#77PortraitAnakBangsa

Sepak Terjang Hendra Gunawan Lindungi Orangutan dari Jurang Kepunahan

Yudistira Imandiar - detikNews
Minggu, 14 Agu 2022 13:44 WIB
Hendra Gunawan
Foto: Shot on OPPO Reno8 Pro 5G. Foto: Dok OPPO
Jakarta - Orangutan merupakan primata endemik Indonesia. Spesies orangutan tersebar di Sumatera dan Kalimantan.

Ada 3 spesies orangutan yang hidup di Indonesia. Pertama, Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dapat ditemukan di Kalimantan dan Sarawak Malaysia. Spesies ini terbagi menjadi sub spesies, yaitu: Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo pygmaeus wurmbii, dan Pongo pygmaeus murio.

Kedua, Orangutan Sumatera (Pongo abelii) merupakan fauna endemik sumatera, yang hanya bisa ditemukan di sumatera. Ketiga, orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), orangutan ini terbatas hanya ditemukan di area Tapanuli dan Batang Toru.

Beberapa kawasan yang menjadi habitat primata besar ini antara lain di Sumatera bagian utara (Aceh dan Sumatera Utara), seperti di Taman Nasional Gunung Leuser serta Suaka Margasatwa Lamandau dan Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah.

Untuk menjaga kelestariannya, orangutan dilindungi oleh payung hukum. Salah satunya Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Namun, dengan status sebagai hewan dilindungi, kenyataannya orangutan tak bisa hidup tentram di alam liar. Praktik perburuan orangutan hingga kini terus terjadi di Indonesia. Utamanya satwa tersebut dijadikan peliharaan atau hewan koleksi orang-orang berduit. Belum lagi banyak orangutan yang terbunuh akibat perburuan dan pembebasan lahan hutan.

Kondisi bahaya yang dihadapi orangutan menggerakkan Hendra Gunawan untuk melakukan aksi nyata. Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, Hendra aktif melakukan upaya pelestarian orangutan melalui konservasi.

ASN Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) itu pun bergabung dengan NGO Internasional yang fokus dalam konservasi orangutan, yaitu Orangutan Foundation. Kini, ia menjabat sebagai Country Head Orangutan Foundation di Indonesia.

Kepada detikcom, Hendra membagikan pengalamannya menjaga kelestarian orangutan. Berikut petikan wawancaranya.

1. Boleh ceritakan awal perjalanan karier Anda, bagaimana Anda memulai dan apa tantangan yang Anda hadapi saat memulai karier?

Hi saya Hendra Gunawan, saya lahir di Cianjur, Jawa Barat, sekarang berdomisili di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Orang menjuluki kota ini sebagai the capital of Orangutan, ibu kotanya orangutan. Latar belakang pendidikan saya sarjana agribisnis dan program magister konservasi keanekaragaman hayati di IPB University. Tanpa disadari, tahun ini adalah tahun ke-20 saya berkecimpung di dunia konservasi alam.

Setelah kuliah, saya melanjutkan petualangan untuk bekerja di salah satu taman nasional di Kalimantan Barat, yaitu Taman Nasional Gunung Palung. Di taman nasional itulah minat dan kecintaan saya terhadap konservasi alam tumbuh bersemi. Dan di kawasan konservasi itu juga, saya pertama kali melihat orangutan, salah satu satwa endemik kalimantan yang karismatik. Jadi, bisa dibilang orangutan adalah cinta pertama saya di bidang konservasi alam.

Dari Kalimantan, saya hijrah ke Sumatera, untuk mengabdi di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Di sana, saya terlibat dalam upaya konservasi harimau, satu-satunya jenis harimau yang masih hidup di Indonesia. Selain harimau, di sana juga saya bertemu lagi dengan orangutan. Karena, TN Bukit Tiga Puluh merupakan salah satu lokasi reintroduksi orangutan di Sumatera. Orangutan tersebut ditranslokasi dari Sumatera Utara dan Aceh. Selanjutnya, saya berpindah ke Pulau Bali. Di sana saya terlibat dalam upaya konservasi Curik Bali di habitat aslinya, Taman Nasional Bali Barat.

Setelah berpindah-pindah dari tiga taman nasional yang ada di Gunung, Bukit dan Perairan Laut, Saya mencoba tantangan untuk bergeser menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) hybrid dan bergabung dengan NGO Internasional yang fokus dalam konservasi orangutan, yaitu Orangutan Foundation. Yayasan berbasis di Inggris yang mendukung pemerintah Republik Indonesia dalam konservasi orangutan dan habitatnya secara berkelanjutan.

Tantangan lain yang dihadapi, soal konsistensi program yang digagas dan telah diwujudkan. Seringkali saat saya pergi, program yang telah berjalan tidak dilanjutkan oleh tim atau anggota yang ditinggalkan. Ini berarti ada kendala dalam kaderisasi yang tidak berjalan atau memang program itu hanya berjalan saat ada orang yang berinisiatif.

2. Apa yang mendasari Anda untuk memilih karier yang Anda jalani saat ini?

Duapuluh tahun lalu, saya memutuskan pilihan hidup untuk menjadi ASN di Departemen Kehutanan. Motivasinya cuma satu, ingin dikenal sebagai ASN yang kreatif dan giat berkarya. Saat lulus dari bangku kuliah, suasananya di masa reformasi, semua orang ingin berkontribusi dalam perubahan negara ke arah yang lebih baik. Masa itu, stigma masyarakat terhadap pemerintah dan pegawainya sangat buruk. Sehingga saya ingin memberi warna dari dalam terhadap budaya dan kinerja pegawai pemerintah yang lebih baik dengan memutuskan menjadi ASN di Departemen Kehutanan. Walaupun keputusan tersebut mendapat cibiran dari teman-teman saya, mereka menganggap saya akan hidup susah jauh dari peradaban dan akan terjerumus pada kebiasaan menggerogoti uang rakyat melalui korupsi.

Saya langsung ditempatkan di Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat, yang jaraknya berkilo-kilometer dari kampung halamannya di Jawa Barat. Siapa sangka, di Taman Nasional Gunung Palung kecintaannya terhadap lingkungan mulai tumbuh. Saya menaruh perhatian khusus untuk mengedukasi masyarakat dan anak muda yang tinggal di sekitar Taman Nasional lewat berbagai kegiatan yang menyenangkan dan media kreatif. Banyak pendekatan kampanye adopsi perilaku yang saya pelajari dari NGO, saya adopsi dan kembangkan di Taman Nasional tempat saya bekerja.

Faktanya kondisi Lingkungan Indonesia saat itu dan bahkan sampai dengan saat ini butuh mendapat perhatian serius dari kita. Bukan hanya pemerintah, LSM atau komunitas, tapi setiap individu kita. Karena kita hidup di bumi yang sama dan menghirup udara yang sama. Saat pertama kali saya terlibat di bidang pekerjaan ini di awal tahun 2000, deforestasi cenderung tidak terkendali, penebangan liar dan perambahan hutan terjadi di mana-mana, termasuk di jantung kawasan tempat saya bekerja. Saya bersama teman-teman terlibat dalam upaya pemberantasan kegiatan penebangan liar melalui operasi persuasif dan represif. Kami harus berjalan puluhan kilometer dari pinggiran hutan menuju tengah hutan, melintasi sungai, mendaki bukit hingga harus tidur beratap langit hingga harus rela terbangun karena diguyur hujan. Semua itu kami lakukan demi menyelamatkan fungsi kawasan hutan yang kami lindungi sebagai sistem penyangga kehidupan. Kawasan hutan ini merupakan sumber air bersih bagi masyarakat yang ada di sekitar kawasan itu dan warga di ibu kota kabupaten serta pencegah banjir di area hilirnya. Selain itu, kawasan tersebut juga merupakan habitat asli orangutan kalimantan yang populasinya terus terancam sehingga perlu dilindungi, orangutan perlu bantuan kita, karena orangutan tidak bisa menyelamatkan sendiri dari ancaman kerusakan tempat tinggalnya. Kondisi orang utan tersebut bisa dibilang satwa yang membuat saya jatuh hati di bidang konservasi.

3. Bagaimana momen up and down dalam karier Anda? Dan bagaimana Anda bangkit saat berada di posisi terendah saat itu?

Jujur pernah bahkan sering ada pada situasi ingin meninggalkan lingkungan ini, karena rasanya mentok dengan apa yang sudah dilakukan, ga ada dukungan dan ga punya kekuatan untuk melakukan yang diinginkan. Tapi saya selalu teringat pepatah bijak, "jika kita mundur dan pergi dari apa yang dihadapi, berarti kita telah kalah". Itu yang membuat semangat saya kembali dan terus mencoba mencari jalan keluar dari setiap keadaan. Selain itu, Menyusun dan merangkai ide serta mengimplementasikan program yang baru di lokasi lain membuat itu semangat kembali. Ingin berjuang kembali untuk konservasi alam yang lebih baik.

4. Apa motivasi terbesar Anda dalam menjalani karier? Apa yang membuat Anda bertahan hingga berada di posisi sekarang?

Dua puluh tahun yang lalu, saya benar-benar seperti memasuki lorong gelap dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Karena latar belakang pendidikan yang tidak sesuai dengan pekerjaan. Tetapi saya terus berusaha dan belajar serta berkontribusi di bidang konservasi yang saya geluti. Lambat laun kecintaan, kepedulian dan kegigihan itu muncul dengan semangat terus berkontribusi dalam memperbaiki kondisi lingkungan serta mempertahankan alam yang menjadi rumah beragam flora dan fauna. Saat ini, tentu kepekaan, kecintaan dan kepedulian terhadap alam jauh lebih baik, karena sudah merasakan pahit getirnya berupaya mempertahankan atau memperbaiki lingkungan, mulai dari mencegah penebangan liar, mengendalikan kebakaran, dan menanggulangi sampah plastik serta tentunya terus berupaya mencegah orangutan dari kepunahan.

Tahun ini, genap sudah 20 tahun saya mengabdikan diri di bidang lingkungan, khususnya konservasi sumberdaya alam. Dalam kurun waktu tersebut, saya mengawali keterlibatan saya mengenai upaya konservasi Orangutan Kalimantan, lalu Orangutan Sumatera, Harimau Sumatera, dan curik bali. Lalu akhirnya, sejak empat tahun belakangan, saya kembali ke Pulau Kalimantan dan terlibat dalam konservasi orangutan di Kalimantan Tengah. Ini seperti cinta lama bersemi kembali, karena orangutan merupakan satwa yang membuat saya semangat untuk terus berkontribusi di bidang konservasi.

5. Apa impian terbesar yang ingin Anda wujudkan? Jika ada yang belum terwujud, bagaimana langkah-langkah Anda dalam mewujudkannya?

Saya akui bahwa bekerja di lingkungan pemerintahan ruang gerak saya terbatas hingga membuat saya kurang bebas bertindak dan mengutarakan aspirasi dari lubuk hati. Sehingga saya memiliki impian untuk membuat sebuah wadah yang fokus di dunia konservasi yang mandiri tanpa bergantung pada bantuan donor. Sehingga membuat saya lebih leluasa dalam merancang dan membuat sebuah program yang dampaknya mungkin akan lebih besar untuk berbagai pihak. Saya sadar masyarakat Indonesia belum sepenuhnya paham mengenai kegiatan konservasi di Indonesia, oleh karena itu langkah yang paling utama saya tidak akan pernah lelah untuk mengedukasi dan menyadarpahamkan, khususnya kepada generasi muda di Indonesia untuk lebih mengetahui dan terlibat langsung dalam kegiatan konservasi.

6. Ceritakan pengalaman paling berkesan/berharga dalam menjalani karier Anda?

Saat Pertama kali diminta untuk menghitung jumlah orang utan di suatu kawasan, saya mengira orangutan itu dihitung seperti menghitung bebek di tengah sawah. Maklum saat itu saya adalah lulusan agribisnis yang tidak belajar sama sekali tentang metode inventarisasi satwa. Rupanya untuk menghitung orangutan dapat dilakukan melalui jejaknya, yaitu sarang orangutan. Saat itu, saya berusaha belajar dari awal, bagaimana cara mengumpulkan data, mengolah data dengan suatu program hingga menyajikannya dalam bentuk laporan. Dan saya bisa mewujudkan tantangan itu. Jadi saat itu, saya sangat bahagia dan semakin tertarik untuk terlibat dalam upaya konservasi orangutan. Memulai kegiatan Konservasi tidak perlu harus ada di hutan dan hutan, kegiatan konservasi bisa dimulai dari hal paling kecil, dari diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Simak juga 'Pelepasliaran Orangutan di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh Riau':

[Gambas:Video 20detik]



(ads/ads)