ADVERTISEMENT

Komnas Perempuan: Trauma yang Dialami Istri Ferdy Sambo Tak Mengada-ada

Anggi Muliawati - detikNews
Kamis, 18 Agu 2022 14:23 WIB
Komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah
Komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah (Tiara Aliya/detikcom)
Jakarta -

Komnas Perempuan menegaskan trauma yang dialami istri Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, tidak mengada-ada. Hal itu dilihat berdasarkan hasil pemeriksaan medis yang dilakukan LPSK.

"Dari penyataan LPSK, sudah terkonfirmasi bahwa Ibu Putri memang mengalami depresi dan PTSD (gangguan stres pascatrauma). Jadi trauma yang dialaminya bukan mengada-ada," kata Komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah kepada wartawan, Kamis (18/8/2022).

"Karenanya, proses dan cara permintaan keterangan Ibu Putri tidak boleh memperburuk dampak yang dialaminya," sambungnya.

Siti mengatakan pihaknya merekomendasikan Putri untuk mendapatkan penanganan dari tim yang komprehensif. Menurutnya, dengan penanganan yang benar dapat membantu Putri untuk pulih, sehingga dapat bersaksi.

"Sedari awal kami merekomendasikan agar Ibu Putri ditangani tim yang komprehensif yang terdiri dari psikiater, psikolog klinis dan tenaga kesehatan untuk membantunya pulih dan dapat memberikan kesaksiannya," katanya.

Lebih lanjut, Siti memastikan Komnas Perempuan akan terus memantau keadilan dan pemulihan Putri. Komnas Perempuan juga meminta Bareskrim Polri memberikan ruang yang nyaman untuk Putri jika diperiksa sebagai saksi dalam kasus ini.

Komnas perempuan akan melakukan pemantauan bagaimana proses keadilan dan pemulihan ibu P, terkait dengan pemeriksaan di Bareskrim, Komnas Perempuan akan mestikan pemeriksaan itu dilakukan misalnya di ruang pelayanan khusus, diutamakan diperiksa oleh penyidik perempuan yg memiliki perpsektif dan kompetensi untuk penangan kasus pelecehan atau perempuan yang berhadapan dengan hukum," kata Siti.

Sebelumnya, LPSK melakukan pemeriksaan medis (psikiatri) dan psikologis terhadap istri Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi. LPSK mengungkap, dari pemeriksaan, didapatkan hasil bahwa Putri memiliki tanda dan gejala masalah kesehatan jiwa.

"Pemohon telah menjalani pemeriksaan medis termasuk psikiatri, termasuk psikologis, oleh LPSK pada 9 Agustus 2022. Dari hasil pemeriksaan dan observasi didapatkan kumpulan tanda dan gejala masalah kesehatan jiwa," kata Wakil Ketua LPSK Susilaningtias dalam konferensi pers di kantornya, Senin (15/8).

Susi juga mengungkap hasil-hasil lain setelah LPSK memeriksa psikologis Putri. Menurutnya, hasil pertama adalah Putri tidak cukup memadai untuk memberikan keterangan.

"Pertama, tidak memiliki kompetensi psikologis yang cukup memadai untuk melakukan pemeriksaan dan memberikan keterangan, termasuk kepada LPSK," ucap Susi.

Dalam kasus dugaan pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat, Bareskrim Polri telah menetapkan empat orang sebagai tersangka. Mereka adalah Bharada Richard Eliezer atau Bharada E, Irjen Ferdy Sambo, Bripka Ricky Rizal, dan Kuat Ma'ruf.

Pada Jumat (8/7), Bharada E diperintah Ferdy Sambo untuk menembak Brigadir Yoshua. Selain memerintah, mantan Kadiv Propam itu diduga merekayasa kronologi kasus pembunuhan seolah-olah terjadi baku tembak antara Bharada E dan Brigadir Yohsua di rumah dinasnya.

Sementara itu, Bripka RR dan KM berperan ikut membantu dan menyaksikan penembakan Bharada E terhadap korban. Mereka dijerat pasal pembunuhan berencana subsider pasal pembunuhan.

(zap/zap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT