ADVERTISEMENT

Anak Kandung Palak Ibu Disabilitas untuk Mabuk, Dedi Mulyadi Murka!

Atta Kharisma - detikNews
Kamis, 07 Jul 2022 16:28 WIB
Dedi Mulyadi
Foto: Dedi Mulyadi
Jakarta -

Anggota DPR RI Dedi Mulyadi kembali murka. Kali ini, amarahnya dipicu oleh perilaku seorang anak di Kota Subang yang durhaka kepada ibu kandungnya.

Bagaimana tidak, sementara ibunya membanting tulang mencari nafkah si anak malah memalak ibu kandungnya untuk bisa mabuk dan asik-asikan bersama teman-temannya

Kejadian bermula saat Kang Dedi berkeliling pada malam hari di pusat Kota Subang. Di perjalanan, ia melihat seorang ibu berjualan aneka makanan ringan sambil duduk di trotoar. Saat didekati wanita paruh baya bernama Mak Iyeum (55) itu ternyata seorang disabilitas yang tidak bisa berjalan dengan normal, sehingga ia hanya bisa berdagang dengan duduk berdiam diri di pinggir trotoar.

"Dagang dari jam 5 (sore) nanti pulang jam 9 (malam)," ujar Mak Iyeum dalam keterangan tertulis, Kamis (7/7/2022).

Kepada Kang Dedi, Mak Iyeum mengatakan dalam satu kali berdagang ia harus membeli modal makanan ringan Rp 200 ribu. Nantinya, makanan tersebut ia jual Rp 10 ribu per bungkus.

"Biasanya habis 2-3 hari. Kalau hari ini baru laku 5 bungkus," katanya.

Mak Iyeum mengatakan awalnya ia tinggal di Desa Ciruluk, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang. Namun semenjak suaminya meninggal karena stroke ia pindah mengontrak rumah di pusat kota tepatnya di Kelurahan Sukamelang, Kecamatan Subang Kota, Kabupaten Subang bersama anak bungsunya.

Sementara rumah yang di Ciruluk ditempati oleh anak pertamanya yang sudah berkeluarga dan anak keduanya.

Mendengar hal tersebut Kang Dedi pun merasa heran mengapa Mak Iyeum tidak mengajak anak bungsunya untuk berjualan. Mak Iyeum lantas mengaku anaknya masih kecil berusia 13 tahun dan takut sakit jika keseringan diajak berjualan di jalan.

Akhirnya Kang Dedi Bersama Mak Iyeum pergi ke kontrakannya. Sesampainya di kontrakan, anak Mak Iyeum tidak ada, dan menurut warga anak Mak Iyeum tidak mau pulang karena melihat ibunya pulang bersama Kang Dedi.

Warga pun menceritakan tentang anak Mak Iyeum kepada Dedi. Menurut pengakuan mereka, anak Mak Iyeum ternyata sudah dewasa dan dikenal bandel oleh warga.

"Anaknya bandel suka mintain uang ke ibunya, kerja gak mau. Hasil dagang uangnya diambil untuk mabuk. Suka nyiksa ibunya," ucap seorang warga.

Tak lama setelah disusul oleh warga, anak Mak Iyeum pun tiba. Benar saja, anak bernama Pepen itu telah dewasa dan berusia 25 tahun. Bahkan, ia tiba dengan kondisi agak sempoyongan dan mulut bau minuman keras.

Mak Iyeum awalnya terus melindungi kelakuan anaknya. Ia bahkan menyangkal omongan warga yang mengatakan anaknya suka menyiksa jika tidak diberi uang untuk membeli minuman keras.

Setelah dibujuk, Mak Iyeum pun akhirnya mengakui segala perbuatan anaknya. Ia hanya bisa tertunduk lesu karena segala kelakuan anaknya.

"Emak gak usah terus ngelindungin. Kamu (Pepen) teh udah gede masa kamu tega ibu kamu sudah tua jalan sudah susah jualan di pinggir jalan nungguin dagangan habis kemudian uangnya dipakai mabuk oleh kamu," seru Dedi dengan nada tinggi.

Pepen lantas menyangkal hal tersebut. Ia mengaku tidak pernah meminta uang secara paksa. Bahkan, ia mengatakan uang yang selama ini didapat dari sang ibu ditabungkan di bank.

Namun saat ditanya bukti buku tabungan Pepen tak bisa menunjukkannya. Ia beralasan buku tabungan ditinggal di rumah di Ciruluk.

"Ah bohong. Kamu ini ibu baru jualan pulang gak bawa uang, kamunya bau minuman. Kamu harusnya mikir!," tegas Dedi murka.

"Harusnya kamu yang gantiin dagang. Kamu durhaka sama ibu. Ari maneh tega indung kieu? Naha indung susah maneh kalah senang-senang (Kamu tega ibu seperti ini? Kenapa ibu susah kamu malah senang-senang). Kenapa kamu gak usaha?" lanjut Dedi.

Pepen dengan enteng menjawab tidak ada lowongan. Ia menambahkan alasan tidak ikut berjualan karena mengikuti jejak kakak keduanya yang memiliki perilaku sama seperti dia.

"Ya saya belum siap pak. Kalau kakak saya sudah bener saya juga ikut bener," katanya.

Pepen yang hanya lulusan SD itu mengaku pernah ikut kerja sebagai kuli aduk di proyek dengan upah Rp 100 ribu per hari. Namun baginya uang tersebut tidak cukup karena ia ingin minimal bisa menabung Rp 50 ribu dalam satu hari.

"Maneh mah kedul weh. Hayang usaha gampang, duit loba. Sing sadar, Jang! (Itu kamunya saja malas. Pingin usaha gampang, uang banyak. Yang sadar, Jang!," bentak Dedi.

Kang Dedi menasehati Pepen agar bertobat dan mengubah kelakuannya. Ia meminta Pepen mencari pekerjaan dan menggantikan posisi ibunya untuk mencari rezeki.

"Sing karunya atuh. Era, era. Urang wae karunya ningali si emak, maneh nu dijurukeunna naha teu karunya. (Yang kasihan atuh. Malu, malu. Saya saja yang melihat si emak kasihan, kamu yang dilahirkannya kenapa enggak ada rasa kasihan)," ucapnya.

Simak juga 'KemenPPPA Harap SAPDA Berkontribusi Besar Dalam Penanganan Kekerasan':

[Gambas:Video 20detik]



Awalnya Dedi berniat memberikan bantuan modal usaha untuk Mak Iyeum. Namun niat tersebut diurungkan karena khawatir uangnya malah diambil Pepen untuk mabuk-mabukan.

Akhirnya, Dedi memutuskan akan memberikan bantuan modal dengan cara menemui pemilik toko tempat Mak Iyeum berbelanja. Nantinya uang modal akan dititipkan di toko sehingga Mak Iyeum tinggal mengambil dagangan.

"Jadi emak tinggal ambilin barang tidak usah bayar lagi. Sekarang (malam ini) saya beli saja semua dagangan yang ini, tapi awas ini uang jangan dibelikan ke anaknya," pungkas Dedi.

(ega/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT