Ini Peran 30 Tersangka Mafia Tanah yang Dibongkar Polda Metro

ADVERTISEMENT

Ini Peran 30 Tersangka Mafia Tanah yang Dibongkar Polda Metro

Yogi Ernes - detikNews
Senin, 18 Jul 2022 14:35 WIB
Polda Metro Jaya merilis pengungkapan kasus mafia tanah, Senin (18/7/2022). Hingga saat ini total sudah ada 30 tersangka yang ditangkap dan sebagian ditahan di Polda Metro Jaya.
Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi (tengah) (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Polda Metro Jaya menetapkan 30 orang sebagai tersangka kasus mafia tanah. Polisi mengungkap peran para tersangka tersebut.

"Pertama adalah pendana. Misalnya oknum pegawai jasa keuangan dari awal sudah membiayai daripada perbuatan melawan hukum ini," kata Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi saat jumpa pers di kantornya, Senin (18/7/2022).

Dia mengatakan, setelah jadi, sertifikat ini diagunkan ke bank. Pada saat yang sama, bank juga tidak sadar soal kepemilikan sertifikat tersebut.

"Dan ternyata bank ini juga bahwa dia tidak sadar bahwa dia hanya memegang sertifikat saja sedangkan tanahnya masih menjadi milik orang lain," katanya.

Hengki menerangkan tersangka ada juga ada yang berperan mencari target. Dia mengatakan sejumlah korban yang melapor mengatakan ada tanah mereka yang tidak dijaga dan dipasang plang status kepemilikan tanah.

Polda Metro Jaya merilis pengungkapan kasus mafia tanah, Senin (18/7/2022). Hingga saat ini total sudah ada 30 tersangka yang ditangkap dan sebagian ditahan di Polda Metro Jaya.Polda Metro Jaya merilis pengungkapan kasus mafia tanah, Senin (18/7/2022). Hingga saat ini total sudah ada 30 tersangka yang ditangkap dan sebagian ditahan di Polda Metro Jaya. (Agung Pambudhy/detikcom)

"Jadi modus operandi dari beberapa LP, tanah kosong aset pemerintah, maupun masyarakat atau perusahaan yang tidak dijaga atau dipasang plang, tiba-tiba di-profiling oleh kelompok ini kemudian dicari sertifikat kemudian dicari pembandingnya dan dipalsu, timbul sertifikat baru," ucapnya.

Peran tersangka lainnya adalah yang bertugas membuat dokumen palsu, seperti dokumen girik. Hengki mengatakan pihaknya banyak menyita girik-girik palsu untuk pembanding.

"Kemudian pada saat proses PM1 keterangan tidak sengketa, kemudian tidak pernah dijual, kemudian lain sebagainya, ini biasanya di pihak kelurahan, kemudian AJB, dan sebagainya," kata dia.

Peran keempat tersangka ialah sebagai penghubung ke pihak oknum BPN untuk mem-profiling lahan calon korban. Setelah itu, akan terbit dokumen pembanding yang notabene adalah palsu.

Peran terakhir atau kelima ialah oknum BPN yang berperan dalam penerbitan dokumen sertifikat.

"Artinya, kalau dalam modus yang lama, dalam peralihan hak, tak ada peranan BPN. Pada modus yang baru, penerbitan hak ini berperan secara aktif," ucapnya.

Simak video 'Menteri ATR-Kapolda Metro Kompak Berantas Habis Mafia Tanah':

[Gambas:Video 20detik]



Simak selengkapnya di halaman berikutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT