ADVERTISEMENT

Ahli Nilai Nikah Beda Agama Tak Bisa Dihindari di Negara Majemuk

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 29 Jun 2022 12:01 WIB
Ilustrasi pernikahan beda agama.
Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Psikolog Dr Risa Permanadeli menyatakan pernikahan beda agama tidak bisa dihindari di negara majemuk seperti di Indonesia. Oleh sebab itu, Risa menilai sudah saatnya negara membuka peluang untuk membolehkan pernikahan beda agama.

"Apa artinya menjadi bangsa yang heterogen dan majemuk? Artinya setiap warga negara, setiap orang dalam perjalanan menempuh kehidupan di negara ini akan selalu memiliki kemungkinan dan peluang untuk bertemu dengan orang lain yang berbeda sekali, entah ras, entah suku, entah bahasa, entah tradisi, entah kepercayaan, entah agama atau mungkin hal yang sangat sepele seperti selera, apalagi dengan kehidupan modern di mana semua elemen bertemu seperti arus globalisasi misalnya," kata Risa yang dikutip dari Risalah Sidang MK, Rabu (29/6/2022).

Risa menyatakan, seluruh perbedaan tersebut akan saling mengasah, saling merumuskan pertemuan sehingga bentuk perubahan menuju kemajuan sebagai identitas kolektif yang bersama terjadi.

"Artinya, kita tidak akan pernah bisa mengendalikan percampuran atau kemungkinan percampuran tersebut dan menghentikan arus perubahan sekaligus arus yang paling dasar dari watak kita sebagai bangsa yang majemuk menjadi sebuah ketidakmungkinan. Kecuali kita mengingkari kemajemukan tersebut dan menghentikan arus pertemuan menuju perubahan," ujar Risa.

Melarang pernikahan beda agama sebagaimana tertuang dalam UU Perkawinan, menurut Risa, secara tidak sadar mempraktikkan kembali politik segregasi. Yang secara sadar dan menciptakan prasangka dari setiap keadaan yang berbeda untuk dan atas nama hegenomi kelompok saya atau kelompok lain, atau kelompok tertentu.

"Kalau kita secara sepakat bersama‐sama menerima pilihan tersebut, maka kita sedang menyusun sebuah ingatan kolektif tentang bangsa Indonesia yang memilih untuk saling menutup, saling menolak, dan membangun prasangka kelompok, "Saya adalah yang terbaik sementara kelompok lain itu tidak sebaik atau tidak setinggi kualitasnya seperti kelompok saya," sehingga menghindari kemungkinan untuk bersanding dan berjalan bersama membangun keluarga, apalagi membangun sebuah bangsa," beber Risa.

Risa memberikan sontohnya seperti kos‐kosan yang hanya menerima calon penghuni berdasarkan SARA. Secara terang‐terangan memasang plang khusus muslim atau khusus nasrani. Atau juga rumah sakit juga banyak sekali.

"Agama juga harus memberi kita peralatan moral dan spiritual untuk membuat kita lebih waspada pada arah perubahan tersebut. Dan dalam konteks bangsa Indonesia yang rentan terhadap segregasi yang kemungkinan merebaknya prasangka, agama harus bersifat dinamis yang merepresentasikan kecerdasan bersama bangsa ini untuk setiap saat berani melihat ulang kenyataan empiris, kemajuan, kemajemukan yang selalu berubah mengikuti zaman agar pengertian kemajemukan itu sendiri tidak kita ingkari dan tetap kita jadikan modal utama bersama untuk bergerak sebagai sebuah bangsa," urai Risa.

Atas alasan di atas, Risa meminta MK mengabulkan permohonan pemohon dengan membolehkan pernikahan beda agama.

"Saya mohon kesediaan kepada majelis hakim, agar mengabulkan Pemohon untuk dan atas nama ingatan yang sedang kita susun bersama sebagai bangsa yang telah memutuskan untuk berdaulat, untuk melindungi hak dan kewajiban setiap warga negara yang hidup yang harus hidup di dalam perbedaan untuk satu tujuan bersama menjadi Indonesia," demikian kesimpulan Risa.

Sebagaimana diketahui, Ramos Petege adalah warga Mapia Tengah, Dogiyai, Papua. Ia mengaku gagal menikahi kekasihnya yang muslim karena terhambat UU Perkawinan.

"Pemohon adalah warga negara perseorangan yang memeluk agama Katolik yang hendak melangsungkan perkawinan dengan seorang wanita yang memeluk agama Islam. Akan tetapi, setelah menjalin hubungan selama 3 tahun dan hendak melangsungkan perkawinan, perkawinan tersebut haruslah dibatalkan karena kedua belah pihak memiliki agama dan keyakinan yang berbeda," demikian bunyi permohonan Ramos Petage.

Kasus ini masih diadili oleh MK dan persidangan masih bergulir.

Simak Video 'PN Surabaya Sahkan Nikah Beda Agama, Ma'ruf Amin: Tidak Boleh':

[Gambas:Video 20detik]



(asp/rdp)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT