ADVERTISEMENT

Hoegeng Awards 2022

Kisah Menyentuh Awal Mula Aipda Rohimah 'Polwan Kampung' Jadi Polisi

Farih Maulana Sidik - detikNews
Kamis, 28 Jul 2022 11:57 WIB
Jakarta -

Peraih penghargaan Hoegeng Awards 2022 kategori Polisi Berdedikasi, Aipda Rohimah, bercerita awal mula dirinya menjadi anggota Polri. Polwan yang gaya bicaranya ceplas-ceplos ini mendaftar lewat program yang dibuka oleh Komjen (Purn) Makbul Padmanegara saat menjabat Kapolda Metro Jaya.

"Ya tahun 2002 beliau (Makbul) berkunjung ke Muara Gembong. Di Muara Gembong anggotanya itu tidak ada yang asli dari orang pribumi, yaitu orang Muara Gembong. Ada orang Bekasi, tapi nggak ada orang pribumi asli Muara Gembong. Nah di situ beliau bilang, carilah katanya, pemuda pemudi yang lulusan SMA dengan syarat, silakan daftar secara gratis. Nah, sayalah salah satu putri daerah yang mengikuti program Pak Makbul saat itu," kata Mpok Imeh, sapaan akrab Aipda Rohimah, dalam program Blak-blakan di detikcom, Kamis (28/7/2022).

Saat program itu dibuka, Rohimah baru lulus dari SMAN 1 Sukatani pada 2003. Sukatani adalah kecamatan tetangga Muara Gembong, kampung asalnya.

Program gratis masuk polisi itu membuat Rohimah tertarik untuk mendaftar. Orang tuanya juga membolehkan dirinya mendaftar jadi polisi.

"Saya lagi bercanda, orang tua saya bilang, 'Eh, jangan bercanda aja, tadi ada polisi datang ke sini', katanya 'Daftar deh, daftar polisi. Daftar polisi noh'. 'Beh, duit dari mana kita'. 'Udah daftar tadi, gratis katanya, benar gratis, iya gratis coba aja daftar, tanya sana kantor polisi'. Saya tanya ke Polsek Muara Gembong, alhamdulillah saya daftar benar-benar gratis," ucap Rohimah.

Aipda Rohimah awalnya tidak berpikir sama sekali untuk menjadi anggota Polri. Saat itu dia tak tahu banyak soal Korps Bhayangkara, akses informasi juga tak mudah.

"Nggak (terpikir), karena saya pikir polisi gitu bagaimana, karena saya pikir ya polisi gitu bagaimana, saya nggak tahu jalannya, alurnya ke mana. Secara saya nggak ada keluarga besar polisi, babeh saya hanya seorang RT gitu kan yang menjabat seperti kayak Soeharto mungkin 33 tahun," ujarnya.

Singkat cerita, Aipda Rohimah pun dinyatakan lulus administrasi sebagai anggota Polri, lalu mengikuti pendidikan. Lagi-lagi, karena 'orang kampung' ia tidak terbayang sama sekali bagaimana pelatihan-pelatihan yang akan diterimanya selama pendidikan awal kepolisian itu, bahkan dia sempat mengira masa pendidikannya hanya tiga hari.

"Kagak sama sekali, saya tidak terbayang, karena saat itu, pamit pulang, 'Eh, Beh, besok anterin ke Bekasi Kota'. Babeh saya mah nggak tahu ya, namanya orang kampung. Saat pengumuman pendidikan juga nggak nongol. Saya mah ini ada bapaknya temen saya tuh waktu diumumin lulus, seneng kan dipeluk. Saya diem kan. Yang lain pada nangis pada dipeluk, lah saya lulus nggak ada yang peluk, nggak ada yang nganterin, saya diem aja," ujarnya.

"Eh terus ada yang dateng deh temannya bapak saya, terus saya di peluk 'Ya Allah kasihan banget' saya bilang ke babeh saya, 'Beh... Beh... lulus', 'Ya udah lulus mah', kayak gitu. Nggak tahu deh orang tua mah. 'Besok, Beh, mau berangkat' kata saya gitu, 'berapa hari?', 'nggak tahu katanya tiga hari doang, katanya tiga hari doang'. Pas sampai sana ternyata 6 bulan," tutur Aipda Rohimah.

Saat berangkat untuk menempuh pendidikan kepolisian di Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel), Aipda Rohimah menyebut teman-temannya itu membawa uang berjuta-juta. Tapi dirinya saat itu hanya dibawakan uang Rp 150 ribu, itu pun hasil pinjaman dari tetangga.

"Di Ciputat, iya dikumpulin-lah uang-uang itu kan nggak boleh dibawa, harus dikumpulin. Saya lihat orang-orang ngumpulin uang pada banyak-banyak banget, juta-jutaan, saya inget dibawain uang cuma Rp 150 ribu. Waktu itu bapak saya sama ibu saya malem-malem ketok pintu rumah orang, minjem uang kan buat berangkat ke pendidikan gitu," ungkapnya.

Dia mengaku sempat menangis saat pendidikan itu, karena terasa berat dan keras. Ia pun sempat mengutarakan keinginannya untuk pulang, tidak melanjutkan pendidikan. Tapi pada akhirnya ia mampu bertahan hingga akhir.

Selama pendidikan itu, ia berjanji akan kembali ke Muara Gembong untuk mengabdi, membantu masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Hingga kini, Kanit Binmas Polsek Muara Gembong itu telah 19 tahun menjadi anggota Polri dan mengabdi di Muara Gembong.

"Saya dari orang biasa saja, saya punya niat 'ya Allah, saya pengin bantu orang-orang yang memang membutuhkan, pengin jadi, bahwa polisi itu tidak seburuk itu, tidak semua. Semuanya baik kok, saya bilang begitu', mau menunjukkan bahwa kita juga bisa berbuat kebaikan di mana pun kita berada, seperti itu," imbuhnya.

(fas/tor)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT