ADVERTISEMENT

Timbulan Sampah Gelas Plastik Capai 46 Ribu Ton, Berpotensi Jadi Polutan

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Jumat, 15 Jul 2022 20:27 WIB
Ilustrasi produk plastik
Ilustrasi/Foto: iStock
Jakarta -

Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia menghasilkan 64 juta ton sampah per tahunnya. Adapun sebanyak 5 persennya, atau 3,2 juta ton merupakan sampah plastik.

Dari timbulan sampah plastik, produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) bermerek menyumbang 226 ribu ton atau 7,06 persen. Sementara itu, 46 ribu ton atau 20,3 persen dari total timbulan sampah produk AMDK bermerek merupakan sampah AMDK kemasan gelas plastik.

Selain volume timbulan, AMDK plastik berukuran di bawah 1 liter disebut sulit untuk dikumpulkan sehingga mudah tercecer dan mengotori lingkungan.

"Ukuran yang kecil-kecil itu berpotensi besar menjadi polutan," ujar Kepala Subdirektorat Tata Laksana produsen, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ujang Solihin Sidik dalam keterangan tertulis, Jumat (15/7/2022).

Hal ini ia sampaikan dalam sebuah webinar tentang penggunaan AMDK belum lama ini. Terkait hal ini, Ujang menyebut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Nomor 75 tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen mengatur soal ketentuan produk minuman dalam kemasan plastik. Adapun produk tersebut paling kecil bervolume 1 liter.

"Ini bukan anjuran, tapi kewajiban yang harus dijalankan," kata Ujang.

Ujang mengatakan berdasarkan Peraturan Menteri KLHK tersebut, produsen memiliki tanggung jawab memilih desain produk yang dapat diguna ulang dan didaur ulang. Selain itu, produsen juga diharapkan dapat menghindari penggunaan kemasan di bawah 1 liter. Terlebih dalam Peraturan Menteri KLHK, pemerintah menargetkan menurunkan timbulan sampah hingga 30 persen pada 2029.

Menurut Ujang, target ini dapat diwujudkan dengan mengurangi timbulan sampah, memanfaatkan kembali, dan mendaur ulang. Salah satu cara mengurangi timbulan sampah adalah membatasi penggunaan kemasan minuman bervolume kurang dari 1 liter serta melarang penggunaan saset, sedotan plastik, dan kantong plastik, yang berlaku pada 1 Januari 2030.

"Mereka juga memiliki tanggung jawab untuk menarik kembali produk-produk mereka pascakonsumsi," katanya.

"Peraturan itu berlaku untuk semua level produsen, baik besar maupun kecil. Namun dalam implementasinya, target utamanya adalah perusahaan-perusahaan besar karena merekalah kontributor terbesar sampah plastik," lanjut Ujang.

Ujang menambahkan AMDK gelas plastik juga menggunakan jenis material plastik (polypropylene) yang belum dapat diterima oleh industri daur ulang di Indonesia. Jenis ini meliputi gelas, penutup, sedotan, maupun pembungkus sedotannya. Akibatnya, meski dapat dikumpulkan, sebagian besar sampah AMDK gelas plastik menjadi timbulan di tempat pembuangan akhir yang tak bisa dimanfaatkan.

Data Sustainable Waste Indonesia pun melaporkan tingkat daur ulang sampah plastik di Indonesia baru mencapai 7 persen. Padahal, jenis plastik PET, yang kerap digunakan untuk kemasan AMDK botol dan galon, mencapai 70 persen tingkat daur ulang.

Di samping itu, data tersebut menunjukkan AMDK gelas plastik, termasuk penutup, sedotan, dan pembungkus sedotannya, menimbulkan masalah besar bagi lingkungan. Hal ini terjadi lantaran sampah tersebut tak bernilai untuk didaur ulang.

Akibatnya, industri daur ulang pun tidak memperoleh bahan baku yang dibutuhkan sehingga terpaksa mengimpor bahan baku sampah plastik 750 ribu ton per tahun. Padahal, jika sampah plastik bisa didaur ulang dan dikelola dengan baik, ekonomi sirkular di Indonesia dapat tumbuh pesat.

"Plastik bukan musuh peradaban," kata Ahli Lingkungan dari Universitas Indonesia, Firdaus Ali.

"Tapi yang bermasalah adalah tindakan primitif kita, sehingga plastik menjadi persoalan lingkungan," imbuhnya.

Di sisi lain, pada 2021, Sungai Watch merilis laporan terkait brand audit terhadap sampah plastik yang mencemari sungai dan laut di Bali. Sungai Watch menemukan 10 besar perusahaan yang produk dan kemasannya paling mencemari Bali,

"Perusahaan yang paling banyak menyampah di Bali menurut survey banyaknya total sampah plastik 27.486 item atau 12 persen dari total sampah plastik yang dianalisis," tulis Sungai Watch dalam laporannya.

Laporan tersebut pun menyebut sampah plastik bersumber dari sampah plastik AMDK gelas (14.147 item) dan botol (12.352 item). Adapun jumlah ini merupakan perkiraan total produksi 5,13 miliar gelas dan 2,7 miliar botol per tahunnya.

Dari total pasar AMDK segala bentuk, secara persentase tertinggi menurut survei terakhir berada di angka 51,4 persen pasar. Sedangkan, sisa sekitar 20 persen pangsa pasar merupakan porsi penjualan 1.000 lebih merek lain.

Lihat juga video 'Pria di Bali Sulap Sampah Rumah Tangga Jadi Pupuk':

[Gambas:Video 20detik]



(akn/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT