ADVERTISEMENT

Kolom Hikmah

Jiwa Besar

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 16 Sep 2022 08:00 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Kondisi kehidupan dunia yang semakin komplek menuntut seseorang lebih berhati-hati agar tidak tergelincir. Kepentingan-kepentingan ataupun kebutuhan menuntut seseorang berjuang untuk memenuhinya, maka diperlukan seorang pemimpin yang bisa memberikan kesempatan pada masyarakat. Oleh karena itu, kepemimpinan bukan hanya bertumpu pada kemampuan manajerial namun hendaknya mempunyai jiwa besar.

Berjiwa besar akan membuat kepemimpinannya berjalan dengan lancar. Adapun untuk menuju agar mempunyai sifat jiwa besar hendaknya melalui tahapan sebagai berikut :
1. Bisa mengendalikan diri atau bersabar.
2. Selalu bersyukur atas nikmat apapun yang diberikan-Nya.
3. Berserah diri.

Bersabarlah dalam perintah-Nya, mempunyai arti beribadah, adapun lanjutan ayat tersebut, " Kesabaranmu itu hanya dengan pertolongan Allah Swt." firman ini pada surah al-Nahl ayat 127. Jelas mempunyai arti perintah menyembah. Jadi hamba yang berhasil naik tingkatan " bagi-Mu " menuju tingkatan " dengan-Mu ", berarti tingkatan beribadah menuju menyembah. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw. " Dengan-Mu aku hidup dan dengan-Mu aku mati." ( H.R. Abul Qasim Al-Hakim ).

Memang bersikap sabar itu tidaklah semudah yang kita ucapkan, apalagi menghadapi suatu perkara yang kita senangi. Jadi bagaimana mungkin kita bisa bersabar menghadapi perkara yang tidak kita senangi?


Tatkala seorang pemimpin dihadapkan suatu perkara yang tidak disenangi, tentu jika berjiwa besar maka dia akan tenang, lapang dada dan tidak emosional. Tindakan berlandaskan emosi tentu hasilnya akan mempunyai konsekuensi kurang baik. Dalam firman-Nya pada surah al-Nahl ayat 96 yang berbunyi, " Dan, sungguh Kami akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan."

Seseorang yang bisa bersikap sabar dan bersyukur berarti telah melengkapkan iman. Menurut Abu Thalib al-Makki, syukur adalah mengetahui dan merasakan nikmat dengan hati dan mengungkapkannya dengan lisan. Rasulullah Saw. berpesan agar syukur kita jadikan sebagai kekayaan di akhirat, pengganti kekayaan dunia. Umar bin Khathab pernah bertanya kepada Tsauban, " Apa yang akan kita jadikan kekayaan?" Tsauban menjawab, " Lisan yang senantiasa berzikir dan hati yang selalu bersyukur." Bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya menjadi keniscayaan. Bisa merasakan nikmat rasa, bau dan nikmat lain yang banyak sekali merupakan karunia-Nya, oleh sebab itu selalu ingatlah firman-Nya dalam surah Ibrahim ayat 7 yang berbunyi, " Apabila kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah ( nikmat ) kepada kalian. Namun, jika kalian mengingkari ( nikmat-Ku ) maka azab-Ku sangat pedih."
Ahli Tasawuf mengatakan, " Jika seseorang bisa melakukan sikap sabar dan bersyukur secara bersamaan dalam menghadapi ujian, maka pahalanya sangat besar."

Modal terakhir seseorang / pemimpin yang berjiwa besar adalah tawakal. Menurut Al-Harawi, tawakal merupakan tindakan menyerahkan urusan kepada yang berkuasa menanganinya dengan kepercayaan utuh. Sedangkan Abu Said al-Kharaz berpendapat bahwa tawakal adalah ketenangan hati terhadap segala persoalan duniawi, seperti rezeki, dan menyerahkan semua perkara kepada Allah Swt.
Penyerahan segala urusan merupakan bentuk penyerahan diri yang diwujudkan dengan menyandarkan diri dan tunduk di bawah ketetapan dan pengaturan-Nya. Surah al-Maidah ayat 23 yang berbunyi, " Dan hanya kepada Allah Swt hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar beriman. "

Ibnu Abbas meriwayatkan, " Hasbunallahu wa ni'ma al-wakil ( cukuplah Allah Swt sebagai pelindung kami ) diucapkan Nabi Ibrahim a.s. saat dilemparkan pada kobaran api, dan diucapkan Nabi Muhammad Saw. saat orang-orang kafir berkata, ' Sungguh, orang-orang telah sepakat untuk membunuhmu, karena itu takutlah kepada mereka." ( H.R. Bukhari ).

Saatnya penulis menyimpulkan secara ringkas tentang pemimpin yang berjiwa besar. Tatkala pada posisi lapang, maka dia tidak sombong, tidak berbangga diri, bisa menempatkan dan tahu diri, memberi inspirasi pada warganya, memperlihatkan sikap bijak. Jika saat posisi menghadapi ujian, maka bersikap tenang, lapang dada, tidak emosional, tidak lantas memusuhi, tidak frustrasi dan tidak mudah sakit hati. Kedewasaan bersikap saat menghadapi ujian merupakan ukuran kebesaran jiwa seseorang.

Pada zaman yang penuh tuntutan dan tekanan seperti saat ini, sikap yang berjiwa besar makin terkikis dan tersisih. Bagi generasi muda muslim mulailah memilih idola dan panutan pemimpin yang berjiwa besar dan contohlah sikap-sikap mereka. Semoga Allah Swt. memberikan hidayah agar para pemimpin muslim bisa berjiwa besar.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT