ADVERTISEMENT

Kasus DBD di Jaksel Capai 884, Pondok Labu Tertinggi

Karin Nur Secha - detikNews
Selasa, 05 Jul 2022 12:50 WIB
ilustrasi DBD
Foto Ilustrasi DBD (Thinkstock)
Jakarta -

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan mencatat ada 884 kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jakarta Selatan (Selatan). Jumlah kasus tersebut merupakan data per 29 Juni 2022.

"(Ada) 884 kasus DBD, data sampai per 29 Juni 2022," kata Kasudin Kesehatan Jaksel Yudi Dimyati dalam keterangannya, Selasa (5/7/2022).

Yudi mengatakan terdapat tiga kelurahan di Jaksel dengan kasus DBD tertinggi. Tiga kecamatan itu adalah Pondok Labu, Jagakarsa, dan Petukangan Utara.

"Pondok Labu, Jagakarsa dan Petukangan Utara paling banyak. Pondok Labu 52 kasus, Jagakarsa 46 kasus, ketiga Petukangan Utara 39 kasus," katanya.

Kasus DBD di Jakpus

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat mencatat ada 377 kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jakarta Pusat (Jakpus). Jumlah kasus tersebut merupakan data per 15 Juni 2022.

"(Ada) 377 kasus DBD, meninggal nggak ada, (data) sampai per 15 Juni 2022," kata Kasudin Kesehatan Jakpus Rismasari dalam keterangannya, Sabtu (18/6/2022).

Risma mengatakan terdapat tiga kecamatan di Jakpus dengan kasus DBD tertinggi. Tiga kecamatan itu adalah Kemayoran, Johar Baru, dan Cempaka Putih.

"Kemayoran, Johar Baru, Cempaka Putih paling banyak. Kemayoran 114 kasus, Johar Baru 77 kasus, ketiga Cempaka Putih," katanya.

Risma mengatakan Kemayoran dan Johar Baru merupakan kawasan padat penduduk, sehingga memungkinkan kasus DBD berkembang lebih cepat. Dia menyebut DBD dapat dikendalikan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat.

"Kalau saya ya melihatnya gini. Johar Baru dan Kemayoran itu padat, wilayah padat. Kalau wilayah padat mungkin bukan kesadaran, pasti adalah yang punya kesadaran untuk membersihkan, tetapi belum semua. Justru kita yang harus mengubah perilaku warga, jangan buang sampah sembarangan, sama-sama bersih-bersih lingkungan, dan lain-lain," katanya.

"Karena ketika hanya di satu tempat saja contoh satu Kecamatan Johar Baru ada berapa RW. RW 1 aja rajin, RW 2 nggak rajin, dia (nyamuk) tetap berkembang biak, menyeberang ke RW lain, ya bisa. Jadi harus secara menyeluruh," sambungnya.

(ain/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT