Kisah Lansia Korban Mafia Tanah di Jakut, Disomasi-Diusir dari Lahan Sendiri

ADVERTISEMENT

Kisah Lansia Korban Mafia Tanah di Jakut, Disomasi-Diusir dari Lahan Sendiri

Yogi Ernes - detikNews
Jumat, 15 Jul 2022 19:47 WIB
Waluyo (kiri) dan anaknya, Ari Suseno (kanan) di Polda Metro Jaya.
Waluyo (kiri) dan anaknya, Ari Suseno (kanan), di Polda Metro Jaya. (Yogi/detikcom)

Waluyo Lapor ke Polda Metro Jaya

Korban lalu membuat laporan ke Polda Metro Jaya pada Januari 2021. Saat itu korban hanya melaporkan AS atau Pak Haji selaku terlapor.

Hasil penyelidikan polisi rupanya mengungkap adanya keterlibatan orang lain dalam kasus tersebut. Dua pejabat BPN Kota Jakarta Utara dan AS lalu berhasil ditangkap.

"Kalau informasi yang kami dapat itu ada tiga orang (pelaku). Satu orang yang kita laporkan dan dua orang dari pihak BPN," terang Karna, pengacara korban.

Ketiga pelaku itu kini telah ditetapkan tersangka dan ditahan di Polda Metro Jaya. Waluyo, selaku korban mengucapkan terima kasih atas kinerja polisi dalam mengungkap kasus tersebut.

"Saya terima kasih selama hampir setahun setengah dipanggil, diundang saya dilayani baik-baik. Sampai sekarang saya sudah merasa lega. Saya terima kasih kepada kepolisian khususnya Harda unit lima. Saya mohon masyarakat jangan takut lagi di Polda orangnya baik-baik. Apabila memiliki (kasus) serupa jangan khawatir insyaallah akan dilayani dengan baik," tutur Waluyo.

Waluyo juga berharap tanah yang ia miliki selama puluhan tahun bisa kembali ke tangannya setelah para pelaku ini ditangkap.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya menangkap 6 pejabat BPN, 10 pegawai BPN, dan puluhan tersangka lainnya terkait kasus mafia tanah ini. Praktik mafia tanah yang dilakukan para tersangka, salah satunya dengan menyalahgunakan program pendaftaran tanah sistematis lengkap (PTSL).

Polisi saat ini baru menerima enam laporan dari korban. Tetapi disinyalir masih banyak korbannya.

Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi mengatakan sindikat mafia tanah tidak mengenal latar belakang korbannya. Menurut Hengki, para korban mafia tanah berasal dari rakyat biasa hingga menyasar pada aset pemerintah.

"Korban-korban mafia tanah ini ada perusahaan besar, aset-aset pemerintah pusat, maupun rakyat jelata. Banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa dia adalah korbannya," kata Hengki.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan mengimbau masyarakat yang merasa menjadi korban mafia tanah melapor ke pihak kepolisian.

"Polri berkomitmen dalam pemberantasan mafia tanah. Kami imbau kepada masyarakat untuk melapor apabila merasa dirugikan," kata Zulpan.


(ygs/mea)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT