#77PortraitAnakBangsa

Kiprah Mohamad Bijaksana Junerosano di Dunia Pemilahan Sampah

Hanifa Widyas - detikNews
Minggu, 14 Agu 2022 18:43 WIB
Mohamad Bijaksana Junerosano
Foto: Shot on OPPO Reno8 Pro 5G. Foto: Dok OPPO
Jakarta - Sampah merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya masalah lingkungan. Dikutip dari data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), terdapat sekitar 100 ribu hingga 400 ribu ton sampah plastik yang masuk ke laut Indonesia per tahun.

Melihat angka tersebut, seorang laki-laki bernama Mohamad Bijaksana Junerosano tidak tinggal diam. Berkat kepeduliannya terhadap lingkungan, ia merintis Waste4Change sejak tahun 2014 di Bekasi, Jawa Barat. PT Waste4Change Alam Indonesia (Waste4Change) adalah perusahaan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab atau responsible waste management.

Namun, tidak mudah baginya untuk merintis Waste4Change dan menyadarkan masyarakat untuk mengelola sampah dengan benar. Ia mengaku ada saja warga yang protes sebab biaya pengelolaan yang semakin mahal dan proses yang rumit. Melihat respons tersebut, Mohamad Bijaksana Junerosano tidak menyerah dan terus mengedukasi masyarakat.

Per Q1 2022, Waste4Change telah berhasil mengelola 9.237 ton sampah dan mengurangi 53 persen sampah yang berakhir di TPA. Layanan pengelolaan sampah Waste4Change telah mencakup wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Surabaya, Sidoarjo, Semarang, Bandung, dan Medan.

Kepedulian Mohamad Bijaksana Junerosano terhadap lingkungan sudah terlihat sejak ia menempuh pendidikan di ITB. Ia mendirikan 'U Green', kegiatan ekstra kurikuler mahasiswa yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Organisasi ini diketahui pernah menginisiasi gerakan 'Kebunku' yang diambil dari singkatan 'kertas bekas hijaukan bangsaku'.

Kemudian, ia mendirikan Greeneration Indonesia yang membawahi sejumlah usaha yang dijalankannya. Mulai dari produksi tas ramah lingkungan 'Bagoes', yayasan Diet kantong Plastik, hingga kemudian lahirlah Waste4Change, yang selain mengelola sampah juga bergerak di bidang konsultan lingkungan, training, serta studi kelayakan.

Ciri khas Waste4Change adalah penggunaan metode Zero Waste to Landfill. Pemilahan sampah dilakukan dari sumbernya, memastikan semua diolah tanpa ada yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), serta ada pelaporan alur sampah yang komprehensif.

Ia lanjut menyebutkan Waste4Change tidak hanya menyediakan jasa pengangkutan dan pemilahan sampah, tetapi juga layanan strategis untuk berbagai organisasi, termasuk perusahaan.

Angka 4 pada nama Waste4Change mencakup empat layanan utama, yaitu konsultasi (consult), kampanye edukasi (campaign), pengumpulan limbah (collect), serta upaya mengubah limbah menjadi bahan daur ulang (create).

Consult merupakan riset dan studi terkait persampahan; Campaign adalah capacity building, edukasi, dan pendampingan; Collect merupakan pengangkutan dan pengolahan sampah harian untuk nol sampah ke TPA; dan Create adalah daur ulang sampah dan penerapan program EPR (Extended Producer Responsibility).

Bagi sosok yang akrab dipanggil Sano ini, sampah yang dikelola dengan benar mampu menghasilkan uang hingga triliunan rupiah. Ia mengambil contoh kasus bisnis sampah di AS yang mampu meraup omzet hingga 500 miliar dolar serta bisnis sampah di Inggris yang mendapat keuntungan 8 miliar dolar per tahun.

Laki-laki kelahiran Banyuwangi 3 Juni 1981 ini mengungkapkan jika 'panen' sampah tidak hanya dilakukan secara informal oleh pemulung dan tukang lapak. Sebaliknya, lembaga formal juga bisa melakukan hal tersebut. (ads/ads)