Komnas HAM Desak CCTV Terkait Kasus Brigadir J Segera Dibuka

ADVERTISEMENT

Komnas HAM Desak CCTV Terkait Kasus Brigadir J Segera Dibuka

Anggi Muliawati - detikNews
Senin, 08 Agu 2022 15:03 WIB
Ketua Komnas Ahmad Taufan Damanik saat memaparkan dampak tambang emas di Sangihe (detikcom/Trisno Mais)
Ketua Komnas Ahmad Taufan Damanik (Trisno Mais/detikcom)
Jakarta -

Komnas HAM mendesak agar semua barang bukti terkait kasus kematian Brigadir J segera dibuka. Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengatakan barang bukti tersebut dapat membuat penyelidikan menjadi lebih terang.

"Makanya saya desak CCTV harus dibuka, nah itu. Alat komunikasi harus dibuka, karena kalau cuma keterangan orang demi orang, apalagi sumir kan, makanya kita sangat concern CCTV itu dibuka, alat komunikasi dibuka. Karena itu yang membuat terang," kata Taufan di Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (8/8/2022).

Taufan berharap semua barang bukti tersebut dibuka dalam kondisi lengkap. Dia menyebut pihaknya tidak langsung menyimpulkan dari keterangan saksi, namun perlu disinkronkan dengan barang bukti lain, berupa CCTV dan alat komunikasi.

"Ya memang kita pasti akan tanda tanya besar gitu, nanti kalau CCTV itu ditemukan, ya mudah-mudahan sih barangnya masih lengkap semua, nah itu akan terang benderang, tambah lagi alat komunikasi, dan seperti itu," katanya.

Menurutnya, CCTV merupakan kunci dari kasus tewasnya Brigadir J. Dia mendesak agar CCTV segera dibuka. Jika tidak, pihaknya akan melapor kepada Menko Polhukam Mahfud Md.

"Oh, iya (CCTV kunci), dan sekarang itu sedang diperiksa. Saya berkeras soal CCTV itu. Bahkan saya bilang, saya akan lapor Istana, pengertiannya itu bukan langsung ke Presiden begitu, kan ada Pak Menko, kami koordinasi dengan Pak Menko karena apa? Itu atasan langsung mereka," katanya.

"Jadi mereka tidak bisa mengatasi beberapa masalah yang membuat titik terang kasus ini sulit diungkap, ya memang harus ada tekanan dari atasnya," sambungnya.

Sebelumnya, baku tembak antara Brigadir J atau Brigadir Yoshua dan Bharada E terjadi di rumah singgah Irjen Ferdy Sambo di kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (8/7) sore. Baku tembak itu menewaskan Brigadir J.

Polisi menyebut baku tembak diawali dugaan pelecehan oleh Brigadir J terhadap istri Irjen Ferdy Sambo. Brigadir J merupakan personel kepolisian yang ditugaskan sebagai sopir istri Ferdy Sambo.

Dugaan pelecehan itu disebut membuat istri Ferdy Sambo berteriak. Teriakan itu kemudian didengar Bharada E yang bertugas sebagai pengawal Irjen Ferdy Sambo. Bharada E pun bertanya tentang apa yang terjadi tapi direspons dengan tembakan oleh Brigadir Yoshua.

Brigadir Yoshua dan Bharada E kemudian disebut terlibat baku tembak. Brigadir Yoshua tewas dalam baku tembak.

Kasus ini baru diungkap ke publik tiga hari kemudian atau Senin (11/7). Sejumlah pihak, mulai Menko Polhukam Mahfud Md hingga Ketua Komisi III DPR Bambang Wuryanto, menilai ada kejanggalan dalam kasus ini.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit pun membentuk tim khusus untuk mengusut kasus ini. Selain itu, Komnas HAM dan Kompolnas ikut mengusut sebagai tim eksternal.

Simak video '5 Progres Signifikan Kasus Pembunuhan Brigadir J':

[Gambas:Video 20detik]



(yld/yld)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT