Polda Bali Bantah soal Dugaan Tahanan WN Peru Meninggal Dianiaya

ADVERTISEMENT

Polda Bali Bantah soal Dugaan Tahanan WN Peru Meninggal Dianiaya

I Wayan Sui Suadnyana - detikNews
Jumat, 26 Agu 2022 18:23 WIB
Ilustrasi: pembunuhan, mayat, bunuh diri, garis polisi, police line
Ilustrasi Police Line (Ilustrasi/Thinkstock)
Jakarta -

Kematian WN Peru bernama Rodrigo Ventosilla (32) di tahanan Polda Bali dipertanyakan oleh keluarga. Polda Bali membantah dugaan-dugaan yang menyebut Rodrigo Ventosilla tewas karena dianiaya di tahanan.

"Itu tidak benar, nggak ada penganiayaannya," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Bali Kombes Stefanus Satake Bayu Setianto, seperti dikutip dari detikBali, Jumat (26/8/2022).

Satake Bayu juga menjawab tuduhan bahwa polisi menolak memberikan autopsi terhadap jenazah. Menurutnya, justru kuasa dari keluarga jenazah yang tidak mau melakukan autopsi. Hal itu dibuktikan dengan surat pernyataan.

"Dari pihak yang diberi kuasa oleh keluarganya juga menyatakan bahwa mereka yang pertama tidak mau diautopsi, ada surat pernyataannya. Kemudian intinya berterima kasih lah sama pihak Polda (Bali)," jelasnya.

Dalam surat pernyataan yang diberikan kepada detikBali, tertulis bahwa kuasa sebagai perwakilan keluarga dari jenazah menolak/tidak menyetujui untuk dilakukan autopsi. Selain itu, kuasa menyatakan tidak keberatan serta tidak menuntut secara hukum dari Ditresnarkoba Polda Bali ataupun pihak RSUP Sanglah.

Surat pernyataan itu dibuat pada 11 Agustus 2022, pukul 15.15 Wita, di RSUP Sanglah (Prof Ngoerah) Denpasar. Surat pernyataan dilengkapi dengan tanda tangan bermeterai Rp 10.000.

Sebelumnya, pihak keluarga mendesak ada investigasi atas kematian Rodrigo Ventosilla. Dilansir dari BBC, keluarga Ventosilla menuduh polisi Indonesia menganiaya Ventosilla dan melarang pengacara yang mereka sewa untuk menemuinya. Keluarga menggambarkan penangkapan Ventosilla sebagai tindakan diskriminasi rasial dan transfobia.

Berdasarkan laporan surat kabar Harvard Crimson, Ventosilla merupakan mahasiswa di Harvard Kennedy School. Ventosilla adalah anggota pendiri organisasi hak kaum transgender Peruvian Diversidades Trans Masculinas. Ia diketahui sedang mengejar gelar master ilmu administrasi publik.

Selengkapnya baca di sini.

(rdp/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT