Biar Siswa Tidak Kaget, Depdiknas Perlu Gelar Pra-UN
Jumat, 23 Jun 2006 14:57 WIB
Jakarta -
Banyak siswa SMU yang stres atau kaget saat mengerjakan soal ujian nasional (UN). Akibatnya, banyak siswa yang tidak lulus. Ke depan, bila pemerintah ingin mempertahankan UN, sebaiknya perlu menggelar pra-UN terlebih dulu. Demikian saran Ahmad Hidayat untuk Mendiknas Bambang Sudibyo yang dikirimkan ke redaksi detikcom, Jumat (23/6/2006). Menurut dia, dengan adanya UN, otomatis seluruh yang terkait dalam bidang pendidikan dasar dan menengah, seharusnya jauh-jauh hari sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. "Dengan begitu, tidak ada alasan beda kurikulum-lah, soal susah-lah, belum dipelajari di sekolah, dan lain-lain," kata karyawan swasta di Jakarta ini. Meski begitu, Ahmad Hidayat menyarankan, sebelum UN dilakukan harus ada semacam latihan (dulu mungkin disebut juga PRA-EBTA) dengan soal dari pemerintah dan dilakukan di seluruh Indonesia, sehingga kelemahan masing-masing dapat segera diketahui. Latihan ini mungkin bisa dilakukan setiap akhir semester mulai dari kelas VII SMP s/d kelas akhir di SMA/K, atau setiap 2 semester. "Memang untuk keperluan ini, pemerintah harus menyediakan anggaran ekstra, tetapi tujuan akhirlah yang lebih penting," ujar dia. Pembaca lainnya, Ichal, menganggap UN seharusnya tidak dijadikan sebagai hal yang ditakuti. "UN itu seharusnya bukan jadi masalah dan ditakuti oleh siswa, justru sebagai penyemangat dan daya dorong untuk meningkatkan kualitas, baik secara akademis maupun mental," tulis Ichal dalam e-mailnya. UN bukanlah masalah. Justru UN itu media untuk mendeteksi kekurangan, baik dari segi akademis maupun mental. Karena itu, kata Ichal, orang-orang yang merasa kecewa dengan adanya UN perlu mengoreksi diri sendiri dan bukan menyalahkan. "Baik guru dan siswa yang mengamuk, maupun mencaci hasil UN merupakan orang-orang yang berusaha menutupi kekurangan dirinya, mutu sekolah dan gurunya serta mentalnya yang rapuh. Bagaimana dia bisa mengatakan saya juara kelas dari kelas satu tapi tidak lulus," tulis Ichal. Karena itu, menurut Ichal, perlu diselidiki apakah hasilnya selama ini murni dan bagaimana mutu sekolah, serta mental dan sikap gurunya.
(asy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































