ADVERTISEMENT

Uni Eropa Ingatkan Ancaman Sampah Plastik di Perairan Laut RI

Erika Dyah - detikNews
Rabu, 01 Jun 2022 12:29 WIB
Pekerja Dinas Lingkungan Hidup membersihkan Pantai Cilincing di Jakarta, Selasa (8/6/2021). Pada 8 Juni diperingati sebagai Hari Laut Sedunia, peringatan ini dilakukan sebagai bentuk perhatian akan pentingnya ekosistem laut yang selama ini menjadi sumber daya yang dibutuhkan manusia.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Perwakilan Uni Eropa untuk Indonesia, Seth Van Doorn mengatakan sistem pengolahan sampah belum cukup efektif menekan volume sampah plastik di perairan laut. Adapun salah satu jenis sampah yang berisiko ialah kemasan yang mudah tercecer dan susah didaur ulang, termasuk sedotan plastik, minuman gelas dan kantong plastik.

"Sampah plastik di perairan laut merupakan salah satu ancaman lingkungan terbesar dunia," kata Seth dalam keterangan tertulis, Rabu (1/6/2022).

"Sekitar 60-90% dari sampah yang tercecer di laut adalah sampah plastik, utamanya sedotan plastik, minuman gelas dan kantong plastik," imbuhnya.

Menurutnya, sampah plastik di laut meningkat seiring tahun akibat urbanisasi, pembangunan, dan perubahan pola konsumsi dan produksi. Ia menilai sampah sebagai ancaman serius pada ekosistem laut, bisnis perikanan, kesehatan publik, dan juga sektor turisme.

Dalam sesi Dialog Nasional Pengurangan Sampah oleh Produsen di Jakarta, ia menjelaskan sampah air minum kemasan gelas dan botol termasuk yang berkontribusi signifikan pada polusi sampah plastik di laut termasuk juga di Indonesia.

Data yang diolah berbagai sumber menunjukkan produksi air minum kemasan gelas mencapai 10,4 miliar kemasan gelas setiap tahunnya. Adapun timbulan sampah yang dihasilkan mencapai 46 ribu ton atau hampir sepertiga dari total timbulan sampah industri air kemasan bermerek.

Jumlah timbulan sampah itu belum menghitung timbulan sampah sedotan plastik, 'komplemen' dalam penjualan air minum gelas yang notabene lebih mudah tercecer di lingkungan. Pada segmen ini, lanjutnya, market leader industri air kemasan berkontribusi pada timbulan 5.300 ton sampah gelas plastik.

Data juga menunjukkan produksi air kemasan botol sekali pakai mencapai 5,5 miliar botol per tahun dengan volume sampah sebesar 83 ribu ton. Jumlahnya hampir separuh timbulan sampah plastik industri air kemasan bermerek. Adapun separuh dari timbulan sampah pada segmen botol ini merupakan sampah market leader.

Diketahui, hingga sejauh ini memang belum ada data resmi ihwal volume sampah gelas plastik dan botol plastik air kemasan yang mampir di perairan laut. Namun, contoh kelamnya sudah jadi rahasia umum seperti yang pernah terjadi di Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Pada 2018, warga di wilayah yang dikenal dengan keindahan bawah lautnya itu geger setelah mendapati seekor ikan paus sperma (Physeter macrocephalus) mati terdampar dengan perut berisi enam kilogram plastik, termasuk 115 buah sampah plastik air minum gelas.

Pada kesempatan yang sama, Seth Van Doorn mengungkap harapannya agar pemerintah dan kalangan produsen di Indonesia tidak berpuas diri. Apalagi, menurutnya, per Maret lalu, majelis lingkungan PBB United Nations Environment Assembly dalam sebuah pertemuan di Nairobi, Kenya, telah menyepakati fase awal negosiasi kesepahaman pengurangan polusi plastik di level dengan implikasi yang bakal mengingat secara hukum.

Dalam menghadapi ancaman plastik ini, pemerintah Indonesia pun bergegas meluncurkan strategi pengurangan sampah plastik nasional. Salah satunya melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.

Lewat kebijakan tersebut, pemerintah mendorong produsen di bidang manufaktur, jasa makanan dan minuman, serta industri ritel untuk menyetor road map pemangkasan 30% volume sampah per Desember 2029.

Kementerian juga mendesak produsen menggunakan kandungan daur ulang pada kemasan pangan serta mendorong produsen meninggalkan kemasan mini yang mudah tercecer dan kurang bernilai ekonomis untuk didaur ulang. Pada industri air kemasan, misalnya, aturan phase out berlaku untuk air minum kemasan di bawah 1 liter. Pengaturan serupa berlaku untuk kemasan sachet di bawah 50 mililiter.

Diketahui, sejauh ini tercatat baru 33 perusahaan yang telah mengirimkan dokumen yang memuat data komitmen pengurangan sampah plastik hingga 2029. Khusus pada industri air kemasan bermerek, kalangan produsen masih tampak berlomba menawarkan produk downsize berupa air mineral ukuran mini yang notabene mudah tercecer dan mencemari lingkungan.

Menariknya, saat sejumlah produsen air kemasan memperkenalkan kemasan upsize, semisal galon ukuran 5, 6 dan 15 liter, produk sejenis kerap jadi sasaran kampanye negatif karena dianggap menambah volume sampah. Padahal, kemasan tersebut justru sejalan dengan arahan phase out kemasan mini per Desember 2029.

Dalam sesi dialog yang difasilitasi Uni Eropa ini, Kepala Subdirektorat Tata Laksana Produsen, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ujang Solihin Sidik ikut mengakui berbagai kesulitan yang dihadapi pemerintah terkait adopsi peta jalan pengurangan sampah. Ia mengungkap dilema terkait problematic packaging, barang konsumsi yang peredarannya masif. Misalnya, sachet yang sifatnya hanya dipakai sekali dan kurang bernilai ekonomis untuk didaur ulang.

Kendati demikian, Ujang mengaku optimistis program Ekonomi Sirkular atau gerakan pengurangan, daur ulang, penarikan, dan pemanfaatan kembali sampah plastik bisa menemukan momentum dari penerapan awal pada industri besar.

"Peraturan itu berlaku untuk semua level produsen, baik besar maupun kecil. Namun dalam implementasinya, target utamanya adalah perusahaan-perusahaan besar karena merekalah kontributor terbesar sampah plastik," tutur Ujang.

"Bagi kami fair kalau penerapannya mulai dengan perusahaan besar, semisal perusahaan multinasional. Apalagi perusahaan multinasional sudah punya komitmen global," pungkasnya.

Simak juga 'Eks Kadis LH Cilegon Jadi Tersangka Korupsi Proyek Depo Sampah':

[Gambas:Video 20detik]



(ega/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT