Panglima: Tak Ada Ancaman Nyata di Perbatasan Malindo
Selasa, 27 Jun 2006 14:25 WIB
Jakarta - TNI menilai latihan gabungan bersama militer Malaysia dan Indonesia (Malindo) tidak terkait adanya ancaman serius yang dihadapi sekarang. Latihan ini guna meningkatkan profesionalisme dan melaksanakan prosedur tetap pengamanan perbatasan kedua negara."TNI tidak pernah melihat kapan adanya ancaman. TNI dan TDM itu adalah ada atau tidak ancaman nyata, latihan harus dilakukan , karena meningkatkan profesionalisme harus dilatih hari demi hari," jelas Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto usai upacara pembukaan Latihan Gabungan Bersama Malindo Darat,Samudera, Angkasa 6AB Tahun 2006 di Markas Divisi Infanteri I/Kostrad, Cilodong, Jawa Barat, Selasa (27/6/2006).Menurut Panglima, perbatasan antara Indonesia dan Malaysia cukup panjang dan luas, sehingga telah dibuat suatu prosedur tetap operasi bersama. "Itu yang kita uji cobakan. Kemudian untuk jangka waktu panjang, bagaimana kita mewujudkan suatu kondisi strategis yang aman bagi kedua negara khususnya dan kawasan pada umumnya," ujar Djoko.Dijelaskan Panglima, latihan gabungan ini tidak hanya untuk menghadapi ancaman serius terhadap kedua negara. Juga untuk mengantisipasi tindakan kriminal seperti illegal logging, penanggulangan teroris, juga separatisme. Oleh sebab itu, dalam latihan ini juga dilibatkan sejumlah personel kepolisian kedua negara.Kenapa latihan gabungan ini dilakukan di Singkawang bukan di Selat Malaka, yang memang rawan gangguan keamanan? Panglima mengatakan, untuk Selat Malaka telah ditandatangani Malaka State Patrol (MSP) oleh Indonesia-Malaysia. "Jadi itu sudah bukan hanya latihan bersama, tapi sudah operasional dan itu sudah dijalankan," jawab Djoko.
(asy/)











































