ADVERTISEMENT

Kisah Hendra 'Ayah Sejuta Anak', Tampung Nyawa 55 Bayi yang 'Terbuang'

Nada Celesta - detikNews
Minggu, 26 Jun 2022 06:52 WIB
Jakarta -

Suhendra adalah pria biasa dari Lampung yang merantau ke Jakarta pada tahun 2009. Kini ia dikenal sebagai 'Ayah Sejuta Anak', penyelamat sekurang-kurangnya nyawa 55 bayi yang hampir ditelantarkan.

Batin Hendra terusik. Banyaknya kasus pembuangan bayi hasil aborsi yang ia temui, mendorongnya untuk membuat aksi. Ia bertekad untuk mencegah agar masalah serupa tidak terus bertambah.

"Waktu itu saya menyaksikan sendiri ya, anak dibuang, meninggal dunia. Nah dari situ, kenapa sampai dia dibuang? Kenapa sampai meninggal dunia? Dan yang rata-rata ibu hamil lakukan ketika dia punya anak, dia buang, dia sangkanya masalahnya selesai, ternyata tidak," tutur Hendra saat ditemui tim detikcom untuk program Sosok (26/6/22).

Hal pertama yang dilakukannya adalah menyulap rumah pribadinya menjadi shelter. Di dalamnya, Hendra akan menyiapkan kebutuhan persiapan hingga pasca-persalinan. Dalam hal ini Hendra memahami, keputusasaan dan tekanan situasi adalah faktor utama penyebab para ibu tega membuang anaknya. Maka, bukan hanya raga yang ia jaga, melainkan jiwa para ibu muda yang merasa terbebani dengan kondisi yang mereka alami.

Bagaikan fenomena gunung es, Hendra menyadari bahwa di luar jangkauannya, kasus pembuangan bayi masih banyak terjadi. Maka, Beberapa tahun terakhir, Hendra mulai menggunakan media sosial untuk mendokumentasikan kegiatan yang telah ia lakukan.

Tujuannya, tidak lain untuk mengajak orang lain berperan serta menjangkau lebih banyak lagi para ibu yang kehilangan harapan.

Kini, di rumah Hendra banyak ditemui ibu hamil yang akan melahirkan bayi-bayi mereka. Urusan biaya, Hendra menanggung semuanya. Ia mengaku, tidak hanya berhenti pada ongkos pemeriksaan kehamilan saja. Asalkan masih dengan proses persalinan normal, semua kebutuhan administrasi sanggup ia tangani.

"Kalau untuk para ibu yang tinggal disini, itu mereka yang memang benar-benar sudah tidak bisa kerja, karena tadi udah hamil tua. Ada yang takut ketahuan keluarga, mengharuskan mereka tidak ada tempat untuk bernaung lagi. Maka saya menampung mereka untuk tinggal sementara di tempat saya sampai mereka melahirkan," jelas Hendra.

Memahami bahwa ini bukanlah kelahiran yang diinginkan, Hendra dan calon ibu sepakat bahwa saat sang bayi lahir, insan-insan baru itu akan menjadi tanggung jawab pihak panti asuhan milik kerabat Hendra. Sementara itu, sang ibu bisa pulang dan kembali menjalani aktivitasnya sehari-hari.

Aksi sosial Hendra tak selalu berjalan lancar. Ada kalanya, kegigihannya membantu sesama harus ia bayar dengan waktu dan biaya yang besar. Tidak jarang, Hendra mempertaruhkan kesehatannya karena kurang tidur saat mengurus proses kelahiran yang terjadi dalam waktu berdekatan.

Dibandingkan pujian, celaan dan tanggapan miring dari masyarakat lebih banyak ia dapatkan. Orang-orang yang kecewa karena tidak mendapatkan uluran tangan Hendra, menudingnya dengan berbagai macam ujaran kebencian. Tidak jarang, Hendra dianggap hanya membentuk citra lewat lini masa.

"Saya ini bukan orang kaya, tapi saya orang yang peduli. Kalau misalkan dia 'Saya mau lahiran nih, minta uang lahiran, anak saya yang ngasuh,' berarti yang dia butuhin itu biaya kita, kalau untuk masalah biaya kita tidak bisa bantu. Tapi kalau untuk pertolongan, dalam artian dia tidak punya siapa-siapa, anak pun bingung mau dibuang ke mana, nah itu kita ranahnya disitu," tutup Hendra.

(nad/fuf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT