Beli Permen Ganja Medis untuk Insomnia, WN Jerman di Kaltara Dibui 5 Tahun

ADVERTISEMENT

Beli Permen Ganja Medis untuk Insomnia, WN Jerman di Kaltara Dibui 5 Tahun

Andi Saputra - detikNews
Selasa, 19 Jul 2022 14:52 WIB
Ini Fatwa MUI Terkait Penggunaan Ganja Sebagai Campuran Makanan
Ilustrasi (Getty Images/Mario Arango)
Jakarta -

Warga negara (WN) Jerman, Declan Christopher (25), dihukum 5 tahun penjara karena membeli ganja medis untuk kesehatannya. Christopher, yang tinggal di Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), membeli permen tersebut secara online.

Hal itu tertuang dalam putusan Pengadilan Negeri (PN) Tanjung Selor, Selasa (19/7/2022). Christopher menyelesaikan kuliah S1 jurusan antropologi di Oxford serta S2 jurusan master ekologi di Jerman dan Prancis.

Selesai kuliah, Christopher bekerja di Thailand dan Malaysia hingga mulai kerja di Kaltara pada 2020. Christopher bekerja atas sponsor Pemerintah Federal Jerman sebagai tenaga ahli di Dinas Lingkungan Hidup Kaltara.

Pada 2021, Christopher memesan 3 permen yang mengandung Tetrahydrocannabinol (THC) secara online. Namun pemesanan itu ternyata terendus aparat kepolisian dan Christopher ditangkap pada 9 Juni 2021. Akhirnya Christopher diproses hukum dan diadili.

Di persidangan, Christopher menyatakan pembelian permen ganja itu untuk mengobati sakitnya.

"Untuk membantu mengobati penyakit punggung dan insomnia yang dialami oleh Terdakwa, permen tersebut tidak dikonsumsi langsung sekaligus, akan tetapi hanya dipergunakan ketika sedang sakit dan pada saat akan bekerja," kata Christopher dalam kesaksiannya.

Christopher membeli permen itu untuk diri sendiri. Setelah memakan permen ganja ketika sakit pada punggung, Christopher tertidur lebih cepat.

"Saya tidak mengetahui bahwa penggunaan jenis makanan yang mengandung ganja dilarang di Indonesia karena di negara Jerman tidak dilarang," kata Christopher dalam pengakuannya.

Christopher berani membeli karena mempunyai izin dari dokter yang ada di Jerman. Di Jerman, permen itu dijual di apotek. Di negara asalnya itu, Christopher juga mendapatkan resep untuk memakai ekstrak ganja.

"Resep dokter yang menerangkan bahwa permen yang mengandung Tetrahydrocannabinol (THC) hanya diterjemahkan dari bahasa Jerman ke bahasa Inggris tidak ada terjemahan ke bahasa Indonesia," ucap Christopher.

Kepada majelis hakim, Christopher menuliskan pleidoi:

Sebelum saya menutup surat permohonan maaf saya. Yang mulia dan bapak jaksa dan hakim saya sangat sangat menyesal telah membuat masalah dengan ini semua. saya sangat menyesal telah tidak menghormati Indonesia dan melanggar hukum Indonesia. Untuk itu sekiranya semua dokumen yang telah diberikan dan keterangan saksi-saksi bisa meringankan beban saya dan dideportasi kembali ke negara saya berkumpul dengan keluarga saya.

Tujuh bulan di penjara adalah pelajaran berharga bagi saya, yang akan saya bukukan dan ceritakan dengan rekan kerja saya di belahan dunia lain untuk lebih berhati-hati apabila ke negara orang lain, harus belajar semua aspek. Saya mohon dengan sangat bapak jaksa dan hakim Yang Mulia untuk saya diberikan belas kasih atas kebodohan dan kenaifan saya.

Setelah persidangan digelar berturut-turut, majelis hakim menolak alasan pembenar Christopher. Majelis hakim menyatakan Christopher bersalah melanggar UU Narkotika.

"Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa Declan Christopher oleh karena itu dengan pidana penjara selama 5 (lima) tahun dan denda sejumlah Rp1.000.000.000,00 (Satu miliar rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana penjara selama 4 (empat) bulan," ucap majelis hakim.

Duduk sebagai ketua majelis Joshua Agustha dengan anggota Christofer dan Mifta Holis Nasution. Putusan itu lebih ringan 2 tahun daripada tuntutan jaksa. Putusan ini dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Samarinda.

Simak juga 'BNN: Kami Cenderung Mau Selamatkan Generasi Muda daripada Legalkan Ganja':

[Gambas:Video 20detik]

(asp/rdp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT