ADVERTISEMENT

Kejati Banten Jelaskan Syarat Setop Kasus Pakai Restorative Justice

M Iqbal - detikNews
Kamis, 23 Jun 2022 16:17 WIB
Kepala Kejaksaan Tinggi Banten, Leonard Eben Ezer Simanjuntak (M Iqbal-detikcom)
Kepala Kejaksaan Tinggi Banten, Leonard Eben Ezer Simanjuntak (M Iqbal/detikcom)
Cilegon -

Kepala Kejaksaan Tinggi Banten Leonard Eben Ezer Simanjuntak mengatakan ada 12 kasus pidana yang dituntaskan lewat restorative justice. Jumlah ini, katanya, masih kecil jika dibanding provinsi lain di Indonesia.

"Untuk Kejati Banten tahun 2021-2022 itu sudah terdapat sebelas perkara pembuktian RJ (restorative justice). Kalau kita lihat provinsi lain, Banten termasuk kecil. Artinya, kita lihat semua pidana dibawa ke pengadilan. Cilegon baru dua perkara yang dihentikan berdasarkan keadilan restorative justice," kata Leonard di Cilegon, Kamis (23/6/2022).

Dia mengatakan penyelesaian tindak pidana melalui restorative justice dilakukan jika syarat-syarat terpenuhi. Antara lain korban memaafkan, ancaman penjaranya tidak lebih dari 5 tahun dan pelakunya bukan residivis.

"Syarat tindak pidana tidak lebih dari 5 tahun, kita upayakan untuk RJ. Kedua, kejahatan ini tidak merugikan korban tidak lebih dari kerugiannya Rp 2,5 juta. Kami instruksi tidak hanya berpatokan Rp 2,5 juta, tapi ada syarat lagi pelaku kejahatan tidak boleh residivis atau buka. Pelaku pidana sebelumnya," ujarnya.

Dia mengatakan restorative justice merupakan terobosan agar penjara tak penuh dengan kasus pidana ringan. Dia mengatakan tak semua kasus harus dibawa hingga ke pengadilan.

"RJ adalah terobosan yang saat ini sudah lama ada, ini budaya yang harus kita kembali ke masa nenek moyang kita, semua permasalahan tidak ujung-ujung ke pengadilan. Kita selalu musyawarah dan mufakat. Semua permasalahan konflik-konflik hukum ada di masyarakat, tidak semua dibawa ke pengadilan," katanya.

"Ketika tersangka dimaafkan oleh korban dan kita lakukan penghentian RJ. Kan kita harus kembalikan tersangka ke masyarakat, kalau kita tidak hadirkan tokoh masyarakat nanti tersangka ini dianggap penjahat," sambungnya.

Lihat juga video 'Jaksa Agung Sebut Restorative Justice Baru Menyasar Masyarakat Kecil':

[Gambas:Video 20detik]



(haf/haf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT