Sejak Kelas 1 Ranking, Diterima PTN, Kok Nggak Lulus UN?
Kamis, 22 Jun 2006 11:19 WIB
Jakarta - Tonjokan terhebat akibat Ujian Nasional (UN) diderita oleh para siswa pintar yang dinyatakan tidak lulus. Selama sekolah, ranking tidak lepas dari mereka. Tapi prestasi mereka dikalahkan oleh 120 menit UN."Adik lelaki saya juga salah satu korban UN tahun ini. Dia adalah salah satu siswa jurusan IPA di salah satu sekolah swasta di Jakarta Selatan. Dari kelas 1 adik saya itu selalu menduduki ranking 10 besar di sekolahnya, oleh karena itu sama sekali tidak disangka kalau dia tidak lulus UN," cerita seorang pembaca detikcom yang meminta namanya tidak disebutkan, Kamis (22/6/2006). Sang adik juga gagal di tes matematika dengan selisih angka hanya kurang 0,25 dari batas nilai untuk lulus, sementara di mata pelajaran Bahasa Indonesia hasil UN 8 dan Bahasa Inggris 9. "Kami sekeluarga kaget mendengar kabar tersebut. Yang saya sayangkan, katanya pemerintah mau memajukan pendidikan, tapi mengapa hasil kerja keras adik saya dan juga banyak anak lainnya selama tiga tahun harus musnah dengan satu mata pelajaran dengan beda angka hanya 0,25? Apalagi dia sudah diterima di salah satu perguruan tinggi di Bandung," sesal pembaca tersebut.Menurutnya, kelulusan itu jangan hanya dipatok dari hasil UN, tetapi harus dari penilaian guru-guru yang selama ini membimbing siswanya. Karena merekalah yang paling tahu tentang kondisi dan kemampuan siswa. "Faktor lainnya, dari teman-teman satu angkatan adik saya tersebut, ada 25 orang dari jurusan IPA yang tidak lulus UN. Nah, apakah itu tidak patut dipertanyakan? Bagaimana kredibilitas si guru tersebut? Kok anak didiknya sampai 25 orang tidak lulus, dan semuanya di bidang yang sama?" gugatnya.Dan yang lebih ironisnya lagi, banyak dari mereka yang tidak lulus adalah mereka yang sudah diterima kuliah di universitas negeri, swasta maupun mendapatkan beasiswa dalam negeri maupun luar negeri. "Jika dipikir dengan logika, masa iya yang diterima beasiswa/PMDK itu siswa yang bodoh?" protesnya."Sekali lagi saya hanya minta pemerintah untuk memikirkannya lagi, paling tidak selenggarakanlah ujian perbaikan, saya rasa itu cukup adil dalam menghadapi masalah ini. Hargailah kerja kerja mereka selama tiga tahun, dan yang lebih penting untuk kondisi mental sang murid, yang akan berpengaruh besar pada masa depannya nanti. Mungkin buat pemerintah ini hanya semata berpegang pada peraturan, tetapi bagi mereka ini adalah penentu nasib dan masa depan," tulisnya.Keluarga Anda juga korban UN? Kisahkan pada kami di redaksi@staff.detik.com.
(nrl/)











































