ADVERTISEMENT

Mendagri Ungkap Temuan soal Mark Up Peralatan Pendidikan di Daerah

Anggi Muliawati - detikNews
Kamis, 16 Jun 2022 20:26 WIB
Tito Karnavian
Mendagri Tito Karnavian. (Dok. Kemendagri)
Jakarta -

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkap temuan perihal penggunaan anggaran pendidikan oleh pemerintah daerah. Tito mengaku menemukan adanya mark up atau penggelembungan harga peralatan pendidikan.

"Rekan-rekan fokus pada dua program utama, pendidikan, kesehatan. Maka pendidikan anggarannya 20 persen, kesehatan anggarannya 10 persen minimal, 20 persen minimal, itu sudah didengungkan dan disampaikan berkali-kali," kata Tito di Kantor Kemendagri, Kamis (16/6/2022).

Tito mengatakan anggaran perencanaan yang dibuat dengan kenyataan di lapangan cukup berbeda. Dia menyebut banyak peralatan-peralatan yang telah dibeli tapi tidak terpakai.

"Di lapangan apa yang terjadi? Yang saya temukan, di lapangan betul dianggarkan, ada yang 25 persen, pendidikan 15 persen, tapi ujung-ujungnya beli peralatan-peralatan yang ujungnya hanya untuk di-mark-up, nggak kepake," katanya.

"Apa, adanya di dalam gudang, belum kompatibel atau cocok dipakai di daerah itu tapi dibeli, tujuannya hanya untuk itu, tadi buat proyek aja, ujung-ujungnya di-mark-up, duitnya diambil," sambungnya.

Tito mengingatkan para penjabat kepala daerah untuk lebih memperhatikan pendidikan dan kesehatan di Indonesia. Menurutnya, masih ada anak-anak yang tidak memiliki akses sekolah dan banyak anak yang mengalami masalah kesehatan yakni stunting.

"Kalau ditanya, 'sudah 20 persen?' Betul, '15 persen, Pak, lebih dari 10', fine. Tapi ternyata tetap saja banyak yang kualitas pendidikannya kurang, anak-anak mudanya tidak memiliki akses sekolah, kesehatan juga, sama stunting, kekurangan gizi, karena 1.000 hari masa pertumbuhan itu kurang gizi, sembilan bulan di dalam perut, dua tahun di luar perut," katanya.

Tito meminta pj kepala daerah mengatur sebaik mungkin anggaran pendidikan yang ada. Hal itu agar permasalahan pendidikan yang ada dapat teratasi dan sesuai sasaran.

"Oleh karena itu, tolong dipelototin betul mata anggaran pendidikan agar program itu, uang yang dialokasikan untuk pendidikan, betul-betul tepat sasaran untuk menyelesaikan masalah pendidikan di daerah itu, terutama akses pendidikan," katanya.

Tito mengatakan, pada saat kunjungannya ke Papua, dia menyebut ada sebuah daerah yang menggratiskan biaya sekolah. Kemudian di bidang kesehatan, jika masyarakat tidak mampu maka akan dirujuk oleh APBD. Tito meminta pj kepala daerah dapat mencontoh hal tersebut.

"Ada beberapa daerah saya tahu, seperti Bintuni waktu saya di Papua, gratis sampai SMA. Terus berobat semua gratis, dibikin RS, kelas internasional. Kalau dia nggak mampu di situ, dirujuk keluar, dibiayai oleh APBD dari bidang kesehatan. Itu top itu," kata Tito.

"Kalau rekan-rekan bisa buat itu, top. Betul-betul membanggakan dan pasti nama rekan-rekan akan harum dikenang oleh rakyatnya," imbuh dia.

(zak/zak)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT