ADVERTISEMENT

Kompolnas Apresiasi Kapolri: Berani Membuka Secara Jelas Kasus Brigadir J

Audrey Santoso - detikNews
Kamis, 11 Agu 2022 08:31 WIB
Suasana kantor kompolnas saat pertemuan tertutup dengan kapolri
Suasana Kantor Kompolnas (Bisma Alief/detikcom)
Jakarta -

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), sebagai pengawas eksternal Polri, mengapresiasi sikap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang dinilai berani mengungkap keterlibatan mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo dalam kematian Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Brigadri J. Kompolnas mengaku sudah memprediksi soal keterlibatan Sambo di kasus ini.

"Apresiasi kepada Kapolri yang sudah berani membuka secara jelas, yang selama ini menjadi kotak pandora publik. Kompolnas sudah membaca ini sejak beberapa waktu yang lalu. Tetapi memang kewenangan Kompolnas kan tidak bisa masuk di penyidikan," kata Komisioner Kompolnas, Albertus Wahyurudhanto, kepada wartawan, Rabu (10/8/2022).

Sesuai dengan tugasnya, Kompolnas terus mengawasi langkah-langkah kepolisian yang melakukan investigasi. Albertus mengatakan kewenangan Kompolnas memang berbeda dengan Komnas HAM, yang dapat melakukan pemeriksaan.

"Karena itu bukan wilayah kita, kita kan hanya mengamati. Kita kan dari data yang kita peroleh kita ada kecurigaan ke arah sana. Tapi itu kan bukan kewenangan kita. Beda dengan Komnas HAM yang bisa memanggil, nah kita kan tidak bisa memanggil," jelas Albertus.

Kompolnas menyampaikan, sejak awal tim khusus Kapolri dibentuk untuk membuat terang-benderang kasus kematian Brigadir J, pihaknya mengamati tim bekerja serius. Maka para tersangka dalam kasus ini, yakni Irjen Ferdy Sambo, Bharada E, Brigadir Ricky Rizal, dan sopir istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, yang berinisial K sudah tak bisa lagi mengelak.

"Terbukti dengan scientific tidak bisa elak-mengelak. Maka begitu penetapan pencopotan, yaitu yang pertama adalah Brigadir E itu kan ada pasal liputannya contoh pasal 55-56. Ini berarti sebetulnya penyidik sudah tahu. Cara masuknya (ke pidana) saja penyidik masih nyari," ujar Albertus.

"Kemudian berarti kalau pasal liputan berarti ada orang lain lagi. Nah lalu bagaimana untuk menjerat yang dugaan awal melibatkan Pak Ferdy Sambo? Ternyata Polri juga pintar, pertama kali menggunakan jalur sidang etika. Karena dengan pemeriksaan etika, itu bisa langsung menahan (Ferdy Sambo)," imbuh Albertus.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT