Luhut soal Ruang Udara Kepri-Natuna: Selama Ini Pemerintah Kurang Agresif

ADVERTISEMENT

Luhut soal Ruang Udara Kepri-Natuna: Selama Ini Pemerintah Kurang Agresif

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Kamis, 08 Sep 2022 12:31 WIB
Rapat Koordinasi Nasional Percepatan Pengembangan Lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas Tahun 2021” yang diselenggarakkan Kemenkomarves, Rabu (1/12/2021).
Menko Luhut B Pandjaitan (Foto: dok. Kemenparekraf)
Jakarta -

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan yakin dengan kemampuan sumber daya manusia untuk mengatur ruang udara di Kepulauan Riau dan Natuna setelah adanya perjanjian baru Flight Information Region (FIR) Indonesia dan Singapura. Luhut mengatakan selama ini pemerintah kurang agresif padahal Indonesia merupakan bangsa besar.

"Ya sebenarnya itu detail sekali, saya kira Kemhub sudah melakukan itu, kita tidak lihat ada masalah. Hanya selama ini, maaf kalau saya, pemerintah Indonesia itu kurang agresif, kita bangsa besar kok, masa kita nggak bisa itu, teknis sekali. Dan orang-orang kita saya lihat di Ditjen Perhubungan Udara sudah sangat qualified," kata Luhut dalam keterangan pers di akun YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (8/9/2022).

Jokowi mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah memerintahkan agar semua alat-alat yang menunjang penerbangan diperbaharui. Dengan demikian, urusan teknis pengaturan penerbangan dapat dilakukan dengan baik.

"Tadi presiden sudah memerintahkan kita akan memperbaharui alat-alat tercanggih kita sehingga kita pun tidak ada masalah di sana," ujar Luhut.

Sementara itu, Menhub Budi Karya Sumadi menjelaskan navigasi Indonesia sama baiknya dengan yang ada di negara lain. Budi menjelaskan Indonesia tidak hanya mengelola FIR Jakarta tapi juga daerah lain.

"Nah ini terbukti bahwa bukan hanya di daerah kita mengontrol daerah Jakarta, FIR Jakarta, FIR Makassar, dan itu bisa berjalan dengan baik. Jadi bahwa itu terjadi suatu pelimpahan dengan serta-merta kita bisa melaksanakan itu," ujar Budi.

Perjanjian FIR Bakal Pengaruh ke Revisi UU Penerbangan?

Dalam kesempatan itu, Luhut juga menjawab soal kemungkinan adanya revisi UU Penerbangan setelah perjanjian FIR Indonesia dan Singapura resmi disahkan. Luhut mengatakan Menhub Budi bakal mendalami hal tersebut.

"Tapi yang jelas sejak ini ada di kita, kita sekarang sudah memainkan peran kita sebagai negara yang berdaulat untuk mengelola daerah kita sendiri. Tapi tidak boleh lupa bahwa kita ini bertetangga. Jadi harus juga membangun kerja sama itu, satu," ujar Luhut.

Selain itu, Luhut mengatakan perjanjian FIR Indonesia dan Singapura ini berlaku selama 25 tahun. Luhut mengatakan setiap lima tahun bakal ada evaluasi untuk dilakukan penyesuaian.

"Memang betul perjanjian kita bikin 25 tahun, tadinya ada permintaan lebih lama tapi saya pikir di 25 tahun. Nanti kita evaluasi tiap 5 tahun, kalau ada yang perlu di sana-sini perbaikan-perbaikan penyesuaian untuk kepentingan kedua belah pihak," ujar dia.

Simak Video 'Jawaban Luhut soal RI Masih Bergantung ke Changi Usai FIR Disepakati':

[Gambas:Video 20detik]

(knv/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT