Depkes Gandeng Muhammadiyah Dalam Gerakan Hidup Sehat
Jumat, 23 Jun 2006 13:18 WIB
Solo - Departemen Kesehatan menggandeng Muhammadiyah dalam penyelenggaraan upaya kesehatan dan peningkatan sumber daya manusia kesehatan. Muhammadiyah bertekad akan mendirikan unit pelayanan kesehatan di setiap kabupaten/kota di Indonesia.MoU 'Gerakan Hidup Sehat' itu ditandatangai Menteri Kesehatan Siti Fadhillah Supari dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dalam pembukaan Rakernas Majelis Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat PP Muhammadiyah di Istana Mangkunegaran, Solo, Jumat (23/6/2006).Selain itu Muhammadiyah juga menjalin kerjasama dengan Bank Syariah Mandiri. Rumah sakit milik Muhammadiyah diharapkan dapat memanfaatkan dana dari Bank Syairah Mandiri dalam upaya peningkatan kualitas untuk mendapatkan sertifikasi ISO.Dalam sambutan pembukaan, Din Syamsuddin menyampaikan bahwa saat ini organisasi yang dipimpinnya telah memiliki 450 unit pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya 116 buah rumah sakit kecil, sedang maupun besar.Dalam empat tahun mendatang, Muhammdiyah memprogramkan bahwa setiap Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM/pengurus di tingkat kabupaten/kota) seluruh Indonesia harus telah memiliki unit pelayanan kesehatan."Kalaupun belum berupa rumah sakit, bisa poliklinik atau bahkan ruang praktek dokter sekali pun. Saat ini bahkan sudah ada beberapa cabang (pengurus Muhammadiyah di tingkat kecamatan -red) yang memiliki rumah sakit, tapi masih ada juga PDM yang belum memilikinya," papar dia.Sementara itu Siti Fadhillah yang memperkenalkan diri sebagai satu-satunya menteri di Kabinet Indonesia Bersatu yang direkomendasi oleh Muhammadiyah, berharap Muhammadiyah untuk segera juga memikirkan pendirian pos kesehatan desa yang dikelola oleh pengurus ranting."Sebagai kader yang tahu potensi di dalamnya, saya yakin Muhammadiyah mampu mendirikan dan mengelola unit kesehatan desa," ujar Menkes yang dalam acara tersebut mengenakan pakaian seragam Aisyiah, organisasi perempuan Muhammadiyah.PembaharuanDin Syamsuddin juga berharap dari Rakernas tersebut Majelis Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat PP Muhammadiyah menghasilkan sebuah rekomendasi yang dilandasi dengan semangat tajdid atau pembaharuan untuk pelayanan umat yang merupakan ciri khas Muhammadiyah.Dia mencontohkan saat ini sedang dilakukan pengkajian lebih mendalam tentang kelemahan pemeliharaan yatim piatu dalam sebuah panti asuhan. Pola tradisional itu dinilai berpotensi terjadinya psychological missing link atau keterputusan hubungan kejiwaan si anak dengan keluarga yang masih hidup."Harus dipikirkan cara yang lebih elegan misalnya dari panti asuhan ke asuhan keluarga. Si anak dibesarkan oleh kerabatnya yang masih hidup lalu setiap seminggu sekali didatangi atau didatangkan untuk mendapat pendidikan dan pendampingan," ujar Din Syamsuddin.
(asy/)











































