ADVERTISEMENT

Menyesal Bergabung JI, Vonis Penggalang Kotak Amal Dana Teroris Disunat

Andi Saputra - detikNews
Senin, 04 Jul 2022 14:06 WIB
Gedung Pengadilan Tinggi Jakarta
Gedung PT Jakarta (ari saputra/detikcom)
Jakarta -

Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta menyunat hukuman Agung Mulyono dari 5 tahun penjara menjadi 4 tahun penjara. Alasannya, Agung Mulyono telah menyesal bergabung dengan organisasi terlarang Jamaah Islamiah (JI).

Hal itu tertuang dalam putusan PT Jakarta yang dilansir website-nya, Senin (4/7/2022). Disebutkan, Yayasan itu didirikan pasca-Bom Bali 2002. Yayasan itu didirikan di Islamic Center Bekasi. Salah satu kegiatannya mengelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS).

Sejak 2018, Yayasan ABA mulai menyebar kotak amal di berbagai titik yang sudah ditentukan. Yayasan ini juga menyebarkan permintaan donasi di berbagai sosial media dengan modus akan disalurkan ke korban bencana alam.

Di persidangan terungkap, pengumpulan dana mencapai Rp 4 miliar per tahun. Uang masyarakat itu kemudian untuk:

1. Operasional Jamaah Islamiah (JI).
2. Gaji pengurus Jamaah Islamiah (JI).
3. Bantuan ke keluarga Jamaah Islamiah (JI) yang ditangkap polisi, seperti kebutuhan pokok dan pendidikan.
4. Biaya bantuan hukum ke anggota JI.

Selain untuk pendanaan organisasi teroris, uang itu untuk program magang anggotanya. Belakangan, Agung Mulyono ditangkap Densus 88 Polri dan diproses secara hukum hingga pengadilan.

Pada 21 April 2022, PN Jaktim menyatakan Agung Mulyono telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan 'Tindak Pidana Terorisme Dan Tidak Pidana Pendanaan Terorisme. PN Jaktim lalu menjatuhkan pidana kepada Terdakwa tersebut di atas, oleh karena itu, dengan pidana penjara selama 5 tahun dan denda sebesar Rp 100 juta dengan ketentuan jika pidana denda tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 4 bulan.

Agung Mulyono tidak terima dan mengajukan banding. Gayung bersambut. Vonis Agung Mulyono disunat.

"Menyatakan Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan 'Tindak Pidana Terorisme Dan Tidak Pidana Pendanaan Terorisme'. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa tersebut di atas, oleh karena itu dengan pidana penjara selama 4 tahun dan denda sebesar Rp 100 juta dengan ketentuan jika pidana denda tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 4 bulan," kata ketua majelis Singgih Budi Prakoso dengan anggota Edwarman dan Muhamad Yusuf.

Apa alasan majelis tinggi menyunat hukuman Agung Mulyono? Berikut alasannya:

1. Hal yang paling utama adalah Terdakwa belum pernah dihukum , hal ini bagi Majelis Hakim Tinggi merupakan hal yang dominan karena berkaitan dengan ajaran pemidanaan kita yakni untuk mendidik agar terdakwa menyadari serta memahami dengan harapan agar Terdakwa menjadi lebih baik di kemudian hari. Dengan catatan apabila terjadi pengulangan maka akan menjadi pemberat di kemudian hari.

2. Bahwa lamanya pidana juga dikaitkan dengan pembelaan tertulis dari Terdakwa dengan tulisan tangan sendiri tertanggal 24 Maret 2022 pada halaman 12 Romawi IV yang menyatakan bahwa Terdakwa menegaskan kembali penyesalan nya karena telah beraktifitas di Jamaah Islamiyah yang telah dinyatakan sebagai organisasi terlarang dan Terdakwa berjanji tidak akan pernah aktif lagi di organisasi Jemaah Islamiah untuk selama lamanya. Pembelaan ini belum disinggung dan dipertimbangkan pada putusan tingkat pertama.

3. Bahwa Terdakwa juga telah menandatangani Surat Pernyataan Setia Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan bermeterai dan tanggal tidak begitu jelas sebagaimana terlampir dalam berkas perkara. Di mana surat ini juga belum disinggung dalam putusan tingkat pertama.

Lihat juga video 'Penculik 12 Anak Klarifikasi soal Eks Teroris dan Murid Bahar':

[Gambas:Video 20detik]



(asp/zap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT