ADVERTISEMENT

Rerie Sebut Pendidikan Bisa Tingkatkan Peran Perempuan di Ranah Publik

Hanifah Widyas - detikNews
Minggu, 19 Jun 2022 20:27 WIB
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat saat mengikuti Sosialisasi Empat Pilar MPR dengan tema ‘Reinvensi Keindonesiaan Kita, Kepemimpinan Keindonesiaan dan Patriotisme dalam Indonesia Pascapandemi’ di Gedung Nusantara IV, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, di Senayan, Jakarta (11/6).
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai perempuan harus mampu lebih banyak berperan dalam mewujudkan kebijakan politik dan keluar dari stereotip yang mengukung mereka hingga saat ini. Dorongan peningkatan kontribusi perempuan di ruang-ruang publik harus konsisten dilakukan.

"Selama ini perempuan selalu dicitrakan harus menjadi manusia yang sempurna. Untuk meningkatkan perannya dalam setiap kebijakan publik, perempuan harus berani untuk menjadi tidak sempurna dengan memecahkan tembok kaca stereotype yang mengungkungnya," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangannya, Minggu (19/6/2022).

Saat menjadi pembicara kunci dalam webinar bertema Diaspora Global Aceh Revisiting Pahlawan Perempuan Aceh Dalam Kepemimpinan Perempuan yang diadakan pada Sabtu (18/6), Lestari berpendapat tantangan besar kaum perempuan agar keterlibatannya di ruang publik bisa meningkat adalah berkorban untuk menjadi manusia yang tidak sempurna dan keluar dari stereotip yang mengurung mereka selama ini.

Rerie, sapaan akrab Lestari, mengatakan perjuangan perempuan Aceh untuk berkiprah di ruang public seharusnya bisa lebih baik. Hal ini disebabkan karena peran perempuan Aceh yang sangat mengemuka di masa lalu.

Rerie menambahkan perempuan telah menjadi bagian dari perjuangan bangsa Indonesia jika dilihat berdasarkan catatan sejarah Nusantara. Khususnya perempuan Aceh yang memiliki kedaulatan dalam kerajaan Islam antara tahun 1641-1699. Diketahui Aceh juga memiliki banyak pahlawan perempuan, antara lain Laksamana Malahayati (1550-1615), Tjut Nyak Dien (1848-1908), dan Cut Nyak Meutia (1870-1910).

Namun, Rerie menegaskan perempuan di Indonesia masih berjuang untuk mewujudkan peningkatan keterwakilannya di parlemen menjadi 30% saat ini. Indonesia sendiri menduduki peringkat ke-7 se-Asia Tenggara untuk keterwakilan perempuan di parlemen berdasarkan data World Bank (2019).

Rerie mengakui partisipasi perempuan Indonesia dalam parlemen masih terbilang rendah jika melihat data tersebut. Oleh karena itu, berbagai upaya untuk mendorong perempuan agar mampu keluar dari stereotip yang mengukungnya selama ini harus terus diusahakan

Menurut Rerie harus ada kekonsistenan dan perlakuan yang masif dari sisi pendidikan serta pengetahuan agar mampu membuka cakrawala berpikir para perempuan dan masyarakat. Selain itu, upaya tersebut mampu menciptakan kemandirian yang sangat berguna untuk meningkatkan peran perempuan di ruang-ruang publik.

(ega/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT