Penilaian 2 Pakar Tata Kota tentang Kinerja Anies 5 Tahun Menukangi Jakarta

ADVERTISEMENT

Perspektif

Penilaian 2 Pakar Tata Kota tentang Kinerja Anies 5 Tahun Menukangi Jakarta

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 13 Sep 2022 16:57 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (Nahda/detikcom)
Jakarta -

Era kepemimpinan Gubernur Jakarta Anies Baswedan sudah menjelang pungkasan. Selama hampir lima tahun menukangi Jakarta, kira-kira Anies dapat nilai berapa?

detikcom bertanya secara terpisah kepada dua pakar yang getol mengamati kota ini, ada Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan Nirwono Joga serta analis tata kota dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Arsitektur, Lanskap, dan Teknologi Lingkungan (FALTL) Universitas Trisakti, Yayat Supriatna.

"Secara umum, program pembangunan di Jakarta dalam lima tahun ini 2017-2022 ada yang cukup bagus meskipun banyak PR (pekerjaan rumah) besar yang tidak dilakukan," kata Nirwono kepada detikcom, Selasa (13/9/2022).

Program-program yang bagus di era Anies dia sebut berupa pembangunan jalur sepeda, revitalisasi trotoar, dan pemindahan utilitas ke bawah tanah atau Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT).

Ada pula program lain yang dinilai Nirwono baik, yakni integrasi transportasi publik baik untuk sistem tiket maupun infrastruktur jembatan penghubung dari halte ke stasiun/terminal.

Pakar tata kotaNirwono Joga (Muhammad Ridho/detikcom)

Yayat Supriatna juga memberi nilai baik untuk deretan program Anies. Dia menyebut program berupa penataan pusat kegiatan seperti revitalisasi Kota Tua dan Tebet Eco Park. Ada pula program yang baik, yakni soal pengerjaan jaringan transportasi berupa JakLingko dengan tarif Rp 10 ribu dan layanan perpindahan antarmoda. Sebagai pejalan kaki dan pengguna transportasi umum, Yayat mengamati langsung hal ini.

"Pak Anies mengedepankan ruang pejalan kaki. Ini terlihat dari pertambahan jalur pedestrian yang semakin luas dan banyak di jalan utama Jakarta, dengan harapan ada perubahan dalam budaya bermobilitas," kata Yayat.

Penanganan banjir

Permasalahan penanganan banjir adalah hal penting untuk Jakarta. Soal penataan banjir, baik Yayat maupun Nirwono menilai pekerjaan Anies belum sempurna.

"PR penanganan banjir justru tidak tuntas dilakukan, seperti pembenahan sungai yang berhenti, revitalisasi situ/danau/embung/waduk tidak berjalan, rehabilitasi saluran air tidak dilakukan, padahal di atasnya trotoar sedang direvitalisasi," sorot Nirwono.

Pemprov DKI Jakarta mengeruk Kali Mampang, Jakarta Selatan, usai PTUN Jakarta menghukum Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Warga di sekitar Kali Mampang turut senang dengan adanya pengerukan agar tak terjadi banjir lagi, Sabtu, (19/2/2022).Pemprov DKI Jakarta mengeruk Kali Mampang, Jakarta Selatan, usai PTUN Jakarta menghukum Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Warga di sekitar Kali Mampang turut senang dengan adanya pengerukan agar tak terjadi banjir lagi, Sabtu, (19/2/2022). (Rifkianto Nugroho/detikcom)

Nirwono juga menyoroti pertambahan ruang terbuka hijau yang lambat di era Anies. Adanya Tebet Eco Park yang direvitalisasi hanya meningkatkan kualitas taman yang sudah ada, tapi tidak menambah luasan ruang terbuka hijau di Jakarta.

Yayat Supriatna menilai Anies harus bisa lebih baik lagi soal masalah penanganan banjir. Dia melihat ada konsep normalisasi dan naturalisasi yang tidak cukup terejawantahkan di Jakarta.

"Soal banjir, kelihatannya memang harus ada upaya yang lebih keras lagi," kata Yayat.

Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti -- Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumay (22/4/2016)Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (22/4/2016) (Ari Saputra/detikcom)

Ancaman Jakarta, menurut Yayat, adalah hujan ekstrem. Anies perlu memperbaiki penanganan potensi hujan ekstrem. Upaya pembangunan sumur resapan dan drainase vertikal memang mengemuka, termasuk pro dan kontranya. Namun Yayat melihat program itu harus dipikir lagi.

"Sumur resapan bukan hanya sekadar membuat sumur resapan, tapi juga harus memperhatikan kemampuan daya serap tanah itu. Jadi bisa dikatakan sumur resapan itu perlu dievaluasi kembali performanya mengurangi potensi genangan," kata Yayat.

Soal banjir di bantaran sungai, Yayat melihat ada karakter tertentu yang nampak dari gaya Anies menata kota. Bila dahulu ada pelebaran sungai dengan cara membongkar bangunan di bantaran kali, maka di era Anies hal itu seakan jarang terdengar.

"Pada pendekatan penanganan banjir yang belum adalah pada persoalan relokasi warga yang belum bisa dipindahkan. Itu kekhawatiran konflik sosial saja. Ada hal pendekatan teknis tanpa maslah sosial dan ada pendekatan dengan menimbulkan masalah sosial," kata Yayat.

DP Rp 0 dan perkara perumahan

Baik Yayat maupun Nirwono sama-sama menyoroti program perumahan era Anies. Nirwono melihat program DP Rp 0 tidak sesuai janji di awal. Dahulu, program itu direncanakan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Namun belakangan, program itu ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan Rp 15 juta per bulan.

"Penyediaan rumah melalui program DP Rp 0 tidak tepat sasaran, tidak sesuai janji awal untuk masyarakat berpenghasilan rendah, alias gagal," kritik Nirwono.

Yayat memberi cap 'gagal' untuk DP Rp 0 melainkan memahami program itu mengalami revisi dari rencana semula.

"Sasarannya yang diubah, tidak pada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Karena, memang kelompok sasaran awalnya tidak tepat dalam konteks perencanaan di awalnya, sehingga sasaran berubah. Tapi rumah itu terbeli," ujar Yayat.

Pengunjung melihat salah satu unit rumah DP nol persen di Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (8/9/2022). Pemerintah DKI Jakarta meresmikan Rumah DP Nol Persen tahap kedua yang sudah terbangun sebanyak 1.348 unit di Cilangkap, Jakarta Timur. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/hp.Pengunjung melihat salah satu unit rumah DP nol persen di Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (8/9/2022). Pemerintah DKI Jakarta meresmikan Rumah DP Nol Persen tahap kedua yang sudah terbangun sebanyak 1.348 unit di Cilangkap, Jakarta Timur. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/hp. Foto: ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA

Untuk masyarakat berpenghasilan rendah, program yang disediakan adalah rumah susun sewa. Untuk penataan kampung, Yayat memberi nilai positif.

Untuk soal air minum, Yayat memberi nilai positif karena melihat ada upaya menekan pengambilan air tanah dan juga mengedepankan tarif air yang lebih berkeadilan. Untuk pengelolaan persampahan, dia juga melihat ada upaya pembenahan.

Dapat nilai berapa?

Nirwono melihat pembangunan di Jakarta era Anies sudah cukup bagus meski ada pekerjaan rumah yang harus dituntaskan. Untuk Plt Gubernur setelah Anies, PR yang bisa dikerjakan adalah mengurai kemacetan lalu lintas dan memperbaiki kualitas udara, serta menangani banjir secara komprehensif.

Yayat memberi nilai secara keseluruhan terhadap kinerja Anies selama menjabat.

"Overall, ya saya bilang ini 7,5 lah. Saya objektif," kata Yayat.

Lantas menurut Anda, berapa nilai kinerja Anies dalam menukangi Jakarta selama ini?

Simak juga Video: Tebet Eco Park Dibuka Lagi, Ramai Pengunjung di Akhir Pekan

[Gambas:Video 20detik]



(dnu/tor)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT