#77PortraitAnakBangsa

Kisah Eks Pilot Budi Soehardi Bantu Anak Terlantar Raih Pendidikan Layak

Erika Dyah - detikNews
Senin, 08 Agu 2022 20:37 WIB
Budi Soehardi
Shot on OPPO Reno8 Pro 5G. Foto: Dok OPPO
Jakarta -

Pendidikan yang layak menjadi gerbang yang membuka masa depan anak bangsa. Hal inilah yang disadari oleh Budi Soehardi, Founder Yayasan Kasih Roslin yang telah mendedikasikan diri mengurus anak terlantar sejak tahun 1999 silam.

Pria yang telah melanglang buana ke berbagai belahan dunia saat berprofesi menjadi pilot ini memiliki kisah yang sungguh inspiratif. Meski kariernya cemerlang, ia justru memilih pensiun dini dan mendedikasikan waktu untuk anak-anak asuhnya yang tergabung dalam Yayasan Kasih Roslin.

Adapun kisahnya dengan para anak asuh ini dimulai pada suatu malam di tahun 1999, ia bersama keluarga yang sedang makan malam merasa tergugah saat melihat kondisi pengungsi Timor Timur di Atambua, Nusa Tenggara Timur. Sejak itu, ia bersama keluarga berupaya membantu para pengungsi hingga akhirnya pada 1999 dibangunlah Panti Roslin yang memberi tempat tinggal untuk bernaungnya para pengungsi.

Kini, Budi menjadi ayah angkat bagi ratusan anak di Kabupaten Kupang, NTT. Sebagai seseorang yang mengutamakan pendidikan, ia pun mewajibkan anak asuhnya untuk memperoleh pendidikan yang layak. Sehingga mereka wajib bersekolah dan belajar ilmu bercocok tanam. Berkat dedikasinya ini, ia pun pernah mendapat anugerah 'CNN Heroes 2009' atas kontribusinya pada kemanusiaan.

Kepada detikcom, Budi membagikan kisah inspiratifnya selama menjadi pilot serta motivasinya untuk terus membantu sesama dan mendorong pendidikan layak bagi anak-anak bangsa. Berikut petikan wawancaranya.

1. Boleh ceritakan awal perjalanan karier Anda, bagaimana Anda memulai dan apa tantangan yang Anda hadapi saat memulai karier?

Saya Budi Soehardi, lahir 31 Agustus 1956. Anak ke 5 dari 5 bersaudara. Ayah saya seorang dosen di UGM dan salah satu pendiri IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang menjadi Universitas Negeri Yogyakarta).

TK SD SMP SMA di sekolah BOPKRI (Badan Oesaha Pendidikan Kristen Indonesia). Sekolah BOPKRI adalah sekolah multikultur yang sangat mengedepankan universal values (Gubernur Ganjar Pranowo dan Dr Terawan adalah lulusan BOPKRI). Dengan values yang diajarkan selama bersekolah di BOPKRI, saya merasa confident dalam menghadapi hidup.

Masa kecil saya cukup berat karena ayah saya meninggal (16 Juli 1965, kecelakaan) pada saat saya berusia 9 tahun. Masa kecil saya sering makan satu hari satu kali tetapi karena kebersamaan kami sekeluarga maka kami bisa memakan berbagai buah organik dari kebun kami sendiri.

Hanya dengan pendidikan maka kita bisa menjadi apa saja sesuai dengan usaha kita. Pernah kuliah di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta selama 1 bulan 3 hari saja karena saya ke Australia, dikirim oleh Garuda Indonesia ke Australian Flying Training School dan Bankstown Aviation College sebagai calon penerbang Sipil pada Juni 18 1976. Selesai training dan kembali ke Indonesia 21 Desember 1977 dengan Commercial Pilot License, Multi Engine dan Instrument rating (bisa menerbangkan pesawat dengan hanya melihat instrumen dan tanpa melihat keluar).

· Selesai training di Garuda dan mulai bekerja sebagai co-pilot Fokker F28 April 10 1978 dengan dasar kontrak kerja 10 tahun.

· Tahun 1983 menjadi Captain Fokker 28 dan terus bekerja di Garuda sampai Desember 1989.

· Januari 1990 saya ke Korean Airlines dan bekerja sampai Juni 1998.

· Juli 1998 saya mulai terbang untuk Singapore Airlines sampai 2015. Saya menerbangkan pesawat wide body Boeing dan Airbus kecuali A380.

Yang paling berkesan menerbangkan B747-400 (paling besar saat itu , sekarang ada B747-800) dan A340-500 (pesawat dengan daya jelajah terpanjang di dunia , bisa terbang 20 jam lebih. Saya sering terbang mengelilingi bumi 3 kali sebulan karena terbangnya hanya Singapore ke New York dan kembali ke Singapore. Rute satunya adalah Singapore-Los Angeles-Singapore. Terbang melintasi Samudera Pasifik, Atlantik, dan kutub utara sangat penuh dengan keindahan alam dan kadang juga was-was karena harus melintasi daerah-daerah yang ada badai typhoon, hurricane, Cyclone, dan sebagainya.

Pengalaman bekerja sebagai penerbang sangat indah, menyenangkan tetapi penuh dengan kedisiplinan (saya sehat sampai pensiun , tidak merokok, minum alkohol. dan sampai sekarang masih rutin olahraga). Hidup ini indah , tetaplah tinggal di dalam keindahan itu. Life is good, be in it

2. Apa yang mendasari Anda untuk memilih karier yang Anda jalani saat ini?

Setelah 40 tahun terbang dengan perlindungan Tuhan (tanpa accident dan incident) maka sudah sewajarnya kita mencoba yang terbaik agar bisa berguna bagi sesama. Dengan melayani secara tulus, maka Tuhan akan hadir dan akan menyempurnakan semua kegiatan kita. Tuhan akan hadir dengan pertolongan-pertolongan dan jalan-jalan yang diperlukan. Tuhan akan hadirkan orang lain di saat kami tidak mampu.

3. Bagaimana momen up and down dalam karier Anda? Dan bagaimana Anda bangkit saat berada di posisi terendah saat itu?

Selama berkarier sebagai penerbang saya tidak pernah mengalami up and down, kecuali seringnya harus pisah dengan keluarga saat sedang tugas terbang. Sebagai penerbang karier saya selalu up dan up saja, sampai saya putuskan untuk pensiun dini (usia pensiun penerbang adalah 65, saya berhenti pada usia 59). Dalam hal lain saya ingin menutup panti asuhan di tahun 2007.