Hendro Fernando, Dulu Teroris Sekarang Sibuk Urus Telur Puyuh

ADVERTISEMENT

Hendro Fernando, Dulu Teroris Sekarang Sibuk Urus Telur Puyuh

Nada Celesta - detikNews
Minggu, 11 Sep 2022 06:41 WIB
Jakarta -

Spanduk kuning itu bertuliskan "DeBintal Rumah Potong Ayam". Terpasang di antara perdu yang rimbun, ada berbagai unit usaha yang ditawarkan oleh penangkaran ayam dan burung puyuh di tengah permukiman warga itu.

Debintal adalah akronim dari Dekat Bintang di Langit. Yayasan yang berdiri sejak 2020 ini digawangi oleh 13 eks napiter (narapidana terorisme). Hendro Fernando adalah salah satunya. Hidupnya kini berubah semenjak keluar dari penjara. Hendro yang dulu dikenal sebagai koordinator persenjataan serta pendanaan, kini lebih akrab sebagai Hendro si penjagal ayam dan pemilah telur puyuh.

Sebagai eks Napiter (narapidana terorisme), ia pun menjauh dari kehidupan lamanya dan memutuskan untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Bukan hal yang mudah untuk kembali bermasyarakat. Namun dengan kegigihannya, Hendro berhasil memperoleh kembali kepercayaan dan dukungan warga untuk membuka usaha.

Kepada tim Sosok detikcom, Hendro menceritakan kembali berbagai keterlibatannya dalam berbagai macam Tindakan terorisme di sejumlah wilayah.

"Ditahun 2014 sampai 2016, di jaringan Jamaah Anshar Daulah, saya langsung diberikan tugas oleh Amir ISIS di Indonesia yang ada di Suriah. Itu ditugaskan untuk penggeseran pendanaan untuk mengakomodir pembelian senjata dari Filipina ke Indonesia yang saya kirim ke Poso, MIT (Mujahidin Indonesia Timur)," ujar Hendro Fernando, Minggu (11/9/22).

Selama menjadi anggota kelompok teroris, Hendro selalu dalam keadaan siaga dan berjaga-jaga setiap saat. Berbagai bentuk tekanan dalam dirinya membuatnya tidak nyaman dalam menjalani hari-hari yang biasa.

"Saya merasa terus was-was ya, pastinya ada tekanan. Tapi pada saat itu saya berkeyakinan, apa yang saya yakini itu adalah sebuah kebenaran. Nah makanya saya ikuti saja terus, saya jalani, walaupun sehari-harinya tidak nyaman," ucapnya.

Seperti teroris pada umumnya, keterlibatannya dalam tindakan terorisme diawali dengan keinginan besarnya untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia. Dengan dalil jihad, para anggota kelompok teroris berlomba-lomba untuk mengakhiri hidupnya demi meraih 'Surga' yang mereka percaya.

"Ya akhirnya dengan dalil Jihad, jihad di jalan Allah. Ternyata ya, makanya akhirnya kita berlomba-lomba untuk cepat-cepat mati gitu, bahkan kita sudah melatih diri kita untuk membuat bom rompi. Jadi kita sudah benar niat untuk meledakkan diri semuanya. Ada juga yang 'saya duluan, biar saya saja'," jelas Hendro.

Pengakuan Hendro soal tujuan aksi terorisme di Indonesia, halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT