ADVERTISEMENT

Legislator PD: Hasil Riset Migor Terlalu Kecil untuk Lembaga Sebesar BRIN

Firda Cynthia Anggrainy - detikNews
Jumat, 29 Jul 2022 17:57 WIB
Minyak goreng curah.
Ilustrasi minyak goreng (Kartika Sari/detikSumut)
Jakarta -

Anggota Komisi VII Fraksi Partai Demokrat Sartono Hutomo menyoroti hasil riset terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) soal minyak goreng. Sartono menilai hasil riset itu terlalu kecil untuk lembaga sebesar BRIN.

Sartono mengatakan BRIN seharusnya menggelar penelitian dan pengembangan soal alternatif pengganti minyak goreng. Terutama minyak goreng yang lebih sehat dan terjangkau.

"Terlepas dari hasil riset penelitian BRIN tersebut terlalu kecil untuk lembaga sebesar BRIN. Seharusnya BRIN mengadakan penelitian pengembangan apa sebagai pengganti minyak goreng yang lebih sehat dan terjangkau oleh masyarakat," kata Sartono saat dihubungi, Jumat (29/7/3022).

Sartono menuturkan semua elemen bangsa memiliki harapan yang besar kepada lembaga BRIN. Menurutnya, BRIN perlu mampu mengakselerasi perkembangan dan kemajuan bangsa.

"Semua elemen bangsa punya harapan yang besar kepada BRIN agar mampu menjadi lembaga yang mampu mengakselerasi perkembangan dan kemajuan bangsa kita ini," katanya.

Diketahui, baru-baru ini BRIN mengungkap hasil riset, seiring naiknya harga minyak, terjadi perubahan perilaku konsumsi pada konsumen Indonesia. Hal itu tercantum dalam laporan riset berjudul 'Perubahan Perilaku Konsumen Sebelum dan Setelah Dicabutnya Subsidi Minyak Goreng Sawit'.

Minyak goreng itu dapat mempengaruhi perekonomian ketika terjadi kelangkaan. Menurut riset tersebut, konsumsi nasional minyak goreng sawit di Indonesia periode 2015-2021 tercatat terus mengalami peningkatan.

Namun, saat harga minyak goreng naik, peneliti BRIN I Gede MY Bakti mengungkapkan masyarakat mengurangi konsumsi. "Dengan mengubah metode masak menjadi merebus, mengukus, atau memanggang," kata dia dalam acara webinar, Kamis (28/7/2022).

Di sisi lain, ada masyarakat yang menggunakan minyak goreng meski harga mahal. Tak cuma itu, banyak masyarakat yang beralih ke minyak goreng nonsawit, seperti minyak kanola, kedelai, jagung, dan bunga matahari hingga membuat minyak kelapa sendiri.

Kemudian masyarakat juga mengurangi pembelian minyak goreng dengan cara menggunakan berulang kali.

"Memang terjadi perubahan perilaku konsumsi dari aspek jumlah dan frekuensi, tetapi tidak beralih ke minyak goreng curah," jelas dia.

Ada beberapa merek yang paling banyak dicari, seperti Bimoli, Sunco, Sania, dan Tropical. Masyarakat dalam mengkonsumsi minyak sawit memperhatikan kualitas, harga, dan aksesibilitas.

Harga yang bisa diterima oleh masyarakat di kisaran Rp 15 ribu hingga Rp 19.200 per liter.

Simak juga 'Jokowi akan Bikin Minyak Merah, Lebih Murah dari Migor Bening':

[Gambas:Video 20detik]



(fca/gbr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT