Jaksa Sebut Eks Pejabat Samsat di Banten Gelapkan Pajak demi Uang Tambahan

ADVERTISEMENT

Jaksa Sebut Eks Pejabat Samsat di Banten Gelapkan Pajak demi Uang Tambahan

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Kamis, 01 Sep 2022 22:22 WIB
Sidang kasus korupsi Samsat di PN Tipikor Serang (Bahtiar-detikcom)
Sidang kasus korupsi Samsat di PN Tipikor Serang (Bahtiar/detikcom)
Banten -

Jaksa menyebut terdakwa eks Kasi Penetapan, Penerimaan, dan Penagihan Samsat Kelapa Dua Tangerang Zulfikar Bapenda Pemprov Banten memanfaatkan kelemahan aplikasi pembayaran untuk membobol uang setoran wajib pajak. Jaksa mengatakan Zulfikar dan terdakwa lain bersepakat mencari uang tambahan dengan membobol aplikasi Samsat Bapenda.

"Terdakwa Zulfikar, Achmad Pridasya, Mokhamad Bagza Ilham, dan Budiyono sepakat untuk mencari penghasilan tambahan dari kelemahan sistem aplikasi Samsat Bapenda Pemprov Banten," kata jaksa penuntut umum (JPU) Subardi di Pengadilan Tipikor Serang, Kamis (1/9/2022).

Jaksa menyebut para terdakwa memanipulasi aplikasi dengan cara mengubah kode transaksi wajib pajak yang telah membayar Pajak Kendaraan Bermotor atau PKB dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor atau BBNKB dan menerima Surat Ketetapan Pajak Daerah.

Modus para terdakwa adalah memanipulasi pembayaran di database aplikasi setelah wajib pajak meninggalkan Samsat Kelapa Dua. Mereka juga menerbitkan nota penghitungan pembayaran pajak daerah atau NPPPD yang tidak sesuai.

"Sebelum menutup kas harian lalu mengambil selisih dari pembayaran pajak yang disetorkan ke teller Bank Banten," katanya.

Perubahan data itu dilakukan atas bantuan terdakwa Budiyono. Dia merupakan programmer yang membuat aplikasi pembayaran Samsat Bapenda Banten. Jaksa mengatakan Budiyono pernah diberhentikan secara tidak hormat saat menjabat pegawai di Samsat Ciledug.

"Para terdakwa setiap hari menentukan nopol atau unit kendaraan yang akan dilakukan manipulasi dan memastikan wajib pajak atau pihak pengurus STNK telah membayar PKB dan BBNKB sesuai ketentuan," ujarnya.

Kemudian para terdakwa berkomunikasi menggunakan WhatsApp dan Telegram Group mencari sasaran. Terdakwa Budiyono masuk ke database sistem Samsat Pemda Banten menggunakan nama dan password samaran.

JPU melanjutkan manipulasi data melalui sistem pembayaran Samsat itu ada 331 nomor polisi atau unit kendaraan. Kerugian seluruhnya dari penggelapan pajak ini mencapai Rp 10,8 miliar.

"Uang hasil penarikan setiap harinya dikumpulkan kemudian di bagian masing-masing setiap minggu atau setiap bulannya selanjutnya digunakan membeli rumah, kendaraan bermotor, komputer, dan untuk kepentingan pribadi masing-masing," kata Subardi.

(bri/idn)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT