ADVERTISEMENT

Jaksa-Pengacara Edy Mulyadi Cekcok, Hakim: Masih Percaya Majelis Nggak!

Zunita Putri - detikNews
Selasa, 21 Jun 2022 18:16 WIB
Edy Mulyadi memenuhi panggilan polisi untuk diperiksa sebagai saksi di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Senin (31/1/2022).
Edy Mulyadi (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Sidang lanjutan kasus tempat 'jin buang anak' terdakwa Edy Mulyadi sempat terjadi adu mulut antara tim jaksa penuntut umum dan tim pengacara. Hakim ketua Adeng Abdul Kohar pun sampai mengetuk palu sampai tiga kali.

Sidang digelar di PN Jakpus, Jalan Bungur Besar Raya, Jakpus, Selasa (21/6/2022), dengan saksi salah satu pelapor Kabid Kepemudaan Kemahasiswaan SEMMI, Hengky Primana. Adu mulut terjadi ketika jaksa bertanya ke saksi terkait pertanyaan di berita acara pemeriksaan (BAP), saat itu jaksa menanyakan tentang BAP yang isinya pernyataan Edy Mulyadi dalam video tolak ibu kota negara (IKN).

Pengacara merasa keberatan dengan pertanyaan jaksa yang dinilai terkesan menggiring.

"Yang bangun perumahan siapa? Pengembang dari Purwokerto? Dari China, Bos, saudara bilang di BAP itu pemberitaan tak layak. Kenapa saudara bilang gitu?" tanya jaksa ke Hengky.

"Majelis, kami keberatan bertanya aja jangan pemberitaan tidak layak, bohong..," timpal salah satu pengacara Edy.

"Mohon pengertiannya, saudara tadi sudah menggiring saksi kami, sampai ke SEMA," kata jaksa.

Saat terjadi adu mulut itu, hakim pun mengetuk palu sekali. Namun ketukan palu ini tidak dipedulikan kedua belah pihak.

Tim jaksa dan pengacara tetap saling mempertahankan argumennya. Hingga hakim ketua Adeng mengetuk palu kedua kalinya, dan reaksi mereka masih sama.

Akhirnya hakim ketua Adeng mengetuk palu ketiga kali dengan suara yang keras. Lebih keras dibanding ketukan palu kedua dan pertama barulah tim jaksa dan pengacara diam.

"Masih percaya majelis nggak?! Saya kira sudah biasa bersidang ya. Emosinya turunkan, kalau nggak bisa dilanjut saya tutup sidang, saya lanjut Kamis, masih bisa dilanjutkan?" ucap hakim ketua Adeng.

"Lanjutkan Yang Mulia," kata jaksa.

Hakim pun meminta saksi dan jaksa mengerti jalannya sidang. Hakim meminta saksi tidak berkata bohong karena sudah disumpah.

"Ini sekali lagi tolong emang jangan dituntun, kalau dia lihat dengar sendiri, dia pasti katakan. Dia sudah katakan fokusnya dia hanya soal 'jin buang anak'. Tapi ketika Saudara (jaksa) bacakan, seolah-olah saudara juga melihat, mendengar," ucap hakim Adeng.

"Saudara (saksi) jangan bikin sidang ini bingung. Kalau emang fokusnya ke jin buang anak. Jaksa juga jangan bacakan, 'selain jin buang anak, apa lagi yang dipermasalahkan' gitu Pak nanyanya. Jangan dituntun, saya yakin kalau dia tidak bohong itu akan mudah," tambah hakim Adeng.

Sidang akhirnya dilanjut dan jaksa mengubah gaya pertanyaannya. Hakim mengingatkan agar jaksa tidak menuntun saksi.

Edy Mulyadi: Tempat Jin Buang Anak Cuma Frasa, Mestinya Tak Dilaporkan

Dalam sidang sebelumnya, terdakwa Edy Mulyadi keberatan dengan pernyataan saksi pelapor Ketum Nasional Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (Semmi), Bintang Wahyu Saputra. Edy mempertanyakan kesaksian Bintang.

Awalnya, hakim ketua menanyakan alasan Bintang melaporkan pernyataan Edy Mulyadi terkait Ibu Kota Negara (IKN) ke polisi. Bintang mengungkapkan alasannya melaporkan pernyataan Edy karena ada desakan dari Semmi Kalimantan yang meminta Bintang bersikap.

Selain itu, Bintang menilai pernyataan Edy yang menyebut 'Kalimantan tempat jin buang anak' berpotensi memecah belah persatuan Indonesia.

"Di bagian mana yang menurut Saudara (pernyataan Edy Mulyadi) yang dianggap berpotensi memecah belah?" tanya hakim ketua dalam sidang di PN Jakpus, Selasa (21/6).

"Saya titik beratkan di bagian yang Bang Edy menyebut tempat jin buang anak," jawab Bintang.

Kemudian hakim pun bertanya apakah Bintang tidak pernah mendengar istilah 'tempat jin buang anak'. Bintang mengaku pernah mendengar istilah itu.

"Setahu saudara apa itu tempatnya? Gimana istilah tempat jin buang anak?" tanya hakim lagi.

Bintang pun mengatakan arti tempat jin buang anak yang kerap dibicarakan beberapa orang adalah tempat kosong yang dihuni makhluk halus.

"Tempat jin buang anak itu tidak ada tempat tinggal penduduk, itu cuma hutan belantara yang isinya makhluk halus, itu setahu saya," jawab Bintang.

Edy Mulyadi yang duduk di kursi terdakwa pun mempertanyakan alasan Bintang melapor. Edy menilai Bintang tidak sepatutnya melaporkan dia ke polisi, sebab Bintang mengetahui pernyataan 'tempat jin buang anak' adalah frasa.

"Saya menolak semua keterangan yang bersangkutan, keterangan saksi termasuk soal tuduhan saya berpotensi menimbulkan keonaran dan sebagainya. Terlebih lagi ternyata dalam pengakuannya saudara saksi mengakui bahwa tempat jin buang anak sebagai sebuah frasa, itu bukan pengertian yang hakiki," kata Edy di kursi terdakwa.

"Jadi semestinya yang bersangkutan mengetahui, semestinya juga tidak melaporkan," tambah Edy.

Dakwaan Edy Mulyadi

Dalam sidang ini, Edy Mulyadi duduk sebagai terdakwa. Dia didakwa membuat keonaran di kalangan masyarakat karena kalimat 'tempat jin buang anak' saat konferensi pers KPAU (LSM Koalisi Persaudaraan & Advokasi Umat).

Jaksa mengatakan Edy Mulyadi memiliki akun YouTube dan kerap mengunggah video yang berisi opini atau pendapat pribadi pada 2021 di kanal YouTube yang menimbulkan pro dan kontra. Adapun dari kanal YouTube Edy Mulyadi, jaksa menyebut ada beberapa konten yang menyiarkan berita bohong dan menimbulkan keonaran.

Salah satunya konten yang berjudul 'Tolak Pemindahan Ibu Kota Negara Proyek Oligarki Merampok Uang Rakyat'. Dalam video ini, ada pernyataan Edy menyebut 'tempat jin buang anak'. Pernyataan dalam video itu dinilai membuat keonaran di kalangan masyarakat.

Simak Video: Sidang Kasus "Jin Buang Anak", Saksi Ungkap Alasan Laporkan Edy Mulyadi

[Gambas:Video 20detik]



(zap/dhn)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT