Mendes Harap Desa Wisata Cerminkan Dampak Penataan Lingkungan

ADVERTISEMENT

Mendes Harap Desa Wisata Cerminkan Dampak Penataan Lingkungan

Hanifa Widyas - detikNews
Kamis, 28 Jul 2022 18:43 WIB
Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk menjadi pendamping pengembangan desa wisata.
Foto: Dok. Kemendes PDTT
Jakarta -

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk menjadi pendamping pengembangan desa wisata. Pendampingan ini fokus pada penyusunan master plan agar pembangunan desa wisata lebih terukur dan terarah.

Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengatakan setelah master plan tersebut disusun dengan melibatkan warga desa baru dibicarakan rencana pembangunan secara bertahap dan prioritas.

"Pendampingan penyusunan master plan ini penting banget supaya pembangunan kita ini jelas dan lebih terarah," ujarnya saat mengunjungi Desa Wisata Waduk Tanjungan, Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur seperti dalam keterangan tertulis, Kamis (28/7/2022).

Lebih lanjut, dia mengingatkan desa wisata jangan dijadikan tujuan, melainkan dampak dari penataan lingkungan. Menurutnya, wisata adalah dampak dari penataan lingkungan yang membuat lingkungan jadi menarik perhatian wisatawan.

Biasanya, kata dia, kalau tujuan yang terlintas adalah wisata, dalam pikiran perangkat desa adalah pabrikan atau wisata yang dipaksakan, umur pembangunan tersebut tidak akan bertahan lama. Namun, berbeda dengan wisata alam yang tidak akan lekang oleh waktu.

"Jangan merancang wisata tapi lakukan apa yang bermanfaat bagi alam, bagi lingkungan, bagi pengairan, bagi pertanian, bagi kehidupan warga masyarakat. Wisata itu dampak yang dihasilkan dari kondisi itu," jelasnya.

Ia mengungkapkan tempat wisata yang sesuai dengan prinsip tersebut adalah Wisata Waduk Tanjungan. Konon, lanjutnya, Waduk Tanjungan dibangun oleh Departemen Kehutanan pada tahun 1981 dengan tujuan membantu warga desa yang sedang kesulitan air untuk menanam padi karena kekeringan.

Sebagai informasi, saat ini Waduk Tanjungan sudah berusia 40 tahun dan dikelola oleh BUMDesa. Awalnya, waduk ini dibangun bukan untuk dijadikan tempat wisata. Namun saat ini, lahan sekitar waduk semakin subur dan dikelilingi pemandangan indah serta menarik.

Simak juga 'Sandiaga Apresiasi Desa Wisata Widosari Masuk 50 Besar ADWI 2022':

[Gambas:Video 20detik]



(akd/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT