ADVERTISEMENT

Tabrak Lari Pesepeda di Bundaran HI, Hukuman Pengemudi Mercy Disunat

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 27 Jul 2022 14:36 WIB
Seorang pesepeda ditabrak mobil di Bundaran HI, Jakarta Pusat pada Jumat (12/3/2021). Saat ini pengemudi mobil telah ditangkap.
Foto: istimewa
Jakarta -

Masih ingat kasus tabrak lari di Bundaran HI antara mobil sedan Marcedes-Benz dan pesepeda? Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta melansir hukuman Muhammad Dhafa Aditya yang didakwa melakukan tabrak lari pesepeda di Bundaran HI. Dalam putusan itu, hakim tinggi menyunat hukuman Muhammad Dhafa Aditya.

Hal itu tertuang dalam putusan PT Jakarta yang dikutip detikcom, Rabu (27/7/2022). Tertuang dalam dakwaan bahwa Muhammad Dhafa Aditya akan mengantarkan pulang teman perempuannya di Jalan Suwiryo, Menteng, pada 12 Maret 2021 subuh. Muhammad Dhafa Aditya mengantar dengan mobil sedannya.

Muhammad Dhafa Aditya meluncur dari Jalan Sudirman menuju Bundaran HI. Setelah melintas di Bundaran HI, kendaraan yang dinaiki Muhammad Dhafa Aditya di jalur kanan dan hendak mengambil jalur kiri guna menuju Jalan Imam Bonjol.

Di saat yang sama, melintas pesepeda Ivan Kristofer Silfanus dari arah belakang. Muhammad Dhafa Aditya tidak melihat ada sepeda dari belakang dan tancap gas menuju Jalan Imam Bonjol.

Mercy yang dikendarai Muhammad Dhafa Aditya menabrak dan melindas korban. Bahkan, korban masuk ke kolong mobil. Adapun sepeda balap yang dikendarai Ivan Kristofer Silfanus terpental.

Bukannya menghentikan kendaraannya, Muhammad Dhafa Aditya malah tancap gas menuju Jalan Imam Bonjol. Muhammad Dhafa Aditya meninggalkan korban di tengah jalan. Oleh warga, korban langsung dibawa ke RS karena mengalami luka berat. Korban mengalami tulang rusuk patah, termasuk tulang rusuk comminuted yang berdekatan dan kompatibel dengan flail chest bilateral.

Kecelakaan itu tertangkap kamera CCTV dan menjadi viral. Akhirnya pelaku ditangkap di Bintaro, Tangsel. Atas perbuatannya, Muhammad Dhafa Aditya diproses hukum dan diadili.

Jaksa menuntut Muhammad Dhafa Aditya dihukum 8 tahun penjara. Akhirnya, PN Jakpus menjatuhkan hukuman kepada Muhammad Dhafa Aditya selama 5,5 tahun penjara. Muhammad Dhafa Aditya dan jaksa sama-sama mengajukan banding atas putusan itu.

"Menyatakan Terdakwa Muhammad Dhafa Aditya tersebut di atas telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana 'mengemudikan kendaraan bermotor yang yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan Lalu lintas dengan korban luka berat dan mengemudikan kendaraan bermotor yang terlibat kecelakaan lalu lintas dengan sengaja tidak menghentikan kendaraannya, tidak memberikan pertolongan'. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan," putus PT Jakarta.

Duduk sebagai ketua majelis Siti Farida, dengan anggota Mohammad Lutfi dan Abdul Fatah. Hal yang meringankan sehingga hukuman disunat adalah pihak keluarga Terdakwa sudah berusaha mendekati keluarga korban untuk mencari solusi tetap tidak berhasil.

"Terdakwa masih berusia muda, masih ingin melanjutkan kuliahnya," kata majelis tinggi.

Versi Pelaku

Kuasa hukum terdakwa menyatakan keberatan atas hukuman tersebut.

"Penasihat Hukum terdakwa pada pokoknya tidak sependapat dengan tuntutan dan Putusan Pengadilan tingkat pertama dan mohon agar supaya terdakwa dibebaskan atau mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono)," demikian pertimbangan banding terdakwa.

Berikut alasan terdakwa mengajukan banding:

1. Amar Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri tidak memenuhi rasa keadilan.
2. Saksi korban Ivan Kristofer silvanus tidak pernah memberikan keterangan dihadirkan dalam proses penyidikan, penuntutan, dan persidangan.
3. Terdapat alat bukti berupa foto elektronik Traffic Law Enforcement (ETLE) yang diajukan Jaksa Penuntut Umum yang tidak ada kaitannya dengan Locus Delicti dan Tempus Delekti.
4. Judex Factie tingkat pertama tidak cermat dan lengkap dalam memberikan pertimbangan hukum mengenai unsur pasal 311 ayat (4) UU LLAJ mengenai 'Dengan sengaja mengemudikan kendaraan dengan cara atau keadaan yang membahayakan'.
5. Pembanding telah melaporkan diri ke pihak Kepolisian.
6. Tidak terdapat alat bukti yang menerangkan saksi korban membutuhkan perawatan di rumah sakit selama 30 (tiga puluh) hari berturut-turut.

Tonton juga Video: Mobil Diamuk Warga Usai Tabrak Pemotor di Palembang

[Gambas:Video 20detik]



(asp/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT