Serang Pribadi Capres dan Caleg

Bawaslu akan berkoordinasi dengan Kominfo terkait pengawasan kampanye di media sosial. Bawaslu akan menggandeng Kominfo untuk menurunkan (takedown) postingan akun di media sosial bila menyerang pribadi calon legislatif maupun calon presiden pada Pemilu 2024.

"Takedown kemudian. Kalau menyerang keyakinan seseorang, dia kemudian menyerang pribadi seseorang calon anggota legislatif, calon-calon presiden," kata Rahmat.

Rahmat Bagja mengatakan pihaknya juga akan merekomendasikan untuk memblokir akun tersebut bila menyerang keyakinan capres maupun caleg. Dia mengaku tak takut meskipun orang tersebut sudah punya pengikut puluhan juta di media sosial.

"Iya (akun di-block) jangan takut. Mau followers 25 juta kalau kemudian menyerang orang lain, apakah anda punya followers 25 juta menyerang keyakinan seseorang, begitu," katanya.

Simak Video 'Komisi II Buka Kemungkinan Bahas Nomor Parpol Tak Diganti dengan KPU:

[Gambas:Video 20detik]



(whn/eva)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT