ADVERTISEMENT

3 WN Pakistan Palsukan Visa, Mengaku Ingin Bisnis Minyak Sawit di RI

Khairul Ma'arif - detikNews
Kamis, 18 Agu 2022 16:37 WIB
Imigrasi Bandara Soetta menangkap 3 WN Pakistan yang gunakan visa palsu untuk masuk ke Indonesia.
Imigrasi Bandara Soetta menangkap 3 WN Pakistan yang menggunakan visa palsu untuk masuk ke Indonesia. (Khairul Ma'arif/detikcom)
Jakarta -

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) menangkap tiga warga negara (WN) Pakistan yang hendak masuk Indonesia menggunakan visa palsu. Mereka menyebut ingin bertemu dengan rekan bisnis minyak sawit di Indonesia.

Kepala Imigrasi Soetta Tito Andrianto mengatakan ketiganya diamankan karena menggunakan visa palsu. WN Pakistan ini berinisial AMK (45), OB (44), dan SZ (30) berjenis kelamin laki-laki.

"Saat ketiganya tiba dan dilakukan pemeriksaan keimigrasian, ditemukan visa C314 (Investor) yang digunakan OB dan SZ tidak tercatat dalam sistem penerbitan visa Direktorat Jenderal Imigrasi. Sementara visa C314 milik AMK tercatat, tetapi milik orang asing atas nama ANU dengan sponsor SIJ," katanya kepada wartawan, Kamis (18/8/2022).

Menurutnya, curiga dengan hal tersebut, ketiganya kemudian diserahkan kepada Bidang Intelijen dan Penindakan Keimigrasian untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Ia mengatakan hasil penyelidikan sementara diketahui bahwa ketiga pelaku tersebut saling mengenal.

Tito menambahkan, OB adalah pemilik sekaligus Direktur pada PT AGSB yang berlokasi di Malaysia sementara SZ bekerja sebagai General Manager (GM) di perusahaan tersebut. AMK diketahui merupakan CEO dari PT MOI yang juga berada di Malaysia.

"Kedua perusahaan ini memiliki kerjasama dalam ekspor minyak sawit dari Malaysia ke Afghanistan. Berdasarkan pengakuan ketiganya, mereka akan melakukan kunjungan bisnis ke tiga perusahaan sawit di Indonesia dengan inisial GA, GPO, dan APO yang ketiganya berlokasi di Jakarta," ungkapnya.

Dari pengakuan ketiganya memang tidak pernah mengajukan permohonan visa Republik Indonesia melalui aplikasi visa online Ditjen Imigrasi. Kata Tito ketiganya mengajukan visa menggunakan agen pengurus visa berinisial RM (WN Pakistan) & RH (WN Pakistan).

"OB merogoh kocek hingga 15 ribu ringgit kepada RM untuk 2 visa Limited Stay Permit atas nama dirinya sendiri dan SZ. Sedangkan AMK mengaku telah membayar biaya pengurusan visa sejumlah 12 ribu ringgit kepada RH," tuturnya.

Tito menduga RM dan RH yang merupakan WN Pakistan merupakan sindikat pemalsuan visa yang beroperasi di Malaysia. Menurutnya, akibat perbuatannya, ketiga pelaku dapat dijerat Pasal 121 huruf (b) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, dengan ancaman pidana penjara maksimal 5 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 500 juta.

Kepala Bidang Intelijen dan Penindakan Keimigrasian (Kabid Inteldakim) Imigrasi Soetta, Andhika Pandu Kurniawan, menuturkan ketiganya datang ke Indonesia pada 15 Agustus 2022 dengan 2 pesawat yang berbeda. Ia mengungkapkan, identifikasi visa palsu cukup mudah diketahui.

"Karena sifatnya kan elektronik visa jadi dengan barcode yang ada di print out, kemudian nomor permohonan dimasukkan dalam sistem aplikasi permohonan visa itu sudah muncul ada nggak pemohon atas nama tersebut apakah nomor turunan ini muncul atau tidak kalau tidak muncul berarti memang tidak ada permohonan itu," ucapnya.

Ia menjelaskan, jika ketiganya memang benar-benar mengetahui bahwa memang menggunakan visa palsu untuk ke Indonesia, sudah memenuhi unsur pidana. Sementara jika ketiganya memakai visa palsu ini menjadi korban dari agensi, mereka tidak boleh masuk ke Indonesia.

"Tindakannya apa ya mereka dilakukan pengusiran atau deportasi dipulangkan ke negara asalnya," bebernya.

"Ketiganya mengaku akan melakukan bisnis ini kami dalami juga nanti dengan 3 perusahaan itu, 3 perusahaan itu bergerak dalam bidang minyak sawit juga. Nah, mereka mengakunya sementara ini melakukan bisnis minyak sawit nanti akan diekspor ke Afganistan dan Pakistan," imbuh Pandu.

(aik/aik)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT