ADVERTISEMENT

Pengacara Baru Bantah Ada Kode dari Bharada E Cabut Kuasa Deolipa

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Minggu, 14 Agu 2022 15:18 WIB
Eks pengacara Bharada E, Deolipa (Silvia-detikcom)
Eks pengacara Bharada E, Deolipa menunjukkan pencabutan surat kuasa dari Bharada E. (Silvia/detikcom)
Jakarta -

Kuasa hukum baru Bharada E atau Richard Eliezer, Ronny Talapessy, membantah keras kliennya memberi kode ada tekanan dalam surat pencabutan kuasa kepada Deolipa Yumara. Ronny menyebut yang terjadi adalah Bharada E mengaku keberatan atas sikap Deolipa yang lebih memilih bertemu awak media daripada mendampingi pemeriksaan awal.

"Tidak ada itu kode-kodean. Malah klien saya keberatan 'Bang pemeriksaan awal bukannya dampingin saya malah dia ketemu sama media' ini Bang Richard, Bharada E yang ngomong," kata Ronny saat dihubungi, Minggu (14/8/2022).

Ronny kemudian menanggapi perihal pernyataan Deolipa yang menyebut Irjen Ferdy Sambo menjanjikan uang Rp 1 miliar kepada Bharada E setelah menembak Yoshua. Ronny menyebut perihal itu harus dilihat dalam satu kesatuan cerita yang utuh.

"Itu kan ceritanya harus dilihat utuh ada ceritanya. Kalau seolah-olah mengasih uang itu kan klien saya berarti terlibat dalam rencana pembunuhan, padahal tidak, dia itu ditawari setelah kejadian," ungkapnya.

Ronny mengatakan sejatinya pencabutan kuasa bisa dilakukan secara sepihak. Dia pun menilai permintaan fee Rp 15 triliun dari Deolipa kepada Bharada E tidak mendasar karena sebelumnya tidak ada perjanjian honorarium.

"Kalau mengenai tuntutan masalah Rp 15 triliun ini, di UU kode etik advokat itu mengatur bahwa pemberian kuasa itu bisa dicabut secara sepihak dari klien. Kedua, kan tidak ada perjanjian honorarium yang 15 itu, kecuali ada perjanjian baru dia bisa nuntut, ini kan tidak ada perjanjian, ini pernyataannya ini yang tidak mendasar," ujar Ronny.

"Kan tidak ada perjanjian honorarium, pemberian kuasa tidak ada perjanjian honorarium antara Bharada E dan Deolipa ini tidak ada perjanjian honorarium, jadi tidak bisa menuntut, apalagi dia menuntut Presiden dan Kapolri, korelasinya apa? Kan yang memberikan kuasa ini Bharada E, fakta hukumnya seperti itu, kenapa dia minta ke negara kan nggak nyambung," sambungnya.

Diketahui, eks pengacara Bharada E, Deolipa Yumara, menduga pemberhentian dirinya sebagai kuasa hukum Bharada E lantaran ada intervensi. Dia menyebut ada terselip kode yang disampaikan Bharada E melalui tanda tangan di surat pencabutan kuasa tersebut.

"Tapi ada orang yang mengintervensi atau menyuruh sehingga dia (Bharada E) mencabut kuasa (saya sebagai pengacara)," kata Deolipa kepada wartawan di kediamannya, Depok, Sabtu (13/8).

Deolipa menyebut kode tersebut disampaikan Bharada E berkaitan dengan adanya tekanan terhadap dirinya untuk mencabut kuasa.

"Karena dia ngasih kode nih ke saya, dia sampaikan, dia memberi kode, 'Bang Deoli, ini saya di bawah tekanan'," sambungnya.

Lebih lanjut, Deolipa menyebut bahwa ada kesepakatan antara dia dan Bharada E terkait teknik penandatanganan. Dia dan Bharada E memiliki kesepakatan 'nyanyian kode' dalam teknik penandatanganan sebuah surat.

"Nyanyian kode itu adalah setiap lu tanda tangan surat atau apa pun juga, lu harus tulis tanggal sama jam di samping tanda tangan atau di atas, baik surat itu bermeterai atau tidak," jelasnya.

Selanjutnya, Deolipa memperlihatkan surat pencabutan kuasa yang ditandatangani oleh Eliezer, tanpa keterangan tanggal dan jam.

Simak Video ''Nyanyian' Deolipa di Balik Pencopotannya: Ada 'Jenderal'-Eliezer Ditekan':

[Gambas:Video 20detik]



(whn/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT