ADVERTISEMENT

4 Bulan Bekerja di Jepang, Seorang WNI Mengakhiri Hidupnya

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 01 Sep 2022 12:46 WIB
Ilustrasi bendera jepang
Ilustrasi: Bendera Jepang (Dok. Reuters)
Jakarta -

Seorang warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di Jepang meninggal dunia. Pemuda tersebut mengakhiri hidupnya sendiri.

Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo Ali Sucipto mengkonfirmasi kebenaran kabar duka yang juga viral di Twitter itu.

Pria asal Jawa Tengah tersebut berusia 22 tahun dan bekerja di konstruksi pipa saluran air. Dia tiba di Jepang pada April 2022. Dia diketahui meninggal dunia pada Kamis (25/8).

"Kejadian di Saitama tanggal 25 Agustus 2022 pukul 06.20 JST, telah ditemukan seorang WNI meninggal dunia akibat bunuh diri," kata Ali Sucipto kepada detikcom, Kamis (1/9/2022).

Penyebab bunuh diri tidak diketahui. Begitu mendapatkan informasi itu, KBRI menghubungi pihak kepolisian setempat. KBRI juga mengontak pihak perusahaan penerima dan pengirim yang bersangkutan. Selanjutnya, KBRi menghubungi pihak keluarga untuk menyampaikan berita duka tersebut.

"Sore ini jenazah akan dimandikan dan disalatkan di Masjid Indonesia Tokyo. Rencananya jenazah akan diterbangkan ke Indonesia pada Sabtu (3/9) besok untuk kemudian diserahkan kepada perusahaan pengirim dan pihak keluarga," kata Ali Sucipto.

Upaya bantuan konsultasi psikologi bagi WNI

Isu bunuh diri merupakan isu terkait kesehatan jiwa pula. Masyarakat, tak terkecuali WNI di Jepang, bisa membutuhkan bantuan konseling psikologi sewaktu-waktu. KBRI Tokyo berupaya menyediakan layanan konsultasi psikologi.

"KBRI memiliki hotline yang bisa dihubungi WNI setiap saat untuk menyampaikan keluhan atau permasalahan apa pun. Penanganannya tentu berbeda tergantung permasalahan masing-masing," kata Ali Sucipto.

Nomor telepon KBRI Tokyo adalah +818035068612 dan +818049407419. Secara khusus, KBRI belum punya tenaga psikolog. Namun KBRI akan mengarahkan WNI yang berkonsultasi ke pihak yang berkompeten.

"Secara biaya tidak memungkinkan KBRI untuk menyediakan tenaga ahli seperti psikolog. Tetapi KBRI, jika dihubungi, pasti akan mengarahkan kepada tenaga psikolog profesional yang KBRI kenal dan kebetulan bisa berbahasa Indonesia," kata Ali Sucipto.


Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda, pembaca, merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

(dnu/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT