ADVERTISEMENT

Sebut Plastik Bukan Musuh, Pakar: Persoalannya jika Dibuang ke Lingkungan

Atta Kharisma - detikNews
Senin, 18 Jul 2022 19:20 WIB
Ilustrasi produk plastik
Foto: iStock
Jakarta -

Pakar sumber daya air sekaligus pendiri Indonesia Water Institute (WI) Firdaus Ali mengungkapkan polemik galon plastik berbahan kimia dan galon sekali pakai yang mencuat belakangan ini mengaburkan persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana cara mengatasi timbulan sampah yang kini menjadi polutan baik di darat maupun laut di Indonesia. Di laut, sampah plastik terbukti menjadi ancaman besar pada ekosistem laut, kesehatan publik, bisnis perikanan dan sektor pariwisata.

"Plastik bukanlah musuh kita. Kalau ada kampanye mengatakan 'Say No to Plastic', itu adalah kampanye yang salah," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (18/72022).

"Persoalannya baru timbul apabila plastik dibuang ke lingkungan dan berakhir di badan air, inilah yang menjadi musuh bersama. Jadi yang salah adalah tindakan-tindakan primitif kita, sehingga plastik jadi persoalan lingkungan," sambung Firdaus.

Firdaus mengungkapkan berdasarkan data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) dan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia tercatat menghasilkan 64 juta ton sampah per tahun. Dari jumlah tersebut, 5 persen atau 3,2 juta ton di antaranya adalah sampah plastik.

Dari angka 3,2 juta ton tersebut, produk air minum dalam kemasan (AMDK) bermerek menyumbang 226 ribu ton atau 7,06 persen. Lalu dari jumlah tersebut, sebanyak 46 ribu ton atau 20,3 persen berasal dari sampah AMDK gelas plastik.

Karenanya secara kasat mata, selain volume timbulan sampah air minum dalam kemasan plastik berukuran di bawah 1 liter terbukti sulit untuk dikumpulkan sehingga berceceran dan mengotori lingkungan.

Senada dengan Firdaus, Kepala Subdirektorat Tata Laksana Produsen Direktorat Pengurangan Sampah , Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Ujang Solihin Sidik mengatakan timbulan sampah gelas plastik ukuran mini ini sangat berpotensi menjadi polutan. Karenanya, produsen didorong untuk memproduksi botol plastik yang lebih besar (size up).

"Kemasan yang kecil-kecil, khususnya yang dirancang sekali pakai dan tidak bisa diguna ulang, potensi jadi sampah atau polutannya sangat tinggi dibanding kemasan berukuran besar. Apalagi jenis plastiknya tidak bisa didaur ulang, maka sudah pasti jadi sampah karena tidak laku," tuturnya.

"Makanya kita dorong ukurannya diperbesar dalam konteks pengumpulan kembali (produk guna ulang). Dalam konteks industri daur ulang, ukuran itu menjadi penting," lanjut Ujang.

Lebih lanjut, ia menerangkan sampah AMDK gelas plastik termasuk penutup, sedotan dan pembungkusnya sebenarnya dapat menciptakan ekonomi sirkular bila didaur ulang. Sayangnya, hal ini belum bisa diwujudkan karena timbulan sampah plastik yang ada belum cukup memadai, sehingga Indonesia justru mengimpor bahan baku sampah plastik untuk kebutuhan daur ulang.

Ujang menjelaskan pemerintah melalui KLHK sebenarnya sudah memiliki strategi untuk mengurangi sampah plastik industri melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah, di mana semua produsen didorong untuk menyusun roadmap pengurangan sampah dengan target pengurangan 30 persen timbulan sampah per Desember 2029.

Peraturan ini juga mendorong industri untuk stop produksi (phase-out) air minum kemasan ukuran di bawah 1 liter dan juga kemasan saset di bawah 50 mililiter.

Sayangnya, respon pihak industri masih belum memadai, karena sejauh ini baru ada 33 perusahaan yang sudah mengirimkan dokumen komitmen pengurangan sampah plastik hingga 2029. Salah satu penyebabnya adalah karena produk air minum dalam kemasan mini masih jadi primadona yang laris di pasar, kendati berperan besar merusak lingkungan.

(akn/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT